alexametrics


Manfaatkan Lahan Brandgang, Sudah Dua Kali Panen

Melongok Urban Farming di Lapas Wanita Bulu Semarang

Rekomendasi

RADARSEMARANG.ID – Pertanian perkotaan (urban farming) dilakukan warga binaan pemasyarakatan (WBP) Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Semarang. Mereka menanam aneka buah dan sayur di lahan terbatas.

Lahan sempit bukan menjadi penghalang bagi penghuni Lapas Perempuan Kelas II A Semarang atau Lapas Wanita Bulu untuk bercocok tanam. Justru urban farming ini dimanfaatkan untuk menjadi lumbung pangan.

Lahan brandgang di lapas ini memang tidak terpakai. Meski hanya memiliki lebar 3 meter, namun cukup untuk ditanami berbagai macam buah dan sayur. Tidak perlu luas, lahan bertani ini bisa berubah posisi memanjang mengelilingi bangunan lapas. Setiap lahan memiliki ukuran 10 meter x 3 meter.

Dalam masa percobaan ini, petugas lapas dan warga binaan yang tergabung dalam pembinaan kemandirian bertani sedang melihat potensi tanah. Ini untuk mengetahui tanaman yang cocok di lahan tersebut. Sebab, menanam di lahan perkotaan tidak semudah di pedesaan. Kondisi tanah serta cuaca yang panas tentu menjadi kendala tersendiri.

Berbagai bibit sayur dan buah coba ditanam. Ada pakcoy, Chaya (pepaya Jepang), tomat, dan terong. Juga buah pisang, pepaya california, dan timun suri.

“Selama ini masih mengalir karena belum tahu tanaman apa yang cocok dengan kondisi tanah, sementara ini masih tanam-rawat-panen,” ujar Kalapas Wanita Bulu Kristiana Hambawani kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Kali ini, kata Kristiana, ia mendampingi warga binaan panen. Ada tomat, cabai, dan pakcoy. Mereka tampak sudah terampil. Dengan berlapis sarung tangan, mereka mencabut pakcoy dari polybag.

Adapula yang memilah tomat, memetik yang matang berwarna oranye kemerahan, dan dikumpulkan dalam keranjang. Sementara warga binaan lain memetik cabai yang diletakkan dalam ember.

“Ini kali kedua dalam waktu tiga bulan terakhir kami menikmati hasil panen,” katanya.

Kristiana menjelaskan, dalam pengelolaannya, pihaknya menggunakan sistem organik sebagai pengganti pestisida. Ia memakai micin sebagai pengusir hama.

Bisa ditaburkan ataupun dilarutkan dalam air untuk disemprotkan ke tanaman. “Hasilnya lebih subur, dan tidak dimakan hama. Jadi, kalau panen bisa langsung dimakan,” jelasnya.

Untuk penyiramannya sendiri dilakukan pagi dan sore hari. Kendati demikian, tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang. Hanya sepuluh orang warga binaan beserta petugas saja yang diizinkan.

Hal ini sebagai langkah untuk mengantisipasi narapidana kabur melalui brandgang. “Karena rawan kabur, jadi setiap kegiatan selalu didampingi petugas,” katanya.

Kristiana menambahkan, saat ini hasil panen baru bisa dinikmati warga lapas. Biasanya dipakai untuk makan sehari-hari sebagai stok bahan dapur. Namun, ke depan pihaknya akan terus mengembangkan pembinaan ini agar bisa dipasarkan ke luar.

Tak hanya itu saja, ia juga akan menggandeng pihak ketiga serta Dinas Pertanian untuk memberikan pelatihan, pengetahuan, dan suplai bibit tanaman.

Di sisi lain, tambah kalapas, kegiatan pertanian ini merupakan salah satu sarana edukasi dan asimilasi bagi warga binaan. Tujuannya, untuk pembinaan kemandirian di bidang pertanian. Sehingga ilmu pertanian yang didapatkan bisa menjadi bekal warga binaan setelah menjalani masa tahanannya.

“Semua ini untuk pembelajaran, untuk pembinaan. Tujuannya nanti ketika warga binaan kami sudah bebas punya bekal ilmu bagaimana cara mengolah lahan untuk dijadikan lahan pertanian,” tutur Kristiana.

Salah satu warga binaan, Maya, mengaku senang bisa mengikuti pelatihan ini. Meski ada berbagai pembinaan kemandirian seperti menjahit, membatik, bakery, bordir, barista, dan lain-lain, namun ia lebih tertarik untuk mendalami bidang pertanian. “Pelatihan pertanian ini bisa sebagai bekal ketika bebas nanti,” ucapnya. (ifa/aro)

Artikel Menarik Lainnya

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya