alexametrics


Punya Channel YouTube, Selama Pandemi Jadi Tempat PJJ

Mengunjungi Perpustakaan Sahwahita, Desa Butuh, Sawangan, Kabupaten Magelang

Rekomendasi

RADARSEMARANG.ID, Perpustakaan Sahwahita Desa Butuh, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang beda. Tak hanya mendukung gerakan literasi warga desa. Tapi, di perpustakaan ini juga digelar berbagai pelatihan maupun pemasaran produk UMKM warga setempat. Sejak pandemi, juga menjadi tempat pembelajaran jarak jauh (PJJ) anak-anak karena menyediakan fasilitas Wi-Fi.

RIRI RAHAYU, Mungkid, Radar Semarang

PADA 2017, Desa Butuh, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, hanya memiliki pojok baca desa. Setahun kemudian, tim penggerak PKK desa membuat pojok baca sendiri. Pada 2019, pojok baca desa dan pojok baca PKK berkolaborasi.

Saat itu, tidak langsung menjadi perpustakaan. Melainkan masih di bawah naungan komunitas. Namanya Komunitas Perempuan Sahwahita. Di tahun yang sama, Pemdes Butuh memberikan anggaran untuk membuat perpustakaan desa.

“Tahun 2020 gedungnya baru jadi. Tanggal 14 Desember Perpustakaan Sahwahita diresmikan,” ujar Kepala Perpustakaan Sahwahita Ummu Salafi Aisia kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Kini, Perpustakaan Sahwahita menempati sebuah ruangan di lantai dua kompleks Balai Desa Butuh. Di ruangan berukuran kurang lebih 10 meter x 6 meter itu, lebih dari seribu buku terpajang rapi. Jenisnya beragam.

Mulai dari buku anak-anak, sastra, geografi, sejarah, agama, hingga buku filsafat. Semua sudah diklasifikasi dalam rak-rak.

“Sumber bukunya ada yang dari Perpusnas, donasi, dan swadaya,” kata Ummu.

Saban dua minggu sekali, buku-buku dicek. Dipisahkan dan dibersihkan jika ada yang berjamur. Selain buku, Perpustakaan Sahwahita memiliki fasilitas pendukung lain. Di antaranya, dua unit komputer dan satu unit televisi.

Perpustakaan ini buka saban Senin-Kamis dan Sabtu-Minggu mulai pukul 10.00 hingga 16.00.

“Senin-Kamis kalau pagi yang jaga juga dari perangka desa,” ujar perempuan yang juga menjadi guru di TK Pertiwi Butuh ini.

“Sedangkan Sabtu-Minggu yang jaga anak-anak remaja sini,” imbuhnya.

Untuk mendekatkan diri dengan masyarakat, Perpustakaan Sahwahita sering dijadikan tempat berkegiatan untuk anak-anak. Seperti menjadi tempat melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) karena menyediakan fasilitas Wi-Fi. Tak jarang, perpustakaan ini digunakan untuk kegiatan posyandu.

Dalam perjalanannya, Perpustakaan Sahwahita tidak hanya memfasilitasi masyarakat Desa Butuh dari sisi kebutuhan membaca. Perpustakaan ini memiliki beragam kegiatan untuk membantu pengembangan masyarakat.

Baik pengembangan SDM maupun pengembangan ekonomi. “Karena sesuai program transformasi perpustakaan sosial perpustakaan berbasis inklusi sosial, perpustakaan bukan hanya menjadi tempat untuk membaca. Tapi menjadi pusat kegiatan masyarakat,” tutur Ummu.

Ihwal pengembangan ekonomi, Perpustakaan Sahwahita bersinergi dengan Tim Penggerak PKK Desa Butuh untuk membantu pelatihan maupun pemasaran produk UMKM warga setempat. Kebetulan, PKK memberikan pendampingan untuk mereka. “Ada UP2K (usaha peningkatan pendapatan keluarga),” kata Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Desa Butuh, Devy Soegiherventiana.

“Kami promosi produk. Di masa pandemi ini kami bikin akun Instagram namanya Warung Sahwahita biar tetap konsisten. Biar yang beli juga nggak cuma dari Desa Butuh” imbuhnya.

Di samping itu, untuk menggerakKan semangat para remaja, Ummu sering memacu semangat mereka dengan mengajak membuat project. Salah satunya produksi video untuk diunggah di channel YouTube Perpustakaan Sahwahita. “Saya mendorong mereka. Ayo berkarya!” ujar Ummu semangat.

Tahun 2021, Perpustakaan Sahwahita digelontor dana Rp 33 juta dari Pemdes Butuh. Namun karena masih seumur jagung, Ummu memang belum memiliki keinginan membuat program atau target muluk-muluk. Apalagi situasi masih pandemi Covid-19. Baginya, yang terpenting Perpustakaan Sahwahita terus konsisten hadir dan berkegiatan bersama masyarakat. (*/aro)

Artikel Menarik Lainnya

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya