alexametrics

Bantu Sesama, Dirikan PT sebagai Lumbung Kas Komunitas

Melongok Kegiatan Agus-Agus Bersaudara Indonesia (AABI) di Semarang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Hidup bahagia dan bermanfaat adalah cita-cita banyak orang. Jalan mewujudkannya pun beragam. Hal inilah yang coba dilakukan Agus-Agus Bersaudara Indonesia (AABI).

ANIK MEILINDA, Radar Semarang

KOMUNITAS AABI dicetuskan kali pertama oleh Agus yang berasal dari Bandung, Jakarta, dan Sukabumi. Mereka berkenalan, dan mengagendakan pertemuan darat melalui Facebook.

“Awalnya mereka bertemu di Facebook, lalu berkumpul dan akhirnya didirikanlah AABI ini. Saat itu di Bogor tahun 2015,” jelas Agus Mulyawan, Ketua 1 Dewan Agus Pusat (DAP) saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di acara ulang tahun AABI di Resto Prima Raja Puri Anjasmara Blok M, Kota Semarang, Minggu (22/8).

Pria yang akrab disapa Gus Mul ini mengatakan, belum lama ini DAP baru saja mendirikan Perseroan Terbatas (PT) yang mereka beri nama AABI Jaya. Didirikannya PT yang bergerak di bidang pertanian, perkebunan, dan peternakan ini bertujuan untuk mewujudkan AABI yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Tujuannya untuk memberikan manfaat, baik bagi anggota komunitas AABI, maupun masyarakat pada umumnya. Contohnya di Madiun itu kita punya peternakan tawon yang menghasilkan madu. Jadi, sistemnya adalah Agus-Agus ini membeli saham, begitu,” jelasnya.

Baca juga:  Leslar Lovers Indonesia Kerap Meet Up dan Aktif Lakukan Kegiatan Sosial

Penghasilan dari PT, selain menyejahterakan pekerjanya, juga menjadi salah satu lumbung kas bagi komunitas. “Karena, sejak awal sudah ada perjanjian bahwa beberapa persen dari keuntungan dialokasikan untuk kas. Nah, kas itu nantinya digunakan lagi untuk membantu pembiayaan kegiatan maupun bakti sosial,” ujarnya.

Menurutnya, yang membedakan AABI dengan komunitas Agus yang lain adalah keberadaannya yang sudah diakui negara dan terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM. Selain itu, AABI juga tidak menyaring anggotanya. Semua Agus boleh ikut, baik yang bekerja, belum bekerja, atau kalangan apapun. Ada yang berprofesi sebagai satpam, mekanik AC mobil, guru, tentara, bahkan pengangguran pun ada.

“Nggak gengsi, kalau nggak ada pekerjaan ya saling tolong. Saya sebagai pengusaha, kalau sudah begini ya kumpul. Bukan siapa-siapa. Dan di AABI, kalau ada apa-apa itu nggak ribet, yang longgar dan punya rezeki lebih ya dia yang membantu. Begitu saja,” katanya.

Koordinator AABI Solo Raya Agus Pranoto mengungkapkan kebanggaannya tergabung dalam komunitas ini. “Selain silaturahim, komunitas ini juga peduli kepada apa yang sedang dialami masyarakat. Contohnya di Sragen, setiap tahun kita ikut memberikan bantuan air bersih ketika beberapa desa mengalami kekeringan. Saya meski sudah pensiun mengajar, jadi punya kegiatan dan banyak teman,” kata pria yang disapa Gus Toto ini.

Baca juga:  Bus Diubah jadi Kafe Berjalan

“Ini kan komunitas non profit ya, tapi saya menikmatinya. Bahkan saya hitung sudah 15 kali mengikuti pertemuan semacam ini dari mulai di Jawa Barat hingga Jawa Timur. Dari kopdar-kopdar itu, selain menjalin silaturahim juga menjadi ajang bertukar pengalaman,” tuturnya.

Wujud kebanggaan dan baktinya kepada AABI adalah selalu menolak ketika diajak bergabung dengan komunitas Agus yang lain. Baginya, AABI lah yang utama, dan memang memiliki legalitas. Lagi pula ia sudah nyaman di AABI.

“Saya bilangnya begini. Kita sesama Agus tetap bersaudara, tapi organisasi saya cuma AABI,” paparnya.

Gus Toto juga menjelaskan, peserta kopdar saat tidak pandemi bisa mencapai ribuan, mengingat anggotanya juga sudah 10 ribu lebih. Namun, saat pandemi ini, DAC Semarang berhasil mengadakan dan dihadiri kurang lebih 30 orang, menjadi salah satu pencapaian yang baik. Dari sini, ia berharap akan melahirkan gagasan-gagasan kebermanfaatan dari setiap anggota. “AABI tidak sekadar berkumpul, tapi Agus untuk Indonesia harus diwujudkan,” lanjutnya.

Baca juga:  Sebulan Sekali Mendaki, Sudah Sambangi Semua Gunung di Jateng

Perayaan ulang tahun bersama dan kopi darat (kopdar) yang dipanitiai oleh Dewan Agus Cabang (DAC) ini adalah pertemuan luring pertama selama pandemi. Gus Toto pun mengakui, bahwa selama pandemi intensitas pertemuan mereka hampir tidak ada. Semua pertemuan dilakukan online via WA atau zoom.

Dalam berbagai kesempatan di acara itu, jargon Brotherhood Agus-Agus in Harmony senantiasa menggema di udara. Semangat mereka pun terlihat saat dipandu pembawa acara sembari mengepalkan tangan ke depan.

Ketua DAC Semarang Agus Sariyanto mengatakan, sebisa mungkin untuk melestarikan nama Agus. Bahkan, anak laki-lakinya yang tidak lahir di bulan Agustus pun dinamakan Agus.

“Melestarikan nama Agus. Anak saya ini ikut kemana-mana. Namanya Agus Popo. Bahkan dia sering disebut maskotnya Agus. Dia juga suka sekali dengan mars Agus,” katanya.

Dyah, salah satu istri Agus yang hadir dalam kopdar juga menamai cucunya dengan nama Agus. “Kita harus bangga dengan Agus-Agus,” tuturnya sembari tersenyum bangga. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya