alexametrics

Resign dari Sekretaris Direktur, Pilih Jadi Penyiar TVRI

Made Dwi Adnjani, Dari Marketing, Penyiar TVRI, Kini Jadi Dosen Unissula

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Kisah hidup Made Dwi Adnjani penuh liku. Sebelum menjadi dosen Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, Made pernah menjadi marketing, sekretaris direktur, hingga penyiar kontrak TVRI Jawa Tengah selama 9 tahun.

ULIN NI’MAH SYAHIRA, Radar Semarang

PADA kisaran 1997-2006, Anda mungkin pernah melihat wajah Made Dwi Adnjani di layar TVRI Jawa Tengah. Ya, saat itu, ia masih berprofesi sebagai penyiar kontrak. Ia biasa memandu acara dialog, maupun menjadi penyiar berita. Namun itu semua kini sudah menjadi kenangan manis. Wanita yang akrab disapa Bu Made ini sekarang sudah beralih profesi menjadi dosen. Tepatnya, dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Bahasa dan Ilmu Komunikasi (FBIK) Unissula.

“Sebelum jadi penyiar TVRI dan dosen, saya juga pernah menjadi marketing dan sekretaris direktur. Jadi, komplet banget,” kata Made kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ia menceritakan, saat menjadi marketing di perusahaan asuransi, ia tidak pernah mengajukan lamaran. Setelah kuliah kerja nyata (KKN), ada supervisor datang ke rumah meminta untuk menjadi salah satu marketing. Awalnya, ia hanya membantu, kemudian selama kurang lebih satu tahun menekuni bidang marketing cukup membuat Made belajar banyak di bidang tersebut. “Akhirnya saya mengundurkan diri dari marketing karena harus menyelesaikan skripsi,” kenangnya.

Baca juga:  Punya 120 Mitra Nelayan, Pemasaran hingga Papua

Selesai skripsi, lanjut Made, ia melamar ke sejumlah perusahaan, termasuk di TVRI. Saat itu, ia diterima seleksi di salah satu perusahaan dan bertemu langsung dengan owner-nya. Dan saat dites terakhir, owner perusahaan itu mengatakan setuju Made diterima menjadi sekretaris direktur. Nah, saat bekerja sebagai sekretaris direktur itu, ternyata Made juga diterima sebagai penyiar kontrak di TVRI. “Saya pun resign dari sekretaris direktur, dan memilih menjadi penyiar TVRI,” ceritanya.

Selama 9 tahun, Made menjadi penyiar kontrak di stasiun televisi pelat merah tersebut. Dalam perjalanannya, Made ingin kaffah dalam keislaman, sehingga ia memutuskan untuk berhijab. Pada waktu itu, penyiar berita harus netral, tidak boleh menunjukkan identitas keagamaan. Sehingga Made sudah tidak menjadi penyiar berita lagi. Namun ia bersyukur, ada produser yang memintanya memandu acara Gema Ramadan dan acara Tepo Tulodho dengan tagline “mengembalikan martabat anak bangsa.” “Acara Tepo Tulodho ini mengenai etika dan sopan santun,” katanya.

Dikatakan, selama bekerja di TVRI Jawa Tengah, ia tidak hanya menjadi penyiar berita saja. Tapi, ia juga kerap syuting di luar studio. Misalnya, acara dunia wanita dan wisata. “Jadi, saya sering bepergian ke satu daerah atau meliput objek wisata,”ujarnya

Baca juga:  Pelatihan Digelar Gratis, Peserta juga Dibekali Ilmu Marketing

Yang paling berkesan, saat Made meliput acara dunia wanita. Pada saat itu, ia meliput bupati perempuan mulai dari aktivitas seharian, ruang kerja, sampai di kamar tidur. Pengalaman lain, ia bertemu sejumlah tokoh penting untuk diwawancarai, di antaranya dalang Ki Enthus Susmono, Ki Manteb Soedharsono, Ki Joko Edan, mantan Gubernur Bibit Waluyo, mantan Gubernur Mardiyanto, tokoh-tokoh MUI Jawa Tengah, Himpunan Pengusaha Muslim Indonesia, dan lainnya.

Di usia 30 tahun, Made melamar menjadi dosen Unissula. Kebetulan saat itu membuka program studi ilmu komunikasi. Ia diterima menjadi dosen pada 2009. “Jiwa saya lebih suka untuk berbagi pengetahuan, lebih suka untuk mengajar,” katanya.

Ditanya perbedaan menjadi penyiar dan dosen? Bagi Made prinsipnya hampir sama. Yang menyenangkan adalah selama menjadi dosen, ia bisa bertemu banyak mahasiswa, dan mereka sangat antusias, itu yang menyenangkan. Sedangkan saat menjadi penyiar, bertemunya hanya di depan kamera dan kru. “Jadi, saya merasa lebih hidup, dalam artian dinamikanya,” tutur dosen ramah ini.

Made memiliki prinsip menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Dalam artian, semua karena Allah, dan akan kembali kepada Allah. Dan semua yang dilakukannya semata-mata untuk beribadah kepada Allah SWT. Selalu mengikuti proses dalam hidup ini, dan berusaha yang terbaik di mata Allah SWT, “La Ilaha Illallah, La Hawla Wala Quwwata Illa Billah”.

Baca juga:  Fatimah Nadia Qurrota Ayun, Dosen, Penyiar, sekaligus Duta Wisata

Selain menjadi dosen, Made kerap dipercaya menjadi moderator di Indonesia Makin Cakap Digital. Juga menjadi MC untuk acara pernikahan dan narasumber untuk pelatihan public speaking, serta mengisi LKMM. Bersama teman-teman penulis, Made menulis satu buku berjudul Anomali, dan sudah diterbitkan. Ia juga menulis kumpulan puisi bersama teman-teman di Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) sejak 2017.

Untuk generasi sekarang, ia berharap bisa terus menggali kompetensi pribadi, mengenali potensi diri, serta belajar dengan sungguh-sungguh. Sehingga nanti saat kerja sudah memiliki kompetensi atau keahlian yang memang dibutuhkan oleh pekerjaan tersebut.

“Fokus terhadap cita-cita yang kalian punya. Tuliskan yang menjadi cita-cita kalian, dan lakukan apa yang sudah kalian tulis. Sehingga sedikit demi sedikit, impian yang diharapkan terwujud dengan baik. Percayalah bila mempunyai impian besar, maka kalian akan bisa mewujudkannya selagi kalian fokus, dan berusaha untuk mengejar impian tersebut. Percaya Allah SWT yang menakdirkan semuanya. Dalam artian, ketika memiliki impian, maka serahkan semuanya kepada Allah SWT dengan ikhtiar yang kita lakukan sebagai manusia. Terus lakukan continuous improvement,” pesannya. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya