alexametrics

Di Jateng Ada Sekitar 9.000 Nama Agus, yang Terdaftar di AAB 4.000

Mengenal Komunitas Agus-Agus Bersaudara Indonesia

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Agustus menjadi bulan berkah bagi para pemilik nama Agus. Apalagi yang lahir tepat 17 Agustus. Ulang tahun mereka dirayakan seluruh rakyat Indonesia, karena bertepatan dengan HUT Kemerdekaan RI.

Hari ini, Agus Triyanto berbahagia. Tepat pada perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, ia juga memperingati hari lahirnya. Iya, hari ini usianya bertambah menjadi 38 tahun.

Itu jika dihitung hanya pada hari ini. Jika dihitung selama bulan Agustus penuh, kebahagian Agus Triyanto berlapis-lapis. Pertama, tiap Agustus ia memperingati bulan pernikahan. Tahun ini adalah yang ke-15. Kedua, tanggal 20 Agustus nanti ia juga akan memperingati hari kelahiran anak ketiganya yang berusia satu tahun.

Iya, saya merasa menyandang nama Agus membawa keberkahan,” kata Ketua Dewan Agus Cabang (DAC) Pekalongan Raya Komunitas Agus-Agus Bersaudara Indonesia (AABI) ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Kebahagiaan dan rasa syukur menyandang nama itu makin terasa ketika tiap bulan Agustus ia banyak mendapat voucher makan gratis. Bukan hanya dari satu tempat makan. Tetapi dari banyak tempat. Baik di dalam maupun luar kota.

Pada Agustus tahun ini, ia belum banyak mendapat sebaran promo makan gratis. Ia sudah mendapatkan beberapa, namun itu di luar kota. Kondisi pandemi membuatnya mengurungkan niat untuk mengunjungi tempat makan itu.

Di Kota atau Kabupaten Pekalongan, kata dia, Agustus tahun ini belum ada. Namun tahun lalu ia mendapat makan gratis cukup banyak.

“Mungkin belum. Besok atau lusa biasanya promo berdatangan. Nah, nanti saya tinggal pilih,” kelakar pria yang akrab disapa Gus Yan ini.

Karena itu, Agus Triyanto menyematkan nama Agus untuk anak ketiganya. Anak perempuannya yang lahir pada 20 Agustus 2020 ia beri nama Naira Tri Agustin. Ia bahkan sudah memasukkan anaknya itu ke komunitas AABI. Anak pertama dan kedua tidak. Karena tidak lahir pada bulan Agustus.  “Saya bangga dan bahagia punya nama ini. Semoga anak ketiga saya juga demikian,” harapnya.

Baca juga:  Ini Kriteria Pelatih yang Dibidik PSIS

Agus Triyanto sadar namanya memang pasaran. Sejak kecil hingga sekarang, ia mengaku sangat sering menjumpai nama yang sama. Baik di sekolah maupun di lingkungan rumahnya. “Susahnya, kalau dipanggil Agus semuanya menoleh. Itu saja sih sulitnya menyandang nama ini. Tapi tetap bangga dan senang,” ungkap warga Desa Tegalsuruh, Kecamatan Sragi, Kabupaten Pekalongan ini

Selain Komunitas AABI, ada lagi  Komunitas Agus-Agus Bersaudara (AAB). AAB tersebar di sejumlah daerah di Indonesia. Pengurus Pusatnya disebut Dewan Agus Pusat (DAP). Pengurus setingkat provinsi disebut Dewan Agus Daerah (DAD), sedangkan pengurus setingkat kabupaten/kota dinamakan Dewan Agus Cabang (DAC).

Komunitas ini didirikan pada 2015, dan resmi berbadan hukum pada 2016. Tak sekadar kopi darat (kopdar) dan silaturahmi, mereka kerap terlibat dalam aksi kemanusiaan dan sosial. Di antaranya, melakukan penggalangan dana bagi anggota yang tertimpa musibah, mengadakan  bakti sosial, menanam bibit mangrove, menyelenggarakan nikah gratis bagi yang bernama Agus, dan lain sebagainya.

Ada lagi yang unik dari komunitas yang mengusung semboyan “Brotherhood Agus-Agus in Harmony” ini, yakni mereka juga memberikan reward khusus bagi Agus yang menikah dengan sesama Agus.  Misalnya, Agus menikahi Agustina.  “Dua Agus yang bersatu,” kata Agus Wismanto, Ketua (AAB) DAD Jateng kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (16/8/2021).

Menurut pria yang akrab disapa Agus Wis ini, nama merupakan amanah orang tua, maka melalui nama Agus sebagai komponen rakyat Indonesia, InsyaAllah akan berkontribusi meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa.

“Melalui Agus-Agus Bersaudara (AAB) ini diharapkan mampu menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan dan silaturahmi serta menjadi masyarakat yang peduli terhadap lingkungan, sosial, budaya, pendidikan, ekonomi, dan bermanfaat bagi masyarakat maupun anggota tanpa membedakan suku, agama, ras, dan golongan,” ungkap pria 51 tahun ini.

Baca juga:  Rela Tidak Dibayar, Naikkan Imun selalu Merasa Bahagia

Senada dengan pengalaman Agus Triyanto, berkat nama Agus, ia juga kerap mendapatkan gratisan di setiap kota atau kabupaten yang didatangi. Seperti yang pernah dialami di Pekalongan. Saat ia ke Pekalongan, dan mampir ke salah satu Agus di sana. Karena Agus itu memiliki toko batik, ia pun pulang membawa oleh-oleh baju batik gratis.   “Ini Agus tho, komandan Jawa Tengah, sudah milih saja.  Kata Agus itu,”ceritanya sembari terkekeh.

Belum lagi setiap mampir di rumah makan salah satu anggota AAB, pasti tidak diperkenankan membayar. “Ya saya nggak boleh bayar. Kalau maksa bayar, mereka malah marah,” tuturnya.

Kejadian ini tidak hanya dialami di bulan Agustus saja, namun juga di bulan-bulan lain.  “Ya pokoknya kalau saya pergi, entah sendiri atau sama keluarga, di semua kota di Jateng itu, saya usahakan mampir ke Agus. Soalnya kami sangat akrab, sudah melebihi saudara,” katanya.

Agus Wis sendiri selalu mengajak anggotanya yang memiliki bisnis untuk memberikan promo khusus bagi pemilik nama Agus di bulan Agustus ini.  “Saya instruksikan walau dengan guyon, bagi yang punya rezeki lebih. Khususnya bagi Agus-Agus yang berdagang dan sebagainya, bersedekahlah, terutama di bulan Agustus ini. Misalnya, pemilik bakso, yang namanya Agus gratis makan, dan seterusnya,” beber Dosen Fakultas Pedidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) ini.

Menurut Agus Wis, di Indonesia sedikitnya ada 10 juta nama Agus. Sedangkan di Jateng sendiri ada 9 ribuan nama Agus, dan yang terdaftar di AAB sekitar 4 ribuan.

Komunitas nama Agus lainnya adalah Komunitas Agus Bumi Indonesia (ABI). Komunitas ini terbentuk 21 Juni 2016. Sebelum membentuk komunitas, para anggota sebelumnya berinteraksi melalui media sosial.  Lalu, mereka mengadakan pertemuan kopi darat (kopdar) di sebuah warung makan di Jogja pada 2016. “Baru pada 21 Juni 2016 Komunitas Agus Bumi Indonesia ini terbentuk,” ucap Ketua ABI Agus Sunarto.

Baca juga:  Beri Materi Kuliah sambil Momong Anak

Seiring berkembangnya waktu, kata dia, jumlah anggota ABI terus bertambah. Pada 2019, anggotanya sebanyak 300 orang yang berasal dari Jogjakarta, Klaten, Solo, Purworejo, dan sekitarnya. Kemudian untuk saat ini ada sekitar 500 orang yang berasal dari seluruh Indonesia.

Walaupun didominasi anggota laki-laki, namun 10 persen di antaranya merupakan perempuan yang rata-rata bernama Agustina, Agustini, atau Agustin. Anggota tertuanya berusia 80 tahun, sedangkan yang termuda mahasiswa. “Kami coba cari nama Agus di sekolah tingkat SMP atau SMA, tetapi sekarang sudah susah mencari anak yang diberi nama Agus,” ucapnya.

Dikatakan, setiap bulan Agustus selalu ada event menarik, seperti upacara peringatan HUT RI, kegiatan kemanusiaan, pembuatan wayang, ketoprak, dan terakhir donor darah. “Namun karena masih pandemi, udah dua tahun tidak melaksanakan upacara HUT RI,” ujarnya.

Kejadian-kejadian lucu yang sering dialami misalnya sering salah kirim WA, karena nama banyak yang sama. Ada juga saat kumpul-kumpul di restoran saat ada yang manggil nama Agus, pasti pada nengok semua.

Selain itu, ia menceritakan biasanya di bulan Agustus ini sering dapat diskonan dari kuliner-kuliner yang owner-nya bernama  Agus.“Kadang tidak hanya diskonan, tapi malah digratisin juga pernah,” katanya sambil tertawa.

Agus mengatakan, pihaknya memiliki rencana untuk membuat Festival Agus, dengan mengumpulkan semua komunitas Agus di satu tempat. Ia berharap komunitas Agus ini bisa menjadi penyemangat dan bermanfaat untuk masyarakat. (nra/rfk/aro)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya