alexametrics

Biasa Hidup Terjadwal, Suka Matematika Sejak SMP

Naelufa Syifna Wifaqotul Muna, Warga Kendal yang Meraih Perak IMC 2021 di Bulgaria

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Naelufa Syifna Wifaqotul Muna berhasil mengharumkan nama Kabupaten Kendal hingga di tingkat internasional. Ia berhasil meraih medali perak di ajang International Mathematics Competition (IMC) 2021 yang digelar di Bulgaria (Eropa Tenggara) 2-7 Agustus lalu.

BUDI SETIYAWAN, Kendal, Radar Semarang

Naelufa Syifna Wifaqotul Muna mengaku kaget saat mengetahui dirinya memperoleh medali perak di IMC 2021. Sebab, ia mengaku ikut kompetisi sebenarnya untuk mengetahui seperti apa perlombaan tingkat internasional.

“Jadi, ini lomba pertama saya di tingkat internasional. Niatnya hanya untuk mengetahui vibes (atmosfer, Red) lomba, dari suasana dan tingkat kesulitan dan kerumitan soal yang diberikan. Nggak nyangka malah juara II, dan dapat medali perak,” kata mahasiswi UGM semester tujuh ini.

Di ajang IMC yang digelar dalam jaringan (daring) tersebut diikuti 591 peserta dari 54 negara. Ia mengaku minder, terlebih dengan mahasiswa Eropa yang memang betul-betul diakuinya cerdas dalam matematika.

Baca juga:  Solusi Atasi Sampah Organik, Bisa untuk Pakan Ikan dan Unggas

“Juara pertama yang meraih medali emas itu mahasiswa asal Rusia. Mereka memang jago-jago,” ujarnya

Ia mengaku tidak banyak persiapan untuk lomba tersebut. Bahkan persiapan hanya dua pekan dengan pendampingan dari dosen UGM. Selebihnya, ia belajar sendiri dari buku-buku untuk memperbanyak referensi.

Nefa –panggilan akrabnya—mengaku, sejak SMP sudah menyukai pelajaran matematika. Saat duduk di bangku SMP Negeri 2 Kendal, ia kerap menjadi perwakilan sekolah untuk mengikuti perlombaan matematika, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi. Bahkan, saat sekolah di SMA Negeri 1 Kendal, ia dipercaya untuk mewakili lomba kejuaraan matematika hingga tingkat nasional.

“Pernah dapat juara 1 Kejuaraan Matematika Nasional yang digelar UIN Walisongo, dan dapat juara 2 yang digelar Institut Pertanian Bogor (IPB),” kata gadis asal Desa Pandes, Kecamatan Cepiring, Kendal ini.

Untuk mengikuti kejuaraan IMC, diakuinya, seleksinya sangat ketat. Sebelumnya, ia harus mengikuti seleksi tingkat universitas. Setelah lolos, kemudian diseleksi tingkat wilayah di Jogjakarta. Berhasil juara tingkat daerah, ia pun mewakili UGM di Kejuaraan Nasional Matematika dan IPA (KN-MIPA). “Persiapan mengikuti lomba justru lebih banyak saat mau ikut lomba KN-MIPA,” ujar putri pasangan Muhammad Nasikh Syarifudin dan Tri Wahyuni ini.

Baca juga:  Ada Nisan di Dalam Rumah, Lahan Pakai Sistem Sewa

Diakuinya, kemenangannya dalam lomba juga berkat dukungan dan doa dari keluarga. Terutama ayah dan ibunya. “Abah (ayah) selalu memotivasi saya. Sejak kecil tidak pernah mengarahkan anak-anaknya, termasuk saya, untuk belajar ini dan itu. Jadi dibebaskan. Tapi abah berpesan, apapun yang kamu suka dan ambil, di situ kamu harus maksimal,” kata dara cantik kelahiran Kendal, 8 Juni 2000 ini.

Ibunya juga mendukung dengan doa dan mengantar serta mendampinginya saat mengikuti lomba dan belajar. Ayahnya yang juga pengasuh Pondok Pesantren AL-Mustofa juga sering memberikan air zam-zam yang sudah diberikan doa-doa khusus. “Selebihnya ya saya usaha dengan belajar dan doa sebagai ikhtiar batin,” tambahnya.

Baca juga:  Lebih Mudah Memahami Fungsi Komposisi dengan Metode Inkuiri

Muhammad Nasikh Syarifudin mengaku bangga atas prestasi telah diraih anak pertamanya itu. Terlebih bisa juara tingkat internasional. Ia mengaku selalu berpesan agar anaknya selalu fokus dan maksimal di manapun ia berada.

“Sejak kecil anak-anak saya biasakan hidup terjadwal. Mulai bangun tidur sampai tidur lagi, semua terjadwal. Sehingga anak punya tanggung jawab dan disiplin. Jadi, sampai sekarang saya tidak pernah menyuruh anak belajar. Dia sudah punya jadwal belajar sendiri,” katanya.

Menurutnya, disiplin adalah bagian dari wujud mensyukuri atas nikmat waktu yang Allah berikan. “Yakni, dengan memanfaatkannya untuk hal-hal bermanfaat, dan tidak menyia-nyiakannya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat,” imbuhnya.

Meski disiplin, lanjutnya, ia tetap menjaga hubungan emosional dengan anak. Seperti bercanda, diskusi, dan belajar bersama. “Kalau diskusi itu sering kami debat. Tapi memang itu saya sengaja, biar saya tahu perkembangan keilmuan dan sejauh mana pemahamannya,” katanya. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya