alexametrics

Pelatihan Digelar Gratis, Peserta juga Dibekali Ilmu Marketing

Lebih Dekat dengan Rumah Belajar Batik Mijen, Semarang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Hampir dua tahun Rumah Belajar Batik di bawah naungan Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) rutin menggelar pelatihan membatik terpadu secara gratis. Saat ini sudah memasuki angkatan ke-5. Setiap angkatannya mereka meluluskan 30 pembatik. Puluhan di antaranya kini sukses membuka usaha batik di daerah masing-masing.

TITIS ANIS FAUZIYAH, Radar Semarang

SEJAK 2019, YCAB membuka peluang pelatihan batik bagi warga yang berminat untuk menekuni usaha batik. Pembelajaran dibagi menjadi teori dan praktik. Setiap hari kerja 30 peserta datang untuk mengikuti kelas dari pagi hingga sore. Namun sistem pembelajaran diubah semenjak pandemi. Pelaksanaan pelatihan dilakukan di Rumah Belajar Batik di kawasan Tambangan, Mijen, Kota Semarang.

Pengajar sekaligus perajin batik Muridi membagi kelas menjadi dua sif. Pagi pada pukul 08.00-12.00, lalu siang pukul 13.00-17.00. setiap kelompok sif diikuti 15 orang. Angkatan ke-5 ini kebanyakan peserta berasal dari Semarang dan Kendal.

“Per angkatan ini kami bagi jadi 6 kelompok, jadi penugasan produksi sampai pemasaran dilakukan per kelompok,” jelas Muridi kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Baca juga:  Pemasaran sampai Luar Jawa, Omzet Capai Rp 600 Juta

Setiap batch atau angkatan biasanya menghabiskan tiga bulan masa pembelajaran dan praktik usaha. Dengan mengusung batik kontemporer, pihaknya bermasud menjaga eksistensi batik menyesuaikan selera orang modern. Pewarna yang digunakan pun dihasilkan dari tumbuhan. Warna coklat, oranye, krem, biru dongker, hijau army, dan sebagainya yang memberi kesan elegan.

Saat koran ini tiba di rumah produksi, para peserta dari tiap kelompok tengah mewarnai batik. Kain yang sudah dicanting dicelupkan ke dalam pewarna alami untuk kemudian dijemur. Penyelupan dilakukan sebanyak lima kali agar warna melekat pada kain. Lalu dikunci menggunakan cairan khusus agar tidak memudar.

“Kami ajarkan semuanya, mulai dari pakem batik, isian, teknik canting, batik tulis maupun cetak. Bahkan saat materi selesai mereka juga dapat pembekalan soal marketing,” papar Muri, sapaan akrabnya.

Sobirin Jamil, project manager menyiapkan mentoring setelah materi praktik selesai selama dua minggu. Peserta diajarkan digital marketing, packaging, dan financial literacy untuk mempersiapkan bisnis batik tiap kelompok. Lalu, satu bulan setelahnya peserta melakukan produksi. Mereka diberi modal bahan senilai Rp 5 juta per kelompok.

Baca juga:  Pemerintah dan Masyarakat Kompak Sambut HBN

“Minimal tiap kelompok menghasilkan satu desain batik cap dan satu tulis. Hasilnya kami nilai, mulai dari produk, pemasaran, ide bisnis ke depan untuk dilombakan dengan kelompok lain,” terang Jamil.

Pelatihan yang kebanyakan diikuti anak muda dan ibu rumah tangga ini berlangsung penuh antusias. Karena setiap hari belajar bersama, mereka akrab satu sama lain. Salah satunya Yeni Wulandari, perempuan berusia 26 tahun asal Kendal ini mengaku mendapat info pelatihan dari kepala desanya.

“Dari dulu saya suka kesenian sih, termasuk batik. Jadi, pas denger ada pelatihan ini dan gratis, saya langsung daftar,” ujarnya.

Lain dengan Siti, ibu muda berusia 36 tahun sengaja mengikuti pelatihan karena melihat peluang bisnis. Selain itu, dengan menekuni batik, ia berencana mengajarkan muridnya saat sekolah telah kembali normal nanti.

Baca juga:  Karya Tulisan Dikenang Sepanjang Masa

Memang program YCAB yang didukung oleh Indika Foundation sengaja menargetkan pengusaha batik. Karena selain meningkatkan perekonomian warga, pihaknya juga melestarikan budaya. Lebih lanjut, para alumni pelatihan bahkan diwadahi untuk menggelar pameran batik dan fashion show dua kali dalam setahun.

“Dari tiap angkatan yang kami tugaskan untuk coba buka bisnis tadi. Lalu yang terbaik kami modali uang tunai Rp10 juta untuk membuka usaha sesuai ide bisnis yang direncanakan,” imbuhnya.

Muridi yang kini menjadi guru membatik merupakan peserta angkatan pertama. Ia sangat bangga dan senang diberi kepercayaan untuk berbagi ilmu di Rumah Belajar Batik. Dengan ilmu dan pengalaman yang dimilikinya, ia berhasil mendorong puluhan peserta untuk membuka usaha batik sendiri.

“Kalaupun tak semua akhirnya jadi pengusaha batik, tapi ada juga yang jadi guru batik, ilmunya bermanfaat dan mengalir terus,” katanya. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya