alexametrics


Hasilkan Ribuan Varietas Baru, Siap Bidik Pasar Ekspor

Nugrus Rudi Kristanto, Mantan Guru yang Kembangkan Persilangan Tanaman Hias Caladium

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Mengawinkan tanaman hias untuk menghasilkan varietas baru dan unggul bukan perkara mudah. Nugrus Rudi Kristanto misalnya. Ia fokus mengawinkan tanaman hias jenis Caladium atau Keladi untuk menghasilkan jenis berbeda, dan memiliki harga yang wah.

TANAMAN hias menjadi primadona masyarakat selama pandemi Covid-19 saat ini. Bahkan tak jarang, para pecinta tanaman hias rela merogoh kantong dalam-dalam untuk membeli tanaman hias langka. Misalnya, tanaman Caladium anggur merah yang berhasil disilangkan oleh Nugrus Rudi Kristanto. Dari segi harga, cukup mahal, mulai Rp 2,5 juta sampai Rp 7,5 juta per pohon. Belum lagi jenis lainnya yang harganya tak kalah mahal pun diminati pasar ekspor.

Kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kris –sapaan akrabnya menjelaskan, saat ini tanaman keladi memiliki peminat yang cukup tinggi di hati pecinta tanaman hias. Selain warna daun, jumlah daun, dan karakter fisik, menjadi nilai lebih tanaman hias untuk dibanderol dengan harga tinggi.

“Belum lagi proses membuatnya (penyilangan, Red,) membutuhkan waktu yang panjang sampai 4 tahun lebih untuk bisa kembali dijual dengan varietas atau jenis baru. Dari ribuan yang disemai, dipilah yang paling bagus,” katanya.

Kris bercerita, penyilangan Caladium sebenarnya cukup mudah dan simpel, yakni mencampurkan serbuk sari jenis bunga lain ke putik bunga lain pula. Setelah jadi, kemudian disemai, dan dibesarkan kurang lebih membutuhkan waktu dua tahun.

“Setelah disemai, kita lihat yang paling bagus mana? Kemudian dibesarkan dan diperbanyak. Total membutuhkan sekitar 4 tahunan,” beber pemilik AC Caladium Semarang ini.

Hobi yang digeluti sejak 2003 itu bisa dibilang cukup berhasil. Kris pun dikenal sebagai penyilang Caladium di Indonesia yang berhasil menciptakan varietas baru dengan warna yang indah. Dirinya pun juga dikenal sebagai pioner untuk mengenalkan Caladium di Tanah Air agar bisa mendunia.

Saking fokusnya ke hobi yang menghasilkan uang belasan sampai puluhan juta rupiah per bulan ini, membuatnya rela melepas pekerjaannya sebagai guru di SD Negeri Gunungpati I beberapa waktu lalu.

“Basic-nya dulu hobi, kebetulan senang tanaman dan kuliah di Biologi Unnes, kemudian ambil PGSD dan mengajar. Tapi, saya akhirnya keluar dan fokus ke pertanian saja. Hobi ini baru saya jadikan bisnis sejak 2013 lalu,” akunya.

Kris diketahui telah berhasil menciptakan ratusan, bahkan bisa mencapai ribuan jenis Caladium baru. Bahkan namanya dikenal sebagai penyilang Caladium di Indonesia. Ia mengaku tidak khawatir jika produk AC Caladium diklaim orang lain. Sebab, ia memiliki trik tersendiri, dan punya relasi pengamat keladi di Thailand, negara yang terkenal dengan Caladiumnya.

“Saya potret, dan saya kirimkan ke teman di Thailand, apakah ada yang mirip atau berbeda? Kalau berbeda, bisa dimunculkan atau diperbanyak dan dikasih nama, saya juga buka diskusi di medsos tentang hasil silangan saya,” tambahnya.

Awal mula Caladium berkembang, lanjut dia, ada di Thailand dan Florida Amerika Serikat. Keduanya punya karakter masing-masing. Jika keladi Thailand punya karakter warna yang menarik, dan tidak terlalu tinggi. Sedangkan untuk Florida, biasanya memiliki batang hang panjang. Kemudian di Malaysia ada nursery terbesar, dan mengembangkan jenis keladi, serta melakukan kawin silang agar muncul varian baru.

“Breeder keladi pertama adalah Pak Wawan Santoso yang pernah bekerja di Nursery Malaysia tadi. Beliau kemudian pulang, dan hasil silangannya dibawa ke Indonesia, beliau orang Kebumen, dan saya belajar dari beliau. Bisa dibilang, saya orang kedua yang mengembangkan keladi di Indonesia. Kalau saat ini sudah banyak yang jadi pengembang,” tuturnya.

Meskipun sudah ada jenis ratusan, bahkan mungkin sudah ribuan jenis Caladium baru yang disilangkan. Sebut saja, Anggur Merah, Rahwana, Anthanu, Sumijem, Sumirat, Sam Poo Kong, Christmas Fire, Anjani, dan lainnya. Jenis Anggur Merah, kata dia, menjadi ikon AC Caladium dan masuk dalam kategori Grade A, jika dinilai dari kualitas, karakter fisik, warna daun muda dan tua yang hampir sama, serta memiliki lebih dari lima tangkai.

“Hasil silangan ini ada ratusan jenis, bisa jadi ribuan karena masih harus disortir lagi. Kadang ada yang mirip, dan harus diambil yang paling bagus. Dari segi nama, hasil silangan diberi nama Jawa atau Indonesia agar bisa dikenal sampai luar,” ujar dia.

Banyaknya penyilang Caladium saat ini, tidak membuat Kris khawatir tentang persaingan. Menurut dia, banyak penyilang yang menerapkan sistem menjual biji ataupun membesarkan tanaman kemudian dijual. Sementara cara yang ia pilih lebih berbeda, yakni melakukan seleksi, sebelum memperbanyak dan menjual hasil silangan.

“Sebenarnya hobi membesarkan dan melihat hasilnya. Masih ada ratusan varian yang masih menunggu seleksi, dan belum dikasih nama. Terakhir, saya posting harganya Rp 25 juta untuk empat pohon jenis baru. Ada yang mau beli salah satu, tapi belum saya lepas,” katanya.

Dari segi peminat, kata dia, paling banyak dari luar Semarang. Sementara dari segi omzet bisa mencapai puluhan juta rupiah, dan paling sedikit belasan juta rupiah per bulan. Untuk pemasaran, ia lebih memilih secara online melalui Group Facebook AC Caladium. Saat ini, ia sedang mencoba pasar ekspor karena memang ada permintaan yang besar dari luar negeri.

“Kita baru akan melangkah ke sana, karena pasarnya memang ada. Namun pasar ekspor lebih meminta umbi Caladium yang sudah kita kembangkan, karena lebih aman, dan bisa disimpan lama,” tambahnya.

Untuk harga tentu mengikuti harga yang ia banderol dalam rupiah, kemudian diubah menjadi Dollar, plus ongkos kirim dan surat karantina.

“Harapannya tentu bisa masuk pasar ekspor, sempat ada peminat dari Belanda. Namun karena pandemi belum ada kabar lanjutan, Tapi, saya optimistis bisa masuk pasar ekspor,”ujarnya.

Tujuannya tak lain untuk menyasar pasar luar negeri, bukan hanya ditimbang dari segi bisnis. Tujuannya lainnya adalah agar dunia tahu jika Indonesia saat ini juga mengembangkan keladi.

“Indonesia punya potensi yang cukup besar untuk tanaman hias, dan bisa menjadikan negara ini surganya tanaman hias dengan tren baru yang dibuat,” tandasnya. (*/aro)

Artikel Terkait

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya