alexametrics

Awalnya Coba-Coba, Kini Naskah Dilamar Penerbit

Inayatul Zayyinah, Penulis Novel Terlaris

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Bagi Inayatul Zayyinah, 23, menulis adalah hobi. Dia tak pernah menyangka sebelumnya, jika coretan tangannya akan menjadi karya bersejarah dalam sastra. Namun baginya santri tetap santri, tak ada mantan santri. Maka menulis adalah mengaji.

ANIK MEILINDA,
Radar Semarang

Siapa yang tidak ingin hasil coretannya disukai banyak orang dan dilirik penerbit? Gadis kelahiran Semarang, Oktober 24 tahun silam ini, tidak menyangka ketika hobi menulisnya berlanjut hingga melahirkan empat novel. Salah satunya terjual ratusan eksemplar dalam kurun waktu satu bulan. Terbilang novel terlaris.

Novel pertamanya yang berjudul “Ketika Rasa Bertahmid” telah dibaca 743.000 kali di Wattpad. Pre-order (PO) yang pertama saja tidak cukup memenuhi permintaan pembaca. Hingga akhirnya penerbit membuka PO lagi. Pembaca dan pembelinya kebanyakan berangkat dari pembaca setia di akun Wattpad, Naya_Zayyin.

Respon yang luar biasa itu, membuatnya semakin bersemangat menggeluti dunia menulis. Meski saat itu masih menempuh kuliah dan sibuk di organisasi kampus. Novel pertamanya mengangkat tentang seorang mahasiswa yang dilamar oleh dosennya sendiri.
Di dalamnya tidak hanya menyajikan romantika percintaan antara dua insan. Tapi menyajikan makna-makna kehidupan yang penulis angkat dari kitab kuning dan Alquran.

Inspirasi tulisan pertamanya justru banyak datang dari teman, sahabat, dan pengalaman pribadi. Meski dengan tambahan bumbu yang lebih dramatis. Bahkan, karena ia kuliah di jurusan bahasa Arab, ia kerap menyelipkan sentuhan bahasa Arab pada narasinya. Selain alurnya yang menarik, hal itulah yang menjadi daya tarik khusus dari tulisannya.

Baca juga:  Ide Muncul saat Kepepet, Modal Awal Rp 300 Ribu

Tiga novelnya yang lain berjudul “Tahmid Cinta Nisa”, “Dewa Hujan di Atas Telaga” dan “Labirin Cinta Nayla”. Dua novel ini diterbitkan berturut-turut di tahun 2018 dan 2019, satu di Januari 2021 kemarin, sedangkan satu lagi sudah masuk dapur penerbit Maret tahun ini.

Perkenalannya dengan dunia menulis tidak sebentar. Hobi menulisnya tumbuh dari hobi membaca sejak kecil. Majalah Bobo adalah salah satu saksi bisu kegandrungannya terhadap dunia membaca dan menulis. Awalnya, ketika masih berada di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) karyanya hanya dibaca teman sebangku dan sekelas.

Lalu, ketika ia masuk pesantren, tulisan-tulisannya dilirik oleh salah satu pengurus buletin pesantren. Ia pun menyarankan gadis yang biasa dipanggil Naya ini untuk mencoba mengirimkannya ke redaksi. Dari sanalah ia baru merasa percaya diri untuk terus menulis. “Ternyata tulisanku bagus nih. Banyak yang suka. Mulailah aku menulis di mading pondok,” tutur gadis tamatan Pondok Pesantren (Ponpes) Assalafi Al Fithrah, Kedinding, Surabaya ini.

Baca juga:  Aditya Ken Umara Kesuma Wati, Siswi SMAN 1 Ngluwar Magelang yang Jago Nyinden

Naya mulai menekuni dunia menulis sejak tulisan pertamanya “Ketika Rasa Bertahmid” menjadi favorit dan dibaca banyak orang di Wattpad. Tercatat sudah 743.000 kali dibaca. Akhirnya, hasil coretannya di Wattpad itu dilirik oleh penerbit asal Malang, tepatnya Januari 2018. Saat itu, naskahnya belum benar-benar selesai, masih merasa pemula, dan belum tahu alurnya akan dibawa kemana. Namun, karena pembacanya banyak dan kerap menduduki ranking 1 di genre romance religi, ia pun semakin bersemangat untuk menulis.
Tiga novel berikutnya masih bergenre sama. Genre itu ia pilih karena dia menyadari bahwa tulisannya akan dipertanggungjawabkan kepada Allah. Ia tidak mau kalau hanya menulis sesuatu yang tidak bermakna. “Menulis adalah amal jariyah yang mengalir, dan apa yang kita tulis dan lakukan akan dipertanggungjawabkan di akhirat,” jelasnya.

Naya berprinsip, ia tetaplah santri dan tidak ada yang namanya mantan santri. Jadi, walaupun ia sudah tidak berada di pesantren, harus tetap mengaji. Ia percaya bahwa menulis juga bagian dari mengaji. Ia pun memegang betul apa kata Khilma Anis, penulis novel “Hati Suhita” salah satu penulis yang mengispirasinya. “Menulis yang baik-baik dan menyebarkannya secara luas adalah mengaji dalam bentuk lain.”

Saat ditanya tentang proses belajarnya di dunia menulis. Ia menjelaskan telah melewati beberapa tahap, pertama, membaca saja. Kedua, membaca dan mengomentari. Dan ketiga, mengomentari dan bisa membuat karya yang lebih baik.
Menurutnya, sekarang ia sudah bisa mengkritisi apa yang dibaca dan berusaha tidak melakukan kesalahan yang sama pada karyanya. Contoh sesederhananya ketika melihat kesalahan penggunaan tanda baca atau menemukan kalimat yang tidak efektif. Insting-nya selalu ingin membenarkan.

Baca juga:  Auriska Ditya Novriandini, Tak Sepenuhnya Cinta Membahagiakan

Sekarang, ia tengah menulis novel kelimanya yang berjudul “Kunir”. Baginya, tulisan yang ini cukup menantang. Karena berlatar di Jakarta dan mengangkat kehidupan dunia selebritis. Hal ini agak berbeda dengan empat novel sebelumnya. Namun, ia berkata bahwa karya-karyanya tidak pernah lepas dari dunia pesantren. “Yang jelas, tidak lepas dari dunia pesantren. Walaupun sesederhana karakter atau nama tokohnya,” jelas gadis yang sekarang bekerja di Yayasan Pendidikan Islam Tembalang (YPIT) ini.
Target dan impiannya ke depan adalah ada salah satu novelnya diangkat menjadi film atau web series. Baginya, sebuah kebahagiaan jika karyanya bisa divisualisasikan dan dinikmati lebih banyak kalangan.

Ia juga berpesan kepada generasi muda agar tidak malas membaca. Sesederhana membaca caption di Instagram. “Kalau membaca caption saja malas, apalagi membaca buku,” pungkasnya. (*)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya