alexametrics


Sempat Dicurangi, Berhasil Kalahkan 600 Peserta lain

Siswi SMA Institut Indonesia Raih Medali Emas Olimpiade Ekonomi Tingkat Nasional

Rekomendasi

RADARSEMARANG.ID, Siswi SMA Institut Indonesia (Instindo) Semarang belum lama lalu meraih medali emas di ajang olimpiade ekonomi tingkat nasional. Keberhasilan Farah Fadhila dan teman-temannya tak lepas dari tangan dingin Supriyati, guru pembimbing mereka.

TITIS ANIS FAUZIYAH, Radar Semarang

HAMPIR 25 tahun Supriyati mengajar mata pelajaran ekonomi di SMA Instindo. Ketegasannya dalam mengajar mengantarkan peserta didik meraih prestasi gemilang. Guru yang akrab disapa Atiek itu selalu memastikan semua siswa yang diajar di kelas memahami betul materi yang disampaikan.

Melihat antusiasme klub olimpiade mapel ekonomi yang dibimbingnya, ia mencoba mendaftar Pelatihan Olimpiade Sains Indonesia (POSI) 2020. Ia juga mencoba mengetes kemampuannya, dan ternyata dapat memenangkan medali perak pada perlombaan tingkat nasional. Atiek pun semakin optimistis anak didiknya dapat lebih baik darinya.

“Dari dulu saya membimbing kelompok belajar olimpiade, tapi baru kali ini punya anak-anak yang semangatnya luar biasa, dan punya kemauan keras,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Sejak peserta didik masuk ke SMA Instindo, para guru langsung menjaring siswa yang berpotensi, dan berkemauan keras untuk mengikuti olimpiade. Beberapa siswa yang koran ini temui di sekolah telah aktif berpartisipasi sejak kelas X. Mereka adalah Qiqi Luqi, Zufarin, Elmas Nafa Aqila, dan Farah Fadhila. Keempatnya baru saja memenangkan sejumlah olimpiade ekonomi. Mereka berhasil juara satu meski sempat merasa dicurangi. Olimpiade yang diadakan secara virtual memang menjadi tantangan baru di era pandemi.

“Di awal, pas sesi pilihan ganda ada kelompok yang begitu soal muncul mereka langsung raise hand. Padahal baca aja belum, kapan mikirnya juga,” ujar Farah Fadhila, yang pada 11 Juli 2021 lalu meraih medali emas Olimpiade Ekonomi Tingkat SMA/MA/SMK dan Sederajat pada Liga Olimpiade Pelajar ke-28 se-Indonesia.

Namun berkat persiapan matang, tim Farah berhasil menggeser semua kelompok pada babak penyisihan. Pada sesi pertanyaan uraian, ia dapat membuktikan kemampuannya. Begitu pula pada babak final, sekitar ratusan peserta tersisihkan. Peluh keringatnya berbuah kemenangan. “Kami juga nggak nyangka bakal seseru dan sepanas itu, tapi untung akhirnya bisa menang,” katanya penuh syukur.

Klub olimpiade ekonomi yang dibina Atiek beranggotakan sekitar 10 siswa. Biasanya ia melakukan perekrutan pada siswa kelas X dan XI. Selama pandemi mentoring dilakukan secara daring. Seperti kelas tambahan di luar materi pokok pembelajaran jarak jauh (PJJ).

“Pas Kompetisi Sains NasiSN) 2021 kaget materinya beda banget sama beberapa tahun sebelumnya, belum lagi kami nemu ada kecurangan dari sekolah lain yang bocor,” jelasnya.

Dari pengalaman tersebutlah yang memicu klub olimpiade untuk mengikuti lebih banyak kompitisi. Pada 2021 sendiri belasan olimpiade ekonomi mereka ikuti. Terakhir kali yang diadakan oleh Universitas Semarang (USM) dan Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) pada akhir Juni lalu. Keduanya menyabet juara satu.“Kita tuh berapa pun hasilnya nggak papa, asalnya semua fair play. Jujur. Nggak ada kecurangan,” tegasnya.

Menurutnya, sportivitas dalam perlombaan sangatlah penting. Sekali pun perlombaan diadakan secara virtual, namun bukan berarti kecurangan dapat ditoleransi. Apapun hasilnya dalam kompetisi harus menjunjung tinggi kejujuran.

“POSI itu bisa dibilang saingannya berat sampai 600 orang dari seluruh Indonesia, tapi Alhamdulillah kemarin ternyata bisa dapat medali emas,” tutur Farah yang dua kali mendapat medali emas di tahun ini. Kedua temannya juga memperoleh medali perak dan perunggu pada event tersebut.

Qiqi awalnya sempat merasa terpaksa oleh ortu, tapi setelah memasuki SMA Instindo, dan diajar oleh Atiek, ia menyukai mapel ekonomi. Ia terus menekuni ketertarikannya. Begitu diajak mengikuti lomba untuk kali pertama, Qiqi dapat memenangkan kompetisi tersebut.

Lain halnya dengan Zufarin. Ia justru menyukai mapel sejarah. Namun dia juga cukup menguasai materi ekonomi. Sehingga saat direkomendasikan mengikuti lomba, ia mampu bersaing dengan peserta lainnya. “Ekonomi itu hitungannya tidak serumit matematika. Lebih seru menurutku,” tandas Elmas.

Berkat bimbingan Atiek, Elmas memahami betul materi ekonomi. Ia sangat optimistis untuk berkuliah di jurusan akuntansi dan manajemen. Bahkan ia bercita-cita menjadi akuntan di perusahaan besar. “Memang Bu Atiek itu guru ekonomi paling top yang pernah ada,” celetuk Farah.

Mereka berempat sepakat, guru merupakan faktor utama yang mengantarkan mereka menyukai ekonomi. Tanpa penjelasan yang gamblang dan ketegasan Atiek, mereka tak dapat memenangkan berbagai kompetisi seperti sekarang.

Farah mengaku sangat menyukai akuntansi dan ekonomi berkat guru kesayangannya. Saat belajar dengan Atiek, Farah merasa nyaman dan cepat paham. Menurutnya, Atiek sangat friendly dan gemati pada semua peserta didik.

Terlepas dari faktor guru, kemauan diri juga sangat menentukan keberhasilan. Banyak anak-anak yang cerdas dan kompeten di luar sana, namun tidak semuanya mau menempuh susah senang persiapan olimpiade. “Ikut lomba itu tentang kemauan. Karena yang bisa dan mampu, belum tentu mau,” tandasnya. (*/aro)

Terbaru

Fadia Baca Semua Aduan Warga

Tempat Ibadah Harus Taat Prokes

Populer

Lainnya