alexametrics

Dulu Produksi 2 Karung Tepung, Sekarang Tinggal 15 Kilogram

Salam, Pembuat Bakpao Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Jajanan pasar seperti bolang–baling, nagasari, wajik, onde – onde, bakpao, dan lainnya, selalu menjadi incaran para pemburu kuliner. Adalah Kampung Tematik Siwalan yang menjadi jujugan konsumen. Terutama yang ingin membeli bakpao.

Wahyu Mustikaning Jati-Nisfi Noor Syahbani
Radar Semarang

BERBEKAL kemampuan yang didapatkan dari kursus selama satu hari di Gang Baru, Salam, warga Jalan Tambak Boyo RT 08, Kelurahan Siwalan, Kecamatan Gayamsari, berani membuka usaha bakpao. Tepatnya sejak tahun 2016 silam. Kini produksi bakpaonya dikenal banyak orang.
Namun semenjak pandemi Covid-19, rintisan bisnis makanan asal Tionghoa ini terpengaruh. Terjadi penurunan produksi yang cukup drastis. Dulu bisa sampai 2 karung tepung, sekarang hanya 15 kilogram sehari. Bahkan, Salam sudah tidak bisa memperkerjakan karyawan lagi, karena produksi bakpao sedikit. Semua ditangani oleh keluarga saja.
“Sebelum pandemi penghasilan kotor yang didapatkan mencapai Rp 1 juta per hari. Sekarang hanya Rp 300 ribu per hari,” tutur Salam ketika ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (13/7).
Bakpao milik Salam dipasarkan ke beberapa pasar seperti, Pasar Karang Ayu, Pasar Bulu, Pasar Mranggen, Pasar Sayung Demak, Pasar Peterongan dll. Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan bakpao ternyata tidak begitu banyak, yakni ragi instan, tepung terigu, baking powder, telur, dan margarin.
Ketahanan jajanan ini hanya mampu sampai dua hari saja, karena tidak menggunakan pengawet. Uniknya, alas yang digunakan memakai daun pisang dengan alasan supaya rasanya lebih enak dan harum.
Dia jelaskan, proses pembuatan bakpao ini cukup mudah. Tepung terigu, ragi, margarin, dan gula, dicampur dan diuleni selama 10-15 menit menggunakan mesin. Kunci utama berhasilnya adonan bakpao harus menggunakan air dingin. Tujuannya supaya adonan tidak kisut. Selama menunggu adonan jadi, membuat isian cokelat yang berasal dari cokelat bubuk instan. Setelah diuleni, adonan bakpao langsung dibentuk menjadi bulat dan tak lupa diberi isian cokelat. Adonan bakpao yang telah dialasi daun pisang didiamkan selama beberapa menit supaya mengembang. Terakhir, adonan bakpao tadi dikukus selama ¼ jam. Setelah bakpao matang, kemudian diangkat dan didiamkan untuk lanjut proses pengemasan.
Wanita asli Semarang ini mengaku tidak pernah mendapat komplain dari pembeli selama berjualan bakpao. Bakpao yang dijualnya hanya tersedia satu varian rasa cokelat saja. Harga satu bakpao cukup merogoh kocek Rp 500 perak untuk ukuran yang kecil dan Rp 1000 untuk ukuran besar.
“Biasanya untuk dijual oleh bakul 50 sampai 100 bakpao. Kami juga menerima pesanan untuk hajatan. Pernah mendapat pesanan 900 sampai 1200 bakpao,” jelas Salam yang mengaku pernah diliput oleh stasiun televisi swasta.
Selama lima tahun berjualan, Salam mendapat banyak pesanan dalam jumlah banyak. Di lain sisi, ada beberapa kendala yang ia rasakan. Contohnya seperti ketika lupa menambahkan fermipan dan gula. Hal ini yang mengharuskan ia menggantinya dengan adonan baru. Namun usahanya terus berkembang hingga pejabat kelurahan setempat tertarik untuk melihat proses pembuatan bakpao secara langsung. (*/ida)

Baca juga:  Ikuti Pelatihan Berjenjang Balatkop UKM, Omzet Meroket, Tenaga Kerja Berlipat Ganda

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya