alexametrics

Bersaing dengan Ribuan Pendaftar, Kuncinya Gigih dan Percaya Diri

Muhammad Zaenal Iksan, Anak Desa di Temanggung Raih Beasiswa S2 di Tiongkok

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Bisa kuliah di luar negeri menjadi impian Muhammad Zaenal Iksan sejak kecil. Impian warga Dukuh Semampir, Desa Tening, Kecamatan Wonoboyo, Kabupaten Temanggung ini akhirnya terwujud. Ia mendapat beasiswa kuliah S2 Teknik Metalurgi di Tiongkok.

RIRI RAHAYUNINGSIH, Radar Semarang

SETELAH lulus dari SMP Negeri 1 Candiroto, Muhammad Zaenal Iksan melatih diri untuk keluar dari zona nyaman. Anak desa ini merantau, dan bersekolah di SMK Negeri 1 Kota Magelang.

Desa asal Zaenal termasuk pelosok. Jaraknya sekitar 30 km dari Kota Temanggung. Namun semangatnya menempuh pendidikan sangat tinggi. Ia lulus dari SMKN 1 Kota Magelang dengan nilai yang membanggakan.

Selanjutnya, Zaenal melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN-BATAN) Jogjakarta. Ia mengambil jurusan Teknofisika Nuklir. Dia diwisuda pada 4 September 2018 silam.

Usai wisuda, Zaenal melamar pekerjaan di salah satu perusahaan minyak dan gas (migas) di Cilegon, Banten. Zaenal diterima. Dia mulai bekerja pada 18 September 2018 sebagai petugas proteksi radiasi (PPR). Tugasnya, bertanggung jawab dalam menguji dan memastikan pipa-pipa yang dialiri migas terbebas dari kebocoran.

Baca juga:  Nasmoco Gelontor Beasiswa untuk Siswa Kurang Mampu

Zaenal bekerja di perusahaan tersebut selama delapan bulan. Kemudian dia mendapat informasi beasiswa kuliah S2 Teknik Metalurgi di Tiongkok, dari seniornya semasa kuliah. Beasiswa itu diadakan oleh Kementerian Koordinator Kemaritiman RI.

“Tanpa pikir panjang, saya mengumpulkan berkas yang dibutuhkan, dan saya melamar secara online,” ujar pria kelahiran 27 Juli 1994 ini.

Usai penantian selama kurang lebih seminggu, Zaenal dinyatakan lolos tahap administrasi. Dia diundang ke Jakarta untuk mengikuti serangkaian tes, dan pengenalan tentang kampus Central South Universitu (CSU). Zaenal lolos sampai tahap akhir, yakni tes wawancara.

“Pewawancaranya enam orang. Lima dari pengajar, dan petinggi CSU, serta seorang profesor dari Kemenko Kemaritiman RI,” kenang Zaenal.

“Setelah menunggu pengumuman final calon mahasiswa CSU kurang lebih satu jam, Alhamdulillah nama saya terdaftar,” kenangnya.

Untuk bisa mendapatkan beasiswa tersebut, Zaenal mengaku harus berjuang totalitas. Sebab, dia harus bersaing dengan ribuan pendaftar dari perguruan tinggi ternama di Indonesia. Kegigihan dan semangat perjuangannya terasa ketika Zaenal harus berkompetisi dengan para pendaftar yang berasal dari jurusan S1 yang linear. Sementara Zaenal berlatar belakang s1 Teknik Nuklir.

Baca juga:  UKSW Berikan Beasiswa Magister untuk Jurnalis

“Saya harus benar-benar meyakinkan pewawancaranya bahwa saya bisa dan mampu. Tekad dan kepercayaan diri itulah yang mengantarkan saya sampai bisa diterima,” ucapnya.

Di CSU, Zaenal mengambil master program tiga tahun. Dengan durasi dua tahun di bangku perkuliahan, dan setahun magang di perusahaan yang bekerja sama dengan jurusan dan kampus.
Di Tiongkok, Zaenal tinggal di apartemen mahasiswa internasional. Di Jalan Lushan Selatan No. 932, District Yuelu, Changsha, Hunan, Tiongkok Selatan. Zaenal lantas berbagi pengalamannya. Katanya, ada perbedaan jelas dengan pengalamannya berkuliah di Indonesia. Yang paling mencolok, soal kedisiplinan dan kejujuran. “Di sana ketahuan pinjam alat tulis teman saja langsung disuruh keluar. Saat ujian, kelas senyap,” tuturnya.

Baca juga:  Bangkitkan Potensi Inovasi Mahasiswa, BRI Selenggarakan Creation Scholarship

Ketika dosen menjelaskan juga tidak ada mahasiswa yang sibuk sendiri. Mereka baru bersuara ketika diberi kesempatan bertanya. Yang membuat Zaenal kagum, mahasiswa asli sana ketika berangkat pagi langsung duduk, dan membawa buku sebanyak muungkin. Selain itu, membawa seperangkat alat makan, sehingga terkadang belum pulang hingga malam.

Masa awal kuliah, Zaenal sempat homesick. Rindu masakan ibunya di rumah. Namun itu hanya berlangsung dua bulan. Dia sudah mampu beradaptasi setelahnya. Menurutnya, kuliah di sana menyenangkan. Apalagi ketika liburan tiba. Para mahasiswa akan diajak keliling kota menggunakan bus kampus, dan menikmati semua wahana. Semuanya gratis.
Kini, Zaenal seharusnya magang di PT GEM Co.Ltd, salah satu perusahaan daur ulang di Tiongkok. Namun karena pandemi Covid-19, jadwal magang diubah dan dipindah di Smelter Nikel di Morowali, Sulawesi Tengah. “Tapi sampai saat ini masih belum ada pemberitahuan resmi kapan saya berangkat, dan mulai magang di sana,” katanya. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya