alexametrics

Pernah Gulung Tikar, Selalu Inovasi Resep Baru

Moh Dani Fatchoir-Hella Ayu Setyanida, Dari Jualan Keliling, Kini Punya Resto Lobster

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Terpuruknya ekonomi selama pandemi Covid-19 justru menjadi penyemangat bagi Hella Ayu Setyanida dan suaminya Moh Dani Fatchoir dalam berbisnis. Ia yang sempat terseok-seok dalam bisnis kuliner kini sukses membuka restoran lobster.

BUDI SETIYAWAN, Kendal, Radar Semarang

HELLA Ayu Setyanida dan Moh Dani Fatchoir mengawali usaha sejak menjadi pedagang seafood siap saji pada 2016. Awalnya, keduanya hanya berkeliling untuk bisa memasarkan masakan. Keduanya bahkan berjalan kaki, berkeliling ke pasar-pasar, dan kampung-kampung untuk menawarkan dagangannya.

Jualan keliling itu dimulai sejak masih berstatus mahasiswa. “Saat itu, kami masih kuliah, dan masih pacaran,” kenang Hella sambil tersenyum.

Jualan keliling seafood itu dilakukan lantaran keduanya belum memiliki tempat jualan. Selain itu, modal usaha juga masih pas-passan, sehingga tidak mungkin untuk membangun resto.

Baca juga:  Di Dusun Mantenan Ada Pohon Durian Berumur 200 Tahun, Dahannya Tidak Boleh Dipotong

Saat jualan keliling itu, Hella mengaku hanya bisa berjualan tiga sampai lima bungkus. Malah kadang pernah sehari hanya laku satu bungkus. “Saya sampai nangis, karena hujan-hujan hanya laku satu,”ceritanya.

Namun kesulitan tak membuatnya menyerah. Akhirnya, pada 2018 keduanya mendapatkan kepercayaan pinjaman tempat. Hella dan Doni akhirnya memulai membuka warung seafood kecil-kecilan. Dari usaha itu, lambat laun sukses dan semakin besar.

Awalnya, keduanya hanya berjualan seafood jenis kepiting, rajungan, udang dan aneka macam kerang. Rumah makannya dinamai After Break yang berada di Desa Sumberejo, Kecamatan Kaliwungu.

Namun pandemi Covid-19 membuat usahanya merosot. Bahkan salah satu cabang besarnya harus gulung tikar. “Saat itu, kami sudah putus asa, bahkan berencana hanya mempertahankan satu resto yang ada saja,” tuturnya.

Baca juga:  Dara Manis Ini Mengaku Dipaksa Ikut Denok Kenang

Tapi keadaan semakin memburuk. Bahkan satu resto hanya bisa bertahan. Malah kadang harus tombok untuk membayar gaji karyawannya. “Tapi sebisa mungkin kami bertahan,” tuturnya.

Akhirnya, pada awal 2021, keduanya mencoba menu baru. Yakni, dengan menu berkelas tapi harga terjangkau. “Kami tambah menu andalan masakan lobster dengan tagline Lobster untuk Semua,” akunya.

Ternyata masakan lobster disukai pelanggan. Hingga April 2021, keduanya membuka kembali Resto After Break cabang Semarang di Sampangan, Gajah Mungkur. “Alhamdulillah laris manis. Malah kini sudah ada 20 karyawan,” paparnya.

Kesuksesan usahanya, diakuinya, karena keduanya saling mendukung. Selain itu, berani mencoba resep baru. “Saya yang membuat varian saos baru. Belajar dari Youtube, dan resep makanan di pencarian Google,” kata Doni.

Baca juga:  ATM Beras, Inovasi Memperkuat Ketahanan Pangan Kota Semarang

Beragam menu saos seafood ia coba. Biasanya ia ujicobakan kepada saudara atau teman untuk mencicipi menu baru. “Kalau enak dan laku kami pertahankan, kalau tidak ya kami ganti dengan menu lainnya,” tandasnya.

Lobster, diakuinya, masih sangat jarang di Indonesia. Khususnya Kota Semarang dan Kendal. Karena lobster ini sangat mahal, dan biasanya hanya dinikmati orang-orang kaya saja.

“Padahal Indonesia ini kaya dan melimpah akan lobster. Bahkan nomor satu di dunia. Makanya kami berprinsip memasarkan lobster agar rakyat Indonesia bisa menikmati dengan harga terjangkau,” katanya. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya