alexametrics

Narapidana Terorisme Diikutkan Pelatihan Membatik, hingga Tausiyah, dan Salat Berjamaah

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Melakukan pembinaan terhadap narapidana terorisme (napiter) bukan pekerjaan mudah. Di Lapas Wanita Bulu Semarang misalnya, ada seorang napiter yang sangat sulit untuk diajak bersosialisasi. Ini berbeda dengan tahanan lain yang dengan mudah berbaur satu sama lain.

Satu-satunya napiter di Lapas Perempuan (LPP) Semarang ini sempat tak mau berbaur sejak menjalani hukuman pada 2019. Adaptasi dengan lingkungan baru, apalagi penjara memang tidak mudah. Butuh waktu sekitar sebulan, napiter berinisial DY ini baru mau bersosialisasi dengan tahanan lain. Hal ini tak lain karena warga binaan dianggap berbeda dari kaumnya atau disebut thogut.

Sebelumnya, wanita 40 tahun ini menyendiri, dan tidak mau mengikuti pembinaan. Namun, seperti besi yang dapat dilelehkan, napiter ini tergerak dan mau mengikuti kegiatan.

“Awalnya napiter kami tidak mau mengikuti kegiatan pembinaan sama sekali, tetapi setelah dirangkul oleh pamong dan beberapa petugas, akhirnya dia mau mengikuti kegiatan pembinaan,” ujar Kepala Lapas Perempuan Semarang Kristiana Hambawani kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ketika itu, lanjutnya, napiter tersebut membawa anaknya yang masih berusia kurang dari dua tahun untuk tinggal di lapas. Hal ini justru menjadi kesempatan petugas dan warga binaan lain untuk mengajak berkomunikasi. Sebab, napiter ini hanya bicara seperlunya saja. Ibaratnya, harus diketuk dulu baru berbunyi. Padahal untuk kebutuhan seperti makan, ia bareng dengan wanita binaan pemasyarakatan (WBP)  lain. Kamarnya pun juga dicampur, tidak sendiri.”Kalau gak diajak ngomong ya diam. Kami pun pakai metode dekati anaknya dulu, baru ke napiternya,” katanya.

Baca juga:  Buat Kostum Sendiri, Pernah dapat Hadiah 14 Hari ke Jepang

Dari situ, ia mulai mau bersosialisasi. Meski pelan yang penting pasti. Kegiatan pertama, ia tertarik mengikuti olahraga voli, dan senam. Kemudian disusul kegiatan keagamaan seperti kegiatan tausiyah, dan salat berjamaah.”Awalnya cuma ikut tausiyah saja. Terus kalau yang lain salat berjamaah, dia pergi. Bilang waktunya beda,” tambahnya.

Tak hanya itu, kini DY menjadi salah satu peserta pelatihan membatik. Bersama 19 warga binaan lainnya, napiter tersebut mau mengasah keterampilan kemandirian. “Yang terbaru ini ikut pelatihan membatik. Keikutsertaan napiter dalam kegiatan kemandirian ini merupakan salah satu bukti keberhasilan pembinaan,” ujar kalapas bangga.

Dalam pelatihan kemandirian membatik ini, lanjutnya, sama sekali bukan karena paksaan. DY sendiri yang berminat. Ini sebagai bekal ketika bebas dari tahanan. Meski sebenarnya, sejak setahun terakhir ia sudah sekadar ikut-ikutan. Namun baru kali ini ia mau mengikuti pelatihan.

Baca juga:  Solo Raya Masuk Zona Merah Radikalisme

Untuk hasilnya sendiri, Kristiani mengakui bagus seperti karya warga binaan lain. Bahkan, DY sekarang turut terlibat dalam proyek membuat seragam warga binaan lain. “Bagus, sekarang ikut proyek batik kaos. Sering bawa lemburan ke kamar juga,” tambahnya.

Kendati demikian, napiter ini belum mau kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam kegiatan upacara, ataupun hormat pada bendera merah putih pun juga masih ditolak. Dari pamong sendiri, sudah mencoba memberikan wawasan kebangsaan, tapi tetap sulit. Sebagai upaya, petugas terus memberikan pembinaan dan konsultasi, dari situ diselipkan pengetahuan sedikit demi sedikit.

Bahkan peran dari pihak lain seperti Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Kepolisian, Dirjen Pemasyarakatan juga turut disertakan. Namun belum membuahkan hasil.  “Padahal, suaminya yang juga seorang napiter di Lapas Kelas IIA Pasir Putih Nusakambangan sudah mau kembali ke NKRI. Tapi dia belum mau,” tambahnya.

Baca juga:  Ternak Lele untuk Proses Reintegrasi Sosial

Untuk itulah pembinaan terhadap napiter perlu dilakukan secara optimal, dan bersinergi dengan berbagai pihak. Menurutnya, hal ini semata-mata dilakukan agar para napiter yang telah menjadi warga binaan di lapas nantinya dapat kembali ke tengah-tengah masyarakat, dan tidak mengulangi perbuatannya kembali. (ifa/aro) 

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya