alexametrics

Dikelola Siswa, Hasilnya Dijual secara Offline dan Online

Melongok Budidaya Sayur Segar di SMKN 1 Ngablak, Kabupaten Magelang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Lahan belakang SMK Negeri 1 Ngablak, Kabupaten Magelang penuh tanaman sayur. Ada kubis, selada, wortel, serta sayuran lainnya. Siapapun yang datang ke sekolah di kaki Gunung Merbabu ini akan betah berlama-lama.

Berdiri pada 2002, sekolah yang terletak di Jalan Raya Magelang-Kopeng Km 26 Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang ini memang konsen terhadap bidang pertanian. Berada di wilayah yang mayoritas adalah petani sayur, semakin mendorong pihak SMK Negeri 1 Ngablak mengembangkan dunia pertanian. Tidak sekadar teoritis, namun juga secara praktik.  Salah satu jurusan awal yang dirintis yakni Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura.

“Dengan lahan sekolah yang terbatas, kami harus kreatif dalam mengembangkan pola agribisnis. Di antaranya, bertanam secara hortikultura seperti yang sudah diterapkan,” jelas Kepala SMKN 1 Ngablak Nana Mulyana kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Nana menuturkan, dengan adanya lahan pertanian di sekolah dapat menunjang pembelajaran siswa. Sehingga siswa bisa kreatif. Pengelolaan lahan tersebut pun diserahkan kepada siswa. Guru hanya memberikan bimbingan. Siswa pun cukup antusias dengan adanya lahan pertanian tersebut. Selain menjadi media praktik, juga menjadi hiburan yang menyenangkan.

Baca juga:  Uang Hasil Jualan Stiker, Diserahkan ke Gubernur

“Kami desain sekolah sebagai tempat yang menyenangkan. Sehingga siswa datang ke sekolah tidak terbebani. Selain belajar tentang pertanian, mereka juga mendapat hiburan di lahan tersebut,” jelasnya.

Untuk lahan yang dikembangkan sebagai media pertanian luasnya sekitar 6.000 meter persegi. Hasil pertanian di SMKN 1 Ngablak sendiri juga bernilai secara ekonomi. Hasil budidaya sayuran dijual ke intern sekolah maupun ke pengepul. Selain secara offline, juga dilakukan secara online. Karena di SMKN 1 Ngablak ada juga jurusan Bisnis Daring dan Pemasaran. Hasil dari penjualan sayuran digunakan untuk pengembangan lahan pertanian di sekolah.

Dengan sistem yang dibangun tersebut, menurut Nana, banyak siswa di daerah sekitar yang tertarik masuk ke SMKN 1 Ngablak. Apalagi mayoritas berasal dari latar belakang keluarga petani. Pihak sekolah pun ingin mengubah anggapan bahwa bertani itu kuno, dengan cara menerapkan teknologi kekinian dalam bertani. “Konsep urban farming ataupun digital farming kami rintis. Siswa bisa praktik langsung di lahan pertanian yang ada di sekolah,” jelasnya.

Baca juga:  Bikin Alat Bantu Perawat, Aisyah Afnan Raih Silver Young Inventors Challenge 2021

Nana berharap dengan disediakannya media praktik tersebut, nantinya siswa mandiri setelah lulus dari SMKN 1 Ngablak. Sehingga bisa membuka lapangan pekerjaan, dan bukan menjadi pencari pekerjaan.

Di samping mengembangkan dunia pertanian, lanjut Nana, SMKN 1 Ngablak juga fokus di bidang peternakan. Mereka mempunyai peternakan ayam petelur maupun ayam potong di sekolah. Dikelola oleh siswa jurusan Agribisnis Ternak Unggas.

Selain menjual hasil ternak, para siswa juga digembleng untuk mengolahnya menjadi makanan bernilai ekonomi lebih. Seperti telur asir, naget, serta olahan lainnya. “Ya, ini supaya siswa bisa lebih kreatif,” ucapnya.

Selama pandemi Covid-19, siswa SMKN 1 Ngablak datang ke sekolah secara bergantian. Setiap hari, ada enam siswa per jurusan yang masuk sekolah. Mereka bertugas mengurus lahan pertanian maupun kadang ternak. (man/aro)

Baca juga:  Dilukis dengan Kuas, Pernah Dipamerkan di Arab Saudi

 

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya