alexametrics

Tetap Tenang, Tidak Panik, dan Perkuat Imunitas

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Kasus positif Covid-19 di Kota Semarang tengah menggila. Namun jumlah pasien korona yang sembuh juga banyak. Sampai saat ini tercatat sudah mencapai 44.170 orang yang dinyatakan sembuh dari Covid-19. Di antaranya, Kasubbag Pemberitaan Humas dan Protokol Setda Kota Semarang Siswo Purnomo dan Arty Yuniarto.

Siswo Purnomo alias Ipung terpapar Covid-19 pada awal Januari lalu. Ia masuk kategori orang tanpa gejala (OTG).  Kepada koran ini Ipung menceritakan, saat itu, tanggal 7 Januari 2021, ia merasa tidak enak badan. Karena ada kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan, Ipung memaksakan diri untuk mengikuti acara. Nah, setelah pulang dari kegiatan tersebut, ia merasa badannya semakin tidak karuan. Ipung pun berinisiatif untuk memeriksakan diri ke Puskesmas Pandanaran.

“Sekitar tanggal 9 Januari saya tes swab antigen di Puskesmas Pandanaran. Saat itu saya langsung divonis positif,” tutur pria kelahiran Semarang, 9 Mei 1980 ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Awal mula gejala yang ia rasakan adalah anosmia atau indra penciumannya tidak bisa merasakan bau. Itu sudah ia rasakan dua hari sebelum tes. Saat itu, ia mengira hidungnya tersumbat, dan badannya merasa panas dingin atau nggregesi.

“Dua hari sebelumnya tidak bisa mencium bau, saya kira cuma sakit biasa. Bindeng gitu, lalu setelah hasil tes keluar positif, istri dan anak saya ungsikan ke rumah mertua. Saya insiatif isolasi mandiri di rumah,”ceritanya.

Meski sudah dinyatakan positif, Ipung mencoba tidak panik dan menenangkan keluarganya. Ia yakinkan bahwa tertular atau terpapar Covid-19 bukan sebuah aib. Ia kemudian melapor ke Puskesmas Srondol Wetan, dan ditindaklanjuti dengan tes PCR.

Baca juga:  Tempat Wisata, Mal, Pasar dan Restoran Diperketat, Ganjar: Kalau Tidak Bisa Diatur, Tutup!

“Hasilnya sama, positif. Namun saya sudah mulai mencium bau selang beberapa hari, dan di hari ketujuh badan sudah lebih enak. Total saya lakukan isolasi mandiri selama 10 hari,” katanya.

Selesai melakukan tes, lanjut dia, pihak Puskesmas memberinya antibiotik dan vitamin untuk diminum. Antibiotik dan vitamin tersebut wajib dihabiskan selama menjalani isolasi mandiri. Ia tetap mencoba tenang dan menyemangati diri sendiri untuk bisa sembuh, dan kembali berkumpul dengan keluarga. Masalah makan, ia menyerahkan kepada katering untuk diantar, dan dicantolkan di depan rumahnya.

“Bayangannya sempat macam-macam, tapi saya tetap mencoba tenang, cari referensi cara isolasi mandiri. Misalnya, konsumsi lemon madu, berjemur, makan buah dan memperbanyak sayur,” tuturnya.

Di hari ketujuh, Ipung kemudian swab antigen mandiri di sebuah klinik kesehatan. Hasilnya negatif. Namun ia tetap menyelesaikan masa isolasinya hingga 10 hari sesuai anjuran. Hal itu tetap ia lakukan untuk menjaga orang sekitarnya tetap aman.

“Tiap bangun tidur saya mencoba mencium apapun, terutama sabun mandi. Minyak kayu putih juga saya oleskan di hidung,” katanya.

Ipung menjelaskan, sebelum mengikuti tes untuk mengetahui apakah mengidap Covid-19, ia menata hati dan menguatkan diri untuk melihat hasil tes. Semakin cepat ketahuan, maka semakin melindungi orang sekitarnya.

“Istilahnya pasrah, ikhtiar secara rohani dan medis. Setelah tahu positif, saya berpikiran banyak pasien sembuh dari virus ini,” ujarnya.

Baca juga:  Banting Setir, Mantan Pegawai Bank di Semarang Ini Sukses Jualan Bakso Wajan, Sehari Laku 300 Porsi

Tingginya kasus Covid-19 saat ini, dan belajar dari pengalaman yang didapat, Ipung berpesan kepada mereka yang baru saja mendapatkan vonis positif Covid-19 untuk tetap tenang dan tidak panik. “Karena semakin panik, justru imun kita turun,” tegasnya.

Agar cepat sembuh, lanjut dia, harus ada rasa optimistis ketika melakukan isolasi mandiri ataupun tinggal di isolasi terpusat. Anggap saja sebuah kesempatan untuk refreshing, dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

“Anggap saja sakit ini adalah pelebur dosa kita, Tuhan sayang sama kita, karena diberi sakit, dan diberi kesempatan untuk dekat dengan Tuhan melalui ibadah. Selain itu, aturan isolasi, misalnya olahraga, berjemur, dan minum obat harus dijalankan agar bisa cepat sembuh,” pesannya.

Gejala yang sama dirasakan penyintas Covid-19, Arty Yuniarto. Pria kelahiran 25 Juni, 52 tahun lalu  ini sempat menginap di rumah dinas (rumdin) Wali Kota Semarang selama beberapa malam.

“Gejalanya ya indra penciuman berkurang, bau menyengat seperti parfum tidak bisa dirasakan,” kata warga Semarang Barat ini.

Padahal secara fisik, ia merasa sehat, meskipun sempat merasa demam dan flu sebagai gajala awal yang ia anggap biasa karena cuaca. Sekitar 11 Juni lalu, Arty memberanikan diri melakukan swab test karena penciumannya hilang.

“Setelah dites, ternyata positif, dan diarahkan untuk isolasi di rumdin. Setelah di-tracking ternyata istri saya juga kena,” jelasnya.

Penerapan protokol kesehatan, menurut dia, sangat penting meskipun sudah mendapatkan vaksinasi seperti dirinya. Ia tidak mengetahui dari siapa, dan kapan mulai tertular virus Covid-19. Yang jelas, saat itu perasaannya campur aduk, diskriminasi, dan dijauhi orang sekitar dirasakannya.

Baca juga:  Bupati Temanggung Siap Divaksin Pertama

“Yang saya rasakan demikian, walau saya sudah dinyatakan sembuh, tapi masih banyak teman bahkan saudara yang menjauhi keluarga saya,” keluhnya.

Ia mencoba tegar meskipun merasakan tekanan psikologis akibat terpapar Covid-19. Padahal, menurutnya, stigma negatif yang diberikan hanya akan memperparah keadaan baik secara mental maupun pada penyebaran penyakit itu sendiri.

“Saya lebih fokus untuk memkerketat prokes, dan segera lakukan tindakan pencegahan dengan kooperatif pada pihak-pihak terkait,” tambahnya.

Tetap tenang dan berusaha tidak panik coba ia lakukan. Mondok di rumdin pun dianggap sebagai piknik sementara dan rehat dari hingar-bingar kehidupan serta tekanan pekerjaan. Aktivitas senam, berjemur, dan olahraga ia jalani dengan harapan sebuah ikhtiar untuk bisa kembali sembuh.

“Dua hari di rumdin, kemudian dites, Alhamdulillah negatif. Ya intinya adalah tetap tidak panik dan dibuat enjoy. Teman-teman juga memberikan semangat. Ya meningkatkan imun memang harus seperti itu, biar cepat sembuh,” katanya.

Setelah dinyatakan negatif, Arty pun diperbolehkan pulang, namun tetap melakukan isolasi mandiri selama 10 hari. Ia berpesan, agar masyarakat bisa menjaga diri dan mengikuti anjuran pemerintah.

Sing durung keno ojo ndablek (yang belum kena jangan ngeyel, Red) ikuti aturan dan anjuran pemerintah. Kalau kita kena, keluarga juga kena. Sudah divaksin bukan jaminan, yang jelas protokol kesehatan tetap harus dijalankan,” pesannya. (den/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya