alexametrics

Saling Memotivasi dan Menyemangati, Kini Sudah Hasilkan 36 Buku

Mengenal Pancawati, Lima Guru SMAN 1 Ambarawa yang Getol Menebarkan Virus Menulis

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Lima guru SMA Negeri 1 Ambarawa getol menebarkan virus menulis, khususnya menulis buku. Mereka tergabung dalam grup Pancawati. Kelima guru ini menularkan jiwa menulis kepada siswa, dan sesama guru. Apalagi sejak pembelajaran jarak jauh (PJJ), minat menulis siswa cenderung menurun.

MARIA NOVENA SINDUWARA, Ambarawa, Radar Semarang

SEMUA orang memiliki bakat menulis. Hanya saja, terkadang kurang terasah. Adanya motivasi dari orang lain bisa jadi akan menjadi pelecut semangat dalam menulis. Itupula yang dilakukan lima guru perempuan di SMA Negeri 1 Ambarawa ini. Mereka saling menebarkan energi positif, dan ajakan untuk menulis hingga mampu menerbitkan buku sendiri. Kelima guru kreatif itu adalah Heni Riyani Handoyo, 41; Kartilah Luwarso, 57; Natalia Susiana Dwi Apriyanti, 57; Erna Widyaningsih, 52, dan Dwi Hartati, 49. Mereka tergabung dalam grup Pancawati. Tagline grup ini adalah SUPER atau Sportif, Unggul, Penggerak, Elegan, dan Reformis.

Grup untuk saling memotivasi dalam menulis buku ini terbentuk pada 20 November 2019. Kebetulan kelima guru ini sama-sama memiliki hobi menulis. Namun sekadar dibaca sendiri. Tapi setelah ada teman yang menghasilkan buku, mereka terlecut semangatnya untuk mengikuti jejaknya. Hasilnya pun luar biasa. Kini, kelimanya sudah menghasilkan buku masing-masing. Total sudah 36 buku.

Heni Riyani Handoyo yang menjadi pelopor grup ini mengatakan, banyak waktu luang guru yang bisa dimanfaatkan untuk menulis buku. Apalagi sejak Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dikampanyekan, menjadi pelecut asa kalangan pendidik untuk menghasilkan karya.

“Menulis buku itu tidak hanya bagi guru Bahasa Indonesia saja. Tapi, semua guru punya kesempatan yang sama. Nyatanya lima guru yang tergabung dalam Pancawati justru tak ada guru Bahasa Indonesia,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang awal pekan ini. “Menulis itu sangat penting. Rasanya bangga banget ketika saya bisa menerbitkan buku,” tambah guru Bahasa Inggris ini.

Baca juga:  Mahasiswa IKIP Veteran Sukses Budidaya Sawo Raksasa, Pasarkan Buah ke Thailand, Malaysia, dan India

Wanita kelahiran Purbalingga ini mengaku sudah akrab dengan sejumlah penerbit buku. Sejumlah buku sudah berhasil diterbitkan. Ada Rahasia Hati Bu Guru Hani, Gempar, Amazing Teacher, Pelangi Praktik Literasi, Renjana, dan yang terbaru Kirana. Dari situ, ia mulai mengajak teman-temannya sesama guru. Jurus getok tular Heni pun membuahkan hasil. Empat guru lainnya ikut bergabung. Mereka saling memberikan semangat. Kelimanya juga eksis menulis di sosial media, khususnya Facebook. Untuk pengalaman sehari-hari, mereka tulis di laman Facebook.

Kartilah Luwarso, guru BK kini telah menghasilkan delapan buku. Natalia Susiana Dwi Apriyanti, guru Bahasa Inggris, dengan 18 buku. Erna Widyaningsih, guru Fisika, enam buku, dan Dwi Hartati, guru Kimia telah menghasilkan 15 buku. Di antara buku yang mereka tulis memang ada yang antologi atau buku yang ditulis oleh beberapa orang. Setiap bulan mereka menargetkan menerbitkan satu buku. Untuk buku solo, paling cepat butuh waktu 14 hari untuk menulisnya, dan siap diterbitkan. Berbeda dengan buku antologi, yang membutuhkan waktu lebih lama, karena menunggu dari penulis yang lain.

“Saat menulis, biasanya saya cari waktu luang yang tidak boleh mengganggu jam kerja. Karena saat ini PJJ, justru waktu luang semakin sedikit, karena persiapan PJJ lebih banyak dibandingkan pembelajaran tatap muka (PTM),”kata Natalia yang telah menulis buku berjudul Amanda dan Easy And Fun With Cerpen-Gram ini.

Baca juga:  Discovery Learning Tingkatkan Menulis Teks Descriptive

Heni tak menampik, karena kesibukannya menulis itu sempat diprotes sang suami. Sebab, ia selalu sibuk dengan handphone atau laptop. Namun setelah ditunjukkan hasil bukunya, sang suami justru meminta Heni terus menulis. “Suamiku pernah ngomel gara-gara sering buka handphone dan berlama-lama di depan laptop. Tapi, setelah tahu hasilnya, sekarang justru disuruh nulis terus,”ujar Heni sambil tersenyum.

Pengalaman serupa dialami Kartilah. “Sekarang keluarga justru menyemangati saya untuk terus menulis,” ucap penulis buku Gerbang Menggapai Harapan dan Kilas Balik Rukmo ini.

Tak ingin bakat menulis dinikmati sendiri, mereka pun sepakat menularkan ke siswa. Sebab, hampir 1,5 tahun pembelajaran daring, para siswa mulai dihinggapi rasa bosan, jenuh, dan malas. Bahkan, saat PJJ tak jarang siswa tiba-tiba menghilang dari layar google meeting maupun zoom. “Ada yang beralasan sedang mengantar ibunya ke pasar saat pelajaran daring,” ceritanya sambil tersenyum.

Nah, untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab siswa selama PJJ, para guru anggota Pancawati ini meminta siswanya mengomentari terkait PJJ dalam bentuk tulisan. Tulisan para siswa itu pun akhirnya dibukukan. “Ketika sudah jadi buku, lalu kita berikan ke siswa yang menulis. Mereka senang banget. Bahkan, ada satu siswa yang sekarang sudah lulus, kini menjadi penulis produktif. Malah lebih jago dari kami,”timpal Erna Widyaningsih, yang telah menghasilkan buku berjudul Menguak Takdir Menepis Mimpi ini.

Fee dari penjualan buku sama sekali tak dikomersilkan. Bagi mereka, justru ketika buku dibaca oleh siswa lebih puas. Siswa mengikuti jejak mereka itu merupakan misi awal Pancawati. “Kalau ada siswa tanya tentang bagaimana menulis buku, rasanya senang sekali. Langsung jiwa membimbing bergejolak,”lanjut Kartilah disusul tawa anggota Pancawati.

Baca juga:  Mempertahakan Keroncong di Sudut Taman Kota

Diakui Dwi Hartati, kebanyakan buku yang ia tulis merupakan kisah pribadi. Pasalnya, kisah hidup memang lebih mudah ditulis dan dituangkan tanpa harus berpikir. Alurnya pun lebih menarik emosi si pembaca. Salah satunya buku milik Dwi Hartati berjudul Kuterima Takdirku yang terbit 2019. Buku tersebut berisi kisah perjalanan hidupnya yang ditinggal pergi untuk selamanya oleh sang suami, almarhum Muhammad Asnawi. Bahkan saat itu Dwi sudah tak ada lagi harapan hidup. Datang ke rumah sakit jiwa atau psikolog sudah menjadi makanan rutin.

“Tapi setelah menulis perjalanan dua tahun itu seperti menjadi kenangan yang tidak bisa dilupakan. Nulis itu juga sambil nangis. Tapi, menulis justru membuat saya sembuh dari penyakit kecemasan yang berlebihan,”curhatnya.

Kini, hampir setiap hari Dwi menulis pengalaman sehari-hari di laman Facebook. “Saat saya berangkat kerja dari rumah di Salatiga sampai SMAN 1 Ambarawa pun bisa jadi bahan tulisan,” kata ibu tiga anak ini. Bahkan, cerita kucing milik tetangganya yang ‘kerasan’ di teras rumahnya pun bisa jadi materi tulisan.

Kini, anggota Pancawati tengah berkolaborasi bersama untuk menulis buku pembelajaran daring dari empat mata pelajaran yang bisa dijadikan satu. Sehingga siswa tak perlu lagi pusing dengan tugas yang menumpuk dari para guru. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya