alexametrics

Museum BPK RI, Simpan Mesin Heidelberg, Pajang Mobil Volvo GL 690

Belajar Sejarah dengan Berkunjung ke Museum di Kota Magelang (2/bersambung)

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Museum Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI ada di Kota Magelang. Dengan memperhatikan tren museum post-modern. Lokasinya di kompleks eks kantor Karesidenan Kedu. Dikenal sebagai kompleks kantor Bakorwil II Kedu-Surakarta. Museum ini satu-satunya di Indonesia.

Menurut Kepala Museum BPK RI Dicky Dewarijanto, Museum BPK terdiri dari 14 ruangan dengan desain interior yang berbeda, dan instagramable. Di ruang utama, ada ruang lobi yang terdapat tagline museum “BPK Pengawal Harta Negara”, dan terdapat fasilitas lantai interaktif. Ada pula wajah dua tokoh yang punya peranan penting dalam pendirian BPK. Mereka disebut Dwi Tunggal Proklamator Kemerdekaan Indonesia, Soekarno-Hatta. Kemudian ruang audio visual, ruang wajah BPK, ruang titik nol, ruang BPK, dan ruang rekam jejak.

Dicky menjelaskan, ruang titik nol merangkum eksistensi BPK. Menampilkan potret perjalanan BPK sejak pertama berdiri di Magelang, sampai sekarang. Terpajang pula mesin cetak Heidelberg yang sudah tidak berfungsi. Mesin tersebut untuk mencetak laporan hasil pemeriksaan tahunan (haptah), dan laporan hasil pemeriksaan semester (hapsen). Mesin Jerman itu kali pertama dipakai BPK pada 1986.

Baca juga:  Ganti Baju Sebelum Sentuh Hewan Ternak

Dicky membagikan buku panduan museum BPK kepada wartawan koran ini. Buku ini juga mengulas sejarah berdirinya BPK pada 1 Januari 1947. R Soerasno diangkat sebagai ketua pertama, Dr Aboetari sebagai anggota, dan Djunaedi sebagai sekretaris BPK. Tempat kedudukan sementara waktu di Kota Magelang.

Pemilihan kota ini beralasan. Mempertimbangkan pascaproklamasi kemerdekaan RI, kondisi keamanan Jakarta sebagai ibukota negara tidak kondusif. Karena itulah, awal 1946, pusat pemerintahan Indonesia dipindah ke Jogjakarta. Kantor-kantor kementerian turut dipindah. Kota Magelang dipilih pemerintah sebagai tempat kedudukan BPK.

Namun, kantor BPK sempat beberapa kali pindah. Awalnya di bekas kantor perusahaan listrik umum Hindia Belanda. Lalu pindah ke Gedung Bea Cukai Magelang. Pindah lagi ke salah satu bangunan di kompleks Karesidenan Kedu, dan pindah lagi ke Gedung Klooster.

Baca juga:  Jajaran Pemkot Diminta Tidak ke Luar Kota

Kantor BPK di kompleks Karesidenan Kedu itulah kemudian menjadi tempat didirikannya Museum BPK. Peresmiannya 4 Desember 1997. Awalnya luas bangunan museum 163,80 meter persegi. Tahun 2016, museum ini diperluas. Bahkan sebagian gedung kantor Bakorwil II Kedu-Surakarta dihibahkan oleh Pemprov Jawa Tengah untuk pengembangan museum. Luas museum mencapai 3.880 meter persegi. “Ciri khas museum ini adalah digitalisasi,” katanya.

Sehingga tanpa pemandu wisata, pengunjung bisa mengakses informasi sendiri. Ada juga permainan mendaftar menjadi pegawai BPK RI, dan sebagainya. Dengan tampilan yang kekinian, Dicky berharap museum BPK RI bisa menjadi pusat pelestarian nilai dan pengetahuan, serta hasil kerja BPK yang komunikatif, edukatif, dan rekreatif.

Baca juga:  Brigjen Candra Wijaya Gubernur Akmil

Pemandu museum Awiek Prama Yudha menambahkan, ruang pendukung museum terdiri dari kids museum, perpustakaan, storage dan konservasi. Lalu ruang temporary exhibition. Museum ini dikelola Biro Humas dan Kerjasama Internasional BPK. Namun selama pandemi Covid-19, museum belum dibuka untuk umum. Kunjungan museum baru dilayani secara daring melalui zoom meeting.

Ketika mengunjungi museum ini, jangan lupa berfoto bersama mobil Volvo GL690. Mobil ini diberikan pemerintah kepada M Yusuf atas pengabdiannya sebagai Ketua BPK RI periode 1983-1993. Keluarga M Yusuf menghibahkannya untuk keperluan museum. Sampai saat ini masih terawat baik. Jarak pemakaian mobil ini masih menunjukkan sekitar 4.160 kilometer. (put/lis)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya