alexametrics

Hanya Pakai Satu Kamera, Kesulitan Menjiwai Karakter

Di Balik Film Pendek “Iswari dan Jayanti” Karya Siswa dan Guru SMPN 3 Patebon, Kendal

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Film pendek berjudul “Iswari dan Jayanti” berhasil menjuarai Festival Film Edukasi Kendal Handal yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kendal. Film ini dibuat dan dimainkan oleh para siswi SMP Negeri 3 Patebon, Kendal.

BUDI SETIYAWAN, Kendal, Radar Semarang

FILM berjudul Iswari dan Jayanti hingga tadi malam sudah tembus 1.826 penonton di kanal Youtube SMP Negeri 3 Patebon. Film berdurasi 10 menit ini mengisahkan dua anak yatim yang tidak memiliki ayah. Kakak beradik ini juga ditinggal oleh ibunya merantau. Untuk mencukupi kehidupan sehari-hari, sang kakak Iswari yang diperankan oleh Melani Wijiningtyas harus bekerja.

Iswari harus rela mengorbankan tidak sekolah demi mencari uang. Bahkan Iswari dan Jayanti sering dibully alias dirundung oleh teman-teman sebayanya. Karena berlatar belakang keluarga miskin.

Singkat cerita, setelah mendapatkan bantuan dari sang guru, Kiswari, akhirnya Iswari mendapatkan pekerjaan layak di pembuatan gerabah Dukuh Pekunden, Kelurahan Langenharjo, Kendal. Iswari juga bisa bersekolah lagi. Ia dan adiknya, Jayanti, bahkan bisa meraih juara kelas. Tak hanya itu, keduanya juga meraih juara lomba tari, dan berkesempatan diundang ke kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kendal, yang menjadi ending film pendek ini.

Baca juga:  Selesai Dilantik, Sorenya Dapat Kiriman Pengungsi

Pesan yang ingin disampaikan dari film ini bahwa prestasi tidak hanya dimiliki orang kaya yang hidup serbakecukupan. Tapi asal mau bekerja keras, prestasi bisa diraih sekalipun hidup serbakekurangan.

Cerita yang begitu dramatis, mengajak siapapun yang menonton bisa larut dalam film tersebut. Bahkan, bisa sampai meneteskan air mata. Meskipun memang ada beberapa adegan yang memang kurang, tapi bisa ditutupi dengan alur cerita yang menyentuh hati.

Kepala SMP Negeri 3 Patebon Nunuk Sri Harjanti mengatakan, proses pembuatan film ini dari persiapan sampai jadi, diakuinya, sangat pendek. Yakni, hanya 10 hari saja. Mulai dari penulisan skenario, skrip dialog sampai pada pemilihan siswa yang memainkan karakter Iswari, Jayanti, dan Kiswari (pemeran guru).

Uniknya, ini adalah film pertama. Baik guru dan 17 siswa yang terlibat di film tersebut semua belum pernah berakting maupun pengalaman dalam pembuatan film. “Jadi, baru semua, saya pilih guru-guru muda yang memang enerjik. Ada kreativitas dan inovasi. Sehingga ada proses kaderisasi di SMP Negeri 3 Patebon ini,” katanya.

Baca juga:  Frandi Charisma, Angkat Kembali Tembakau Temanggung ke Pasaran

Kesuksesan film ini, diakuinya, dari ide Ana Rahmawati Ningsih, Guru Bahasa Inggris setempat. Ia yang menulis cerita film Iswari dan Jayanti ini.

“Karena ini film edukasi, jadi kami angkat pendidikan yang kami balut dengan budaya kearifan lokal berupa tari. Yakni, Tari Opak Abang dan kerajinan gerabah di Kelurahan Langenharjo,” ujar Ana.

Diakui guru asli Gubug, Grobogan ini, Iswari dan Jayanti adalah film debutan pertamanya. Ia memiliki pengalaman membuat film karena sebelumnya pernah ikut belajar di VIU Indonesia. “Jadi sedikit banyak belajar membuat alur cerita, dialog, setting tempat, dan sebagainya,” tandasnya.

Kesulitan dalam pembuatan film ini, yakni dari awal sampai akhir hanya menggunakan satu kamera. Sehingga harus take berulang-ulang untuk bisa menghasilkan gambar video dari angle yang berbeda.

“Satu take bisa berkali-kali, karena hanya satu kamera,” kata Guru Seni Budaya SMP Negeri 3 Patebon Wildan Qurrata A‘yun. Ia merupakan kameramen sekaligus editing video.

Baca juga:  Bikin Wayang Gunungan Kreasi, Pesanan Mulai Mengalir

Teguh Prasetyo, guru olahraga yang menjadi sutradara mengaku, harus take berulang-ulang untuk satu adegan. Sebab, siswa yang bermain belum memahami skrip. Juga belum memahami karakter dari tokoh yang diperankannya.

Ia bersama Retno Sulistyowati, Guru Bahasa Inggris sebagai penata make up dan busana, membantu siswa memahamkan masing-masing karakter yang diperankan.
“Saya minta anak-anak itu membayangkan seolah-olah kejadian itu nyata, dan menimpa dirinya. Jadi, bisa menghayati skrip maupun karakter tokoh yang dimainkannya,” kata Retno.

Melani Wijiningtyas, Keysha Anindya Putri Adhisty (pemeran Jayanti) dan Brilian Cintia Pratiwi (pemeran Kiswari), ketiganya mengaku mendapatkan pengalaman baru dari film yang dibintanginya. “Kami bisa belajar akting, dan lebih percaya diri saat berada di depan kamera,” kata Brilian.

Keysha mengaku sempat kesulitan untuk menjiwai karakter tokoh. Tapi film, menurutnya, bisa hidup ketika masing-masing pemeran bisa memainkan perannya sesuai karakter tokoh dalam cerita. “Kami terima kasih kepada bapak ibu guru, sehingga kami bisa mendapatkan ilmu baru di sekolah ini,” ujarnya. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya