alexametrics


Produksi Pupuk Cair, hingga Kembangkan Kampung Pusat Bahasa

Turjangun, Warga Batang Pelopori Pembuatan 400 Biogas di Jateng

Rekomendasi

Menarik

RADARSEMARANG.ID, Turjangun, warga Desa Amongrogo, Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang, sejak 2010 berkecimpung dengan kotoran ternak. Ia mulai merintis pembuatan biogas di kandang kerbau milik tetangganya. Hingga kini ia sudah memelopori pembuatan 400-an biogas di Jawa Tengah. Mulai Blora hingga Cilacap.

OLAH PUPUK ORGANIK: Turjangun saat mengecek puluhan tandon besar penuh berisi pupuk cair yang siap dikemas dalam botol (kanan) Turjangun mengemas pupuk cair dalam kemasan botol 1 liter. (RIYAN FADLI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
OLAH PUPUK ORGANIK: Turjangun saat mengecek puluhan tandon besar penuh berisi pupuk cair yang siap dikemas dalam botol (kanan) Turjangun mengemas pupuk cair dalam kemasan botol 1 liter. (RIYAN FADLI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RIYAN FADLI, Batang, Radar Semarang

SIAPA sangka, di pelosok desa yang jauh dari pusat kota Batang ada kompleks pengolahan limbah dan edukasi terpadu. Lokasinya di Dukuh Manggisan, berada di tengah hamparan persawahan yang luas Desa Amongrogo, Kecamatan Limpung. Ada tiga bangunan besar di sana. Yaitu, madrasah, balai latihan, dan pusat pengolahan kotoran ternak.

Kompleks terpadu itu digagas Turjangun, kader penggerak organisasi Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama Jawa Tengah (LPPNU Jateng). Ia punya angan-angan besar mengembangkan Dukuh Manggisan menjadi pusat edukasi terpadu.

“Walaupun neng tengah sawah, jangan sampai orang Indonesia tertipu prodak dari luar gara-gara tidak tahu bahasa. Sehingga kepinginnya teh malah dapat gadung,” gurau pria 50 tahun ini memulai perbincangan.

Angan-angan itu mulai terwujud berawal dari pengolahan kotoran ternak. Menggunakan kocek pribadi, pada 2010 ia membuat piranti pembuatan biogas di kandang kerbau tetangganya. Pak Tur –sapaannya– mengajak Jawa Pos Radar Semarang menuju tempat pengolahan biogas tersebut.

Ia menjelaskan, tempat penampungan kotorannya mampu menampung 20 kubik. Memanfaatkan kotoran empat ekor sapi, biogas yang dibuat bisa tersalur ke empat rumah. Empat keluarga bisa memasak menggunakan kompor biogas hasil kotoran sapi.

“Biogas ini sekarang sudah tidak beroperasi sejak dua tahun lalu. Kerbaunya sudah dijual pemiliknya. Ternak ini kan sebagai celengan, kalau ada kebutuhan ya dijual,” terangnya.

Ia pun bercerita perjuangan kala membangun biogas tersebut. Saat awal, Pak Tur harus membeli satu truk kotoran ternak untuk dimasukkan ke sumur penampungan. Itu dilakukan untuk memancing gas, supaya bisa keluar saat pemilik ternak memasukkan kotorannya. Ia pun tidak bisa berbuat banyak, kala hasil karyanya itu kini telah vakum. “Harapan saya ya bisa kembali dimanfaatkan,” ujarnya.

Berawal dari biogas itu, ia terus membangun biogas di berbagai daerah di Jateng. Total ada 400-an biogas yang digagasnya. Dibangun mulai dari Blora hingga Cilacap. Namun di Kabupaten Batang sendiri hanya ada satu, di tetangganya tersebut.

Melihat limbah kotoran padat hasil biogas yang tidak termanfaatkan, Pak Tur kepikiran membuatnya menjadi pupuk. Bekas kolam renang yang dibangun di tengah sawah disulapnya menjadi tempat penampungan kotoran. Koran ini berkeliling di lokasi penampungan tersebut. Luasnya setara dengan lapangan futsal.

Bau fermentasi mendominasi udara di sana. Puluhan tandon besar penuh terisi pupuk cair. Ribuan liter pupuk cair itu siap dikemas dalam botol 1 liter. “Alhamdulillah dari biogas, saya bisa membuat pusat pengolahan pupuk organik cair. Tiap kali produksi butuh waktu 21 hari untuk jadi pupuk cair. Sekali produksi bisa menghasilkan 5.300 liter pupuk organik cair,” terang Pak Tur.

Melalui pupuk itu, saat produksi ia bisa mempekerjakan 15 hingga 50 orang menyesuaikan pesanan. Sementara bahan baku pembuatan pupuk organik itu didapatkan dari Kabupaten Batang dan luar daerah. Ia punya gambaran bahwa petani harus bisa merdeka tani. Pupuknya tidak perlu membeli, tapi membuat sendiri. “Untuk memasak, gasnya tidak usah beli. Bisa membuat biogas. Jadi, pertanian organik ini untuk kemandirian petani, kita ajari,” katanya.

Konsep tersebut dikampanyekannya ke berbagai wilayah di Jateng. Melalui NU, dibuatlah kelompok Kadang Tani Sarwo Tulus di setiap ranting NU tingkat desa di Jateng. Sementara pasarnya melalui Koperasi Serba Usaha Jagat Kamulyan.

Tak sampai di situ, Dukuh Manggisan kini dijadikan sebagai kampung pusat bahasa, seperti di Pare, Kediri. Namun dengan konsep bahasa lebih banyak. Sarana edukasi itu mulai dibuka sejak 2020 sebelum pandemi Covid-19 muncul. Ratusan orang telah belajar di sana. Pembelajarannya kini dilakukan di balai pelatihan PC NU Dukuh Manggisan.

Sebelumnya kampung bahasa hanya menerima murid dari lingkungan sekitar. Alasannya, untuk menghindari penyebaran Covid-19. Namun sejak Lebaran Idul Fitri tahun ini, peserta dari berbagai daerah sudah diperbolehkan.

“Harapannya ini sebagai percontohan nasional. Jadi tidak hanya Kampung Inggris, tetapi juga mencakup berbagai macam bahasa asing lainnya. Saat ini, ada lima bahasa asing yang dipelajari. Yaitu, Inggris, Arab, Mandarin, Jepang, dan Jerman,” ujarnya.

Pembelajaran di sana gratis alias tidak dipungut biaya. Ia berujar ada satu rencana jangka panjangnya yang menjadi rencana jangka pendek. Ia berharap di masa mendatang bisa membuka kampus internasional di Dukuh Manggisan. Salah satu kampus dari Australia sudah berbicara kepadanya, akan membuka kampusnya di Dukuh Manggisan.

“Dari Australia pengin buka kampus di sini. Padahal itu dahulu rencana jangka panjang, tapi jadi jangka pendek. Saya sudah beli tanah untuk mempersiapkan semuanya sejak 2017. Sekarang mulai membangun ekonomi. Kemudian membangun gedung. Sekecil apapun saya tidak mengandalkan pemerintah,” tandasnya. (*/aro)

Tinggalkan Balasan

Terbaru

Populer