alexametrics

Tampung Anak-Anak Pelosok, Terapkan Konsep Modern

Joko Ribowo, Kiper PSIS Semarang Kelola Sekolah Sepak Bola

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Di tengah kesibukannya sebagai penjaga gawang PSIS Semarang, ternyata Joko Ribowo sudah mempunyai sekolah sepak bola (SSB). Ia punya keinginan memfasilitasi dan mencetak atlet sepakbola sejak usia dini.

MIFTAHUL A’LA, Radar Semarang

Sekolah sepak bola milik Joko Ribowo terletak di Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati. Namanya Joko Ribowo Football Academy (JRFA). SSB ini menjadi wadah bagi anak-anak di Pati Raya untuk mengembangkan bakat di dunia sepak bola. Terutama bagi anak-anak berbakat dalam sepak bola yang selama ini belum tersentuh pelatihan secara profesional. SSB ini juga menjadi penyaluran positif bagi anak-anak agar terhindar dari pergaulan bebas.

Joko mengaku, JRFA sudah berdiri sejak 2018. Puluhan anak berbakat sudah menjadi anak didik di SSB tersebut. Akademi ini bukan hanya menggembleng khusus anak-anak yang memiliki talenta saja. Tetapi yang belum bisa bermain sepak bola pun bisa belajar, dan berlatih bersama.

Baca juga:  Prediksi Susunan Pemain Persiraja vs PSIS, Mahesa Kenar Waspadai Motivasi Tim Juru Kunci

“Saya pecinta dan pelaku sepak bola, jadi ingin mengabdi untuk perkembangan olahraga sepak bola,” kata Joko.

Keinginannya untuk mendirikan SSB bukan tanpa alasan. Banyak anak yang memiliki potensi cukup besar di dunia sepak bola. Tapi, masih belum optimal, karena seringkali tidak terpantau. Apalagi di daerah pelosok yang seringkali tidak terlihat oleh pencari bakat. “Nah saya memang ingin memfasilitasi anak-anak usia dini agar punya wadah,” ujarnya.

Saat ini, Joko masih aktif sebagai penjaga gawang PSIS Semarang. Biasanya ia menyempatkan waktu luang untuk melatih sendiri anak-anak di SSB miliknya. Untuk melatih, ia menggandeng sejumlah pihak. “Paling kalau libur, saya baru ikut melatih di SSB,” katanya.

Baca juga:  Lampu Stadion Jatidiri Berkekuatan 2.500 Lux

Pengalaman selama bermain sepak bola di sejumlah klub menjadi modal utama. Apalagi Joko juga sudah mengantongi lisensi C AFC di dunia kepelatihan. Tentunya teori dan praktik langsung menjadikan modal penting bagi SSB yang dimiliki. “Konsep sepak bola modern itu sangat penting. Makanya saya terus menerapkan untuk generasi sekarang,” akunya.

Bagi pria asal Demak ini, ilmu kepelatihan yang dimiliki juga sudah diterapkan dan bermanfaat bagi anak asuhnya di JRFA. Sebab, salah satu tujuannya mengikuti kursus kepelatihan ini memang untuk mengembangkan JRFA. Sehingga JRFA bisa turut berperan dalam menghasilkan pesepak bola profesional di masa mendatang.

“Saya aplikasikan tentang filanesia atau filosofi sepak bola Indonesia, supaya bermanfaat untuk anak didik SSB di masa depan,” katanya.

Baca juga:  Langganan para Jenderal, Penjualan sampai Belanda, Portugal, dan Turki

Siswa SSB adalah anak-anak kelahiran 2008 sampai 2018 atau berusia 3-12 tahun. Diakui, karena masih anak-anak, antusiasme mereka pasang surut. Sejumlah orangtua juga kadang belum membolehkan anak-anaknya bermain bola.

“Ya, yang penting bikin anak enjoy dan senang dengan sepak bola. Itu yang penting dari awal untuk menanamkan bagi anak-anak,” ujarnya.

Dikatakan, di JRFA, bukan banyaknya siswa yang jadi tujuan utama, tapi konsistensi dalam berlatih, kerja keras, kedisiplinan, berlatih, tanggung jawab, prihatin, dan sikap para siswa yang paling penting.

“Jadi menjadi pesepakbola tidak hanya skill, tapi harus diimbangi dengan kedisiplinan, kerja keras, dan attitude yang baik. Agar nanti ketika sudah profesional tetap menjadi diri sendiri, dan rendah hati,” katanya. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya