alexametrics

Sempat Tiga Kali Gagal Olah Buah Nangka Jadi Keripik Nangka

Hendi Priyono, Dari Rasa Keprihatinan, Jadi Mata Pencaharian

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, UNGARAN – Tak tahan melihat nangka membusuk dalam waktu cepat, warga Jambu akhirnya kreatif. Mereka mengolah buah berduri lunak ini menjadi kripik yang enak. Bahkan cocok dijadikan cemilan.

Siapa yang tak mengenal buah nangka? Ya, buah yang diyakini berasal dari India ini memiliki tekstur lembut, dan baunya khas menyengat. Buah ini tersebar luas di kawasan Asia Tenggara. Tak terkecuali Indonesia. Buah tropis yang masih satu kerabat dengan cempedak ini, tumbuh secara baik.

Masyarakat pada umumnya memanfaatkan buah nangka secara konvensional. Langsung dimakan saat buah sudah masak atau diolah menjadi sayur ketika nangka masih muda. Tak jarang, buah nangka dipadupadankan dengan bahan makanan lain untuk diolah menjadi kudapan dan minuman.

Kecamatan Jambu ini dikenal sentra buah nangka. Terutama di Dusun Kalimalang, Desa Kelurahan, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, buah nangka sangat melimpah. Jika sedang panen raya, banyak buah nangka kualitas baik yang akhirnya membusuk. Ujung-ujungnya dibuang begitu saja, karena tidak bisa dijual.

Baca juga:  Resep dari Rasa Bosan, Dikembangkan Sejak Tahun 1950

“Saya kok eman rasanya. Terus mikir produk apa ya yang bisa tahan lama dan punya nilai ekonomi tinggi. Tercetuslah ide bikin keripik nangka,” kata Hendri Wiyono, 37, warga Dusun Kalimalang RT 01 RW 06, Desa Kelurahan.

Dalam pembuatan keripik nangka, Hendri tidak mengikuti pelatihan ataupun kursus khusus. Hanya saja, suatu hari ia mengirimkan buah nangka ke pabrik pengolahan keripik di Surabaya. Di sanalah ia melihat langsung bagaimana buah nangka diolah menjadi keripik.

Berbekal pengalamannya itu, Hendri bertekad membuat hal yang sama. Tahun 2018, ia memulai eksperimen mengolah buah nangka menjadi keripik. Kemudian memesan berbagai mesin penggorengan khusus beserta pengering minyak dengan harga yang tidak murah.

Percobaan pertama hingga ketiga gagal. Mulai dari takaran minyak yang kurang pas, pemilihan buah nangka hingga lamanya waktu penggorengan yang kurang pas juga. Hasilnya ya keripik jadi gosong sehingga tak bisa dijual.

Ternyata mengolah nangka matang menjadi keripik tidak bisa dilakukan sembarangan. Butuh keterampilan khusus. Terutama harus memilih bahan baku buah nangka yang memiliki daging buah tebal dan rasanya manis.

Baca juga:  Uang Pensiunan Rp 2,4 Juta, Kini Jadi Ojek Online

“Buah yang dagingnya tipis tidak bisa digunakan. Sebab hasilnya kurang bagus. Penyortiran buah nangka menjadi kunci utama keberhasilan,” katanya.

Selanjutnya, buah nangka yang telah disortir tersebut dibelah menjadi dua bagian dan dibuang bijinya. Sebelum diolah, dimasukkan ke dalam freezer selama lebih dari 12 jam. Guna mendapatkan tekstur keripik renyah usai digoreng, minyaknya harus benar-benar panas. Setiap interval waktu 15 menit, tuas mesin harus diputar agar nangka matang secara merata. Sedangkan lamanya waktu penggorengan 2 jam.

Saat ini, mesin penggorengan yang ia miliki berkapasitas maksimal 15 kg. Dalam sehari, ia melakukan penggorengan tiga kali. Perbandingannya, setiap 4,5 kg nangka basah bisa menghasilkan 1 kg keripik nangka. Dalam sehari maksimal hanya mampu memproduksi 10 kg keripik nangka.

Untuk harganya beragam. Mulai dari Rp 20 ribu hingga Rp 140 ribu. Pemasarannya masih di sekitar Kabupaten Semarang, dijual secara daring dan beberapa dipajang di warung milik ibunya.

Baca juga:  Tari Tiga Daya Wujud Doa, Dipentaskan secara Daring

Diakui Hendri, dengan kapasitas mesin yang terbatas, ia kerap tak bisa memenuhi permintaan yang tinggi. “Makanya kami berencana mengembangkan lagi, termasuk penambahan kapasitas mesin agar produksinya bisa lebih banyak,” terangnya.

Terkait dampak pandemi Covid-19 bagi usahanya, Hendri mengaku, tidak terlalu banyak berpengaruh. “Alhamdulillah kami masih bertahan. Dampak pasti ada. Tapi relatif kecil. Apalagi ini sektor kuliner, masyarakat masih butuh jajan dan butuh camilan,” urainya.

Hendri berharap keripik nangka olahannya bisa bersaing dan bisa masuk ke outlet toko modern. Apalagi jika menjadi salah satu oleh-oleh di destinasi wisata Kabupaten Semarang.

“Sampai saat ini keripik nangka milik kami dengan brand 17, masih menjadi satu-satunya di Kabupaten Semarang. Harapannya bisa diterima masyarakat dan bisa menembus outlet toko modern sebagai potensi kuliner lokal dengan citarasa nasional,” katanya. (*/ida/ap)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya