alexametrics

Durasi Puasa 18 Jam, Tak Ada Suara Adzan

Merasakan Puasa Ramadan di Kota Bristol, Inggris

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Menunaikan ibadah puasa di negara yang umat Islamnya minoritas menjadi tantangan tersendiri. Termasuk di Inggris. Tahun ini durasi puasa di Negeri
Ratu Elizabeth ini selama 17-18 jam. Lebih lama 3-4 jam dibanding puasa di Indonesia yang hanya 14 jam. Berikut laporan Agung Nugroho, dosen Universitas Negeri Semarang (Unnes) yang tengah menempuh program doktoral di University of Bristol Inggris.

LEBIH RAMAI: Suasana di Shahjalal Jame Mosque Bristol saat puasa Ramadan 10 hari terakhir. (kanan) Agung Nugroho bersama istri dan anak. (AGUNG NUGROHO FOR JAWA POS RADAR SEMARANG)
LEBIH RAMAI: Suasana di Shahjalal Jame Mosque Bristol saat puasa Ramadan 10 hari terakhir. (kanan) Agung Nugroho bersama istri dan anak. (AGUNG NUGROHO FOR JAWA POS RADAR SEMARANG)

BULAN Ramadan di Inggris terasa sangat berbeda dibanding di Tanah Air, termasuk di Kota Semarang. Tak terdengar kumandang azan Maghrib penanda waktu berbuka puasa. Tak ada pengeras suara masjid yang membangunkan warga menjelang sahur tiba. Tak ada restoran yang memasang gorden untuk menutup hidangannya. Berbeda dengan di Indonesia, suasana menyambut Ramadan sangat terasa. Kemeriahan akan segera hadir bulan suci terlihat dari semaraknya iklan-iklan bernuansa religi di televisi. Tak hanya itu, spanduk dan reklame bermotif islami hadir menambah semarak di ruang publik.
Di Inggris, suasana terasa sama seperti hari-hari biasa. Tanpa hiruk-pikuk menyambut bulan puasa Ramadan. Ya, Inggris adalah negara yang bersifat sekuler, di mana keagamaan bukanlah menjadi suatu prioritas. Hal ini tercermin pada perbedaan sikap pemerintah dalam mengantisipasi datangnya bulan suci bagi umat muslim ini. Jika di Indonesia pemerintah mengeluarkan kebijakan libur untuk beberapa hari pertama Ramadan, dan memperpendek jam kerja bagi para karyawan, Pemerintah Inggris tidak memberikan keistimewaan apapun dalam kegiatan sehari-harinya.

Baca juga:  Petani Bunga Mawar Bandungan Siapkan Pasokan

Aktivitas kerja tidak mengalami pengurangan jam, dan tidak ada istilah libur awal puasa. Selain dari perbedaan sikap pemerintah tersebut, satu hal yang biasanya menjadi bahan pembeda antara puasa di Indonesia dengan puasa di negara Ratu Elizabeth ini adalah durasi atau lama umat muslim berpuasa. Jika di Indonesia waktu Imsyak sekitar pukul 04.00- 04.30 pagi, dan waktu berbuka sekitar pukul 17.30 hingga 18.10, di negara Inggris ini waktu puasa dimulai pukul 04.00 pagi, dan diakhiri pada pukul 20.30. Praktis, terdapat perbedaan durasi yang cukup lama antara puasa di Indonesia yang hanya sekitar 14 jam, dan di Inggris berlangsung sekitar 17 -18 jam. Salat Isya dan tarawih berjamaah dimulai sekitar pukul 22.30. Praktis, tidur sebentar, pukul 03.00 sudah harus santap sahur.

“Bahkan jika bulan puasa jatuh pada musim panas seperti tahun lalu, dan tahun sebelumnya, durasinya lebih panjang, mencapai 19 -20 jam. Ini karena pada musim panas (sekitar Juni hingga September, Red) matahari akan terbit sekitar pukul 04.00 pagi, dan akan terbenam sekitar pukul 22.00 hingga 22.30,” beber Ifran, muslim Pakistan yang tinggal di Bristol, Inggris.

Baca juga:  Tetap Njoget Walau Ambyar di Panggung Kahanan

Aswina Fathimatul Habib, warga Semarang yang mengikuti suaminya kuliah S3 di Bristol mengatakan, di sekitar tempat tinggalnya hanya ada satu masjid, yakni Shahjalal Jame Mosque Bristol. Namun masjid ini tampak sepi. Tak ada suara adzan saat tiba waktu salat lima waktu. Ini tentu berbeda dengan di Indonesia. Selalu ada adzan setiap datang waktu salat.

“Di Inggris, hal itu tidaklah mungkin bisa dilakukan. Dikarenakan adanya aturan yang tidak memperbolehkan adanya suara-suara keras yang dibunyikan di lingkungan masyarakat, termasuk dari tempat ibadah,” kata ibu satu anak, Musa Alfaronizam Nugroho ini.

Seorang pengelola masjid di Kota Bristol mengatakan, suatu tempat ibadah seperti masjid bisa terancam ditutup oleh Council atau pemerintah setempat jika ada pengaduan warga sekitar masjid yang merasa tidak nyaman dengan suara atau situasi hiruk pikuk ibadah. Praktis, masjid bercat krem itu terlihat sepi. Aktivitas masjid tampak ramai saat puasa 10 hari terakhir. Setiap habis salat lima waktu, para jamaah bergerombol keluar masjid. Kebanyakan warga berkulit hitam.

Baca juga:  Ramadan Sebagai Momentum Merajut Kebinekaan

Aswina menambahkan, di Inggris selama Ramadan tahun ini tidak ada istilah buka puasa bersama atau kumpul-kumpul. Apalagi sekarang masih pandemi Covid-19. “Sebelum pandemi, kegiatan-kegiatan seperti buka bersama, silaturahmi, dan berkumpul untuk mengikuti pengajian dapat dilaksanakan dengan mudah. Tapi pada masa pandemi ini, hal tersebut hampir mustahil untuk dilaksanakan. Hal ini dikarenakan aturan tegas dari pemerintah sini yang melarang adanya perkumpulan yang melibatkan banyak orang di satu tempat. Bahkan pemerintah tak segan memberikan denda yang cukup tinggi bagi orang- orang yang melanggar,” paparnya.

Meski banyak aktivitas keagamaan yang dibatasi, dan aktivitas sehari-hari yang tidak bisa dilaksanakan secara masal dengan aturan-aturan yang memayungi, secara keseluruhan Ramadan di Inggris berlangsung cukup baik. “Umat Islam tetap bisa menjalankan ibadah puasa dengan baik, sesuai aturan pemerintah sini,” kata alumnus Sastra Inggris Fakultas Bahasa dan Seni Unnes ini. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya