alexametrics

Mudik sebelum Penyekatan, Langsung Lapor ke Posko PPKM Mikro

Kisah Warga Pekalongan Tetap Pulang Kampung di Tengah Larangan Mudik

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Berbagai alasan mendasari para perantau tetap mudik meski pemerintah melarang. Salah satunya rindu kampung halaman karena lebaran tahun lalu tidak mudik. Menyiasati itu, para pemudik sengaja melakukan perjalanan mudik sebelum operasi penyekatan berlaku.

NANANG RENDI AHMAD, Pekalongan, Radar Semarang

BURI Buchaeri merasa lega. Idul Fitri mendatang, ia bisa merayakannya di kampung halamannya di Desa Jagung, Kecamatan Kesesi, Kabupaten Pekalongan. Selama ini, ia merantau di Lebakbulus, Jakarta. Di sana, pria 49 tahun ini berwirausaha produksi tempe.

Buri –sapaan akrabnya– tiba di kampung halamannya pada Jumat (30/4) lalu. Ia mudik bersama keluarga dan kerabatnya yang juga merantau di Jakarta. Total 10 orang, termasuk bayi, anak bungsunya. Ia mengendarai mobil pribadi. Saat wawancara ini dilakukan, mobil Buri terparkir di halaman rumah. Nomor polisinya berleter ‘B’ (Jakarta).
Ia mengaku, selama perjalanan lancar-lancar saja. Tak ada razia. Tak ada pengawasan. Ia mengambil rute Tol Pondok Pinang, Tol Cikarang Utama, Tol Cipali, kemudian keluar dan lewat jalan pantura. “Alhamdulillah lancar saja sampai rumah. Aman,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Baca juga:  Derita Non ASN yang Diberhentikan Pemkot Semarang: Ada yang Lupa Absen, Ada yang karena Gaptek

Ia teguh memutuskan mudik karena telah rindu kampung halaman. Tahun lalu, ia mematuhi anjuran pemerintah. Mengalah tidak mudik. Kali ini, ia sudah tak kuat lagi menahan rindu. “Ya, bagaimana, ya. Tahun lalu kami sudah patuh tidak mudik,” ucapnya.

Ia bukan tak tahu soal informasi mengenai larangan mudik. Ia pun paham akan ada operasi penyekatan. Karena itu, kata dia, sengaja melakukan perjalanan mudik sebelum penyekatan digelar mulai Kamis (6/5) hari ini hingga 17 Mei mendatang. “Katanya kan tanggal sekian. Ya, sudah kami ambil hari jauh-jauh sebelum tanggal itu,” ujarnya.

Cara yang sama juga dilakukan Ahmad Rifai. Ia mudik jauh-jauh hari sebelum operasi penyekatan. Ia tiba di Desa Jagung pada Kamis (29/3) lalu. Namun berbeda dengan Buri, alasan Rifai mudik karena belakangan dagangannya sepi. “Saya jualan tempe kecil-kecilan. Penjualannya sedang menurun. Jadi pulang,” katanya.

Baca juga:  Buat Kostum Sendiri, Pernah dapat Hadiah 14 Hari ke Jepang

Berbeda juga dengan Buri, Rifai mudik naik bus. Bersama kakaknya. Selama perjalanan, kata dia, tak ada hambatan apapun. “Tidak ada operasi apa-apa. Lancar,” ungkapnya.

Tahun lalu, Ahmad Rifai mudik. Namun sebelum gelombang pandemi Covid-19 sampai ke Indonesia. “Tahun lalu saya mudik lebih awal. Sudah di sini, baru ada geger pandemi,” terangnya.

Baik Buri maupun Rifai, keduanya telah mematuhi peraturan Pemerintah Desa Jagung. Begitu tiba di desa, mereka melapor ke posko Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mikro.. Keduanya merupakan pemudik yang menjadi sampling rapid test antigen di Desa Jagung. Meski hasilnya negatif, mereka tetap melakukan isolasi mandiri. Sejak tiba di desa, belum pernah ke mana-mana.

Baca juga:  Dari Kaki Gunung Prau, Pernah Pentas hingga Jakarta

Kepala Desa Jagung Ade Fernando Binar Luhur Budi kemarin mendatangi Buri dan Rifai. Pak Kades ingin memastikan mereka masih di rumah dan sehat. “Mereka patuh. Waktu sampai desa ini, keduanya langsung lapor. Tanpa diminta,” kata Ade.

Hingga kemarin, kata Ade, tercatat sudah ada 92 pemudik masuk Desa Jagung. Pihaknya sejak lama sudah menyiapkan dua posko. Satu di kantor balai desa. Satu di tengah desa. “Yang di kantor sif siang. Yang di tengah desa sif malam, oleh warga dan Linmas. Alhamdulillah semua kooperatif dan kondusif,” ucapnya. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya