alexametrics

Ramadan, Pesanan Sajadah, Mukena, dan Totebag Meningkat

Melongok Aktivitas Menjahit Warga Binaan Lapas Wanita Bulu Semarang

Rekomendasi

Menarik

RADARSEMARANG.ID, Bulan Ramadan menjadi berkah bagi warga binaan pemasyarakatan (WBP) Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Bulu Semarang. Mereka yang mendapatkan keterampilan menjahit menerima order melimpah. Khususnya, pesanan sajadah, mukena, dan totebag.

IDA FADILAH, Radar Semarang

RATUSAN karya warga binaan lapas yang terkenal dengan nama Lapas Wanita Bulu ini dipajang di showroom. Produk kerajinan itu tertata rapi dalam etalase panjang. Ada juga yang dipajang di tembok. Mulai batik, sajadah, mukena, baju, totebag, figura, dan lainnya. Tak sekadar pajangan. Hasil kreativitas para penghuni lapas ini juga dijual.

Di balik ruang pamer itu, tampak berjajar mesin jahit. Lengkap dengan peralatan menjahit. Ada tumpukan kain. Gulungan benang, dan jarum. Inilah tempat bagi warga binaan yang mengikuti keterampilan mandiri melakukan aktivitas menjahit. Mereka tetap memakai seragam tahanan. Ada yang fokus menjahit, menggunting, mengambil bahan, menata kain, dan aktivitas lain. Mereka selalu didampingi petugas.

Di bulan Ramadan ini, warga binaan Lapas Wanita Bulu semakin meningkatkan kreativitas. Salah satunya dengan membuat sajadah bordir, mukena dress painting, dan totebag.

Petugas Bimbingan Kerja Lapas Wanita Bulu Semarang Halimah menjelaskan, setiap warga binaan mendapat tugas masing-masing untuk bisa menyelesaikan pesanan. Ada yang membuat pola, menggunting bahan, menjahit, dan mengerjakan bordir hiasan sajadah.

Meski masih memiliki stok di showroom, mereka sibuk menggarap alat salat itu. Mereka mendapatkan pesanan dari rekan warga binaan, petugas lapas, dan keluarga warga binaan. Untuk keluarga, biasanya warga binaan sendiri yang memesan kemudian dikirim ke rumah.

“Sebenarnya sebelum Ramadan produk ini sudah ada. Tapi, memasuki bulan Ramadan jumlah pesanan meningkat,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Sajadah yang dibuat mulai motif masjid dan tulisan Arab sesuai dengan permintaan. Untuk harganya cukup terjangkau. Sajadah anak dibandrol harga Rp 150 ribu, dan dewasa Rp 200 ribu. Untuk pesanan totebag atau tas belanja, pihaknya bekerja sama dengan CV Nuel Superjaya. Pihak ketiga ini memesan 1.000 buah. Tas ini bertuliskan “Selamat Hari Raya Idul Fitri.”

Hasil jahitan warga binaan tak kalah bagusnya. Bahkan desainer terkenal Anna Avantie sudah bertahun-tahun mempercayakan gaun rancangannya dibuat warga binaan Lapas Wanita Bulu.

Di hari biasa, jam kerja warga binaan menjahit mulai pukul 07.30-16.00. Sedangkan selama Ramadan berkurang, mulai 08.00 hingga 15.00.

Halimah mengatakan, pembatasan jam tersebut dikarenakan setelah Ashar, warga binaan lanjut mengikuti kegiatan tausiyah yang dilangsungkan setiap hari. “Dilanjutkan buka bersama, dan malamnya ada salat tarawih di balai pertemuan,” imbuhnya.

Adapun hasil dari kerja ini, para warga binaan akan mendapatkan premi setelah barang laku terjual. Uang hasil kerja tersebut, bisa dimanfaatkan oleh warga binaan untuk memenuhi kebutuhan sendiri, maupun dikirim untuk keluarga di rumah. “Dulu sebelum pandemi mereka memberikan uang langsung ketika keluarga menjenguk. Tapi sekarang harus dikirim karena tidak boleh ada kunjungan,” papar Halimah.

Dikatakan, keterampilan dan bimbingan kerja ini diberikan dimaksudkan sebagai bekal warga binaan ketika sudah selesai menjalani masa pidana. “Ketika kembali ke masyarakat mereka sudah punya bekal, sehingga bisa dimanfaatkan,” harapnya.

Di Lapas Wanita Bulu, terdapat 266 warga binaan. Adapun yang bekerja sebanyak 190-an atau mencapai 2/3. Sebanyak 16 orang di antaranya mengikuti keterampilan menjahit. Lainnya bekerja membuat roti atau bakery, menjadi barista kopi, mengurus koperasi, dan lainnya. Sebelumnya, mereka telah diberikan pelatihan keterampilan oleh pihak ketiga. (*/aro)

Tinggalkan Balasan

Terbaru

Populer