alexametrics

Awalnya Sempat Dikritik karena Buat Handle Jemparing dengan Mengarang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Triyono menjadi perajin busur panah sejak akhir 2019.  Berawal dari lawatannya ke rumah teman dan mendapati jemparing alias busur panah tradisional. Triyono lantas terinspirasi.

Di rumah Triyono mencoba bikin sendiri. “Dulu bikin empat, saya posting di Facebook. Eh semuanya langsung dipesan orang. Padahal belum jadi,” kenang Triyono ketika ditemui Jawa Pos Radar Magelang, Rabu (21/4/2021) siang.

Awal bikin jemparing, Triyono mendapat banyak kritikan dari teman-temannya. Sebab, dia membuat handle jemparing dengan mengarang. Tidak berkiblat pada jemparing daerah manapun.

“Ternyata ada handle Jogja dan Solo. Setelah itu saya Googling dan jadi tahu. Kalau jemparing Jogja handle-nya lebih ke bentuk kotak,” tuturnya.

Setelah menerima masukan dan paham, Triyono mulai memproduksi jemparing untuk dijual. Dia mengaku ingin mengenalkan jemparingan sebagai olahraga yang bermanfaat kepada masyarakat.

Baca juga:  Meresahkan, Warga Tutup Paksa Panti Pijat

Triyono membikin jemparing di bengkel sederhana tak jauh dari rumahnya. Di Dusun Ketaron, Desa Tamanagung, Kecamatan Muntilan. Dia dibantu tiga pekerja.

Untuk bikin jemparing, Triyono menggunakan bahan alami. Menggunakan bambu, rotan, dan kayu. Biasanya menggunakan kayu sonokeling, sawo, dan kemuning. Sementara untuk pegangan  menggunakan tali prusik.

“Kalau bikin jemparing, nggak mungkin pakai fiber. Karena harus menjaga nilai tradisionalnya,” kata Triyono.

Proses pembuatan jemparing juga terbilang sederhana. Pertama, Triyono membuat pola pada kayu. Selanjutnya kayu dipotong mengikuti pola. Dia menggunakan mesin sederhana. Untuk membuat satu jemparing, Triyono butuh waktu seminggu. Waktu lama untuk membuat lengkungan kayu.  Terutama pada proses menyeimbangkan busur kayu.

Selain bikin jemparing, pria berusia 43 tahun ini juga bikin busur panah barebow dan horsebow. Kedua jenis busur panah ini bisa digarap dalam waktu lima hari.  Sementara untuk busur yang datar, malah bisa selesai tiga sampai empat hari.

Baca juga:  Persikama Berharap Tangan Dingin Yusuf Ekodono

Seiring berjalannya waktu, usahanya berjalan lancar. Jemparing bikinannya laku hingga Jogja, Solo, dan Karanganyar. Konsumennya ada yang digunakan untuk hiasan, olahraga, hingga kegiatan wisata. Satu jemparing dijual mulai dari Rp 350 ribu. Harga bergantung pada permintaan desain dan bahan yang digunakan. Makin rumit, makin mahal. Dia juga menjual anak panah. Dalam sebulan dia bisa menjual empat jemparing. Biasanya pembeli akan memesan terlebih dahulu.

Tak hanya menjadi perajin, Triyono juga memiliki klub panahan. Bahkan, sudah di bawah naungan KONI Kabupaten Magelang. “Ini juga legal. Karena termasuk senjata tajam. Kalau ilegal saya nanti bisa ditangkap,” ujarnya sambil terkekeh. (rhy/lis)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya