alexametrics

Pantang Turun Sebelum Diperintah, Sehari Istirahat Tiga Jam

Dedikasi Para Penjaga Merapi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Merapi salah satu gunung teraktif di Indonesia. Sering kali aktivitas Gunung Merapi mengancam warga sekitarnya. Maka harus selalu dipantau. Mereka ini adalah para penjaga-penjaga Merapi yang selalu memberi informasi aktivitas sekecil apapun.

Siang itu Tri Mujiyanto mencari sinyal handphone untuk mengabarkan kondisi Gunung Merapi dari pos pengamatan Babadan, Dukun, Kabupaten Magelang kepada Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG).

Meski jaringan wifi baru rusak ia berusaha keras mencari sinyal. Karena memiliki tanggung jawab untuk mengabarkan situasi Gunung Merapi saban 6 jam sehari.

Hampir 13 tahun Tri menjadi pengamat Gunung Merapi. Sudah banyak makan asam garam. Terbiasa melihat lava pijar, guguran awan panas dari jarak dekat. Apalagi pos pengamatan Babadan merupakan pos yang paling dekat dengan puncak Merapi. Jaraknya hanya 4,3 kilometer.

Baca juga:  Pernah Diborong Gubernur, Punya Reseller di Madinah

Meski bertugas di dekat Gunung Merapi, pria 50 tahun ini mengaku sama sekali tidak takut dengan bahaya erupsi yang bisa mengancam keselamatannya. Baginya misi kemanusiaan menjadi yang utama. “Kami sebagai pemantau, menjadi ujung tombak utama. Jadi tidak boleh takut,” katanya sambil menghisap rokok di tangan.

Sebelum di Babadan, Mujiyanto pernah bertugas di beberapa pos pengamatan Gunung Merapi lainnya. Salah satunya di pos pemantauan Jrakah Boyolali. Saat bertugas di Jrakah, tahun 2010 Gunung Merapi erupsi. Bermodalkan keberanian ia tetap bertahan di pos pemantauan saat itu. Walaupun erupsi parah “Saya bersama teman pantang turun ke bawah, sebelum ada instruksi dari BPPTKG,” katanya.

Baca juga:  Hujan Abu Merapi Sampai Temanggung

Mujiyanto merasa seorang pengamat gunung memiliki peran penting. Sehingga harus profesional. Selama bekerja ia jarang beristirahat. Karena harus memantau aktivitas Merapi selama 24 jam. “Sehari istirahat cuma 3 jam. Bergantian dengan teman,” tuturnya. Bahkan ketika status Gunung Merapi menjadi awas, ia tidak tidur seharian.

Meski sering begadang, Mujiyanto jarang sakit. Untuk mengusir kebosanan selama berjaga di pos pengamatan ia ditemani rokok dan kopi. “Yang penting makan yang banyak. Terus ada rokok dan kopi,” kelakarnya. Selama bekerja, pria asal Sleman, Jogjakarta ini pun harus meninggalkan istri dan kedua anaknya setiap dua hari sekali. Ketika ia kebagian sif. (man/lis)

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya