alexametrics

Tersembunyi di Balik Rimbun Bambu, Digunakan untuk Ibadah

Rekomendasi

Menarik

RADARSEMARANG.ID – Candi Gunung Wukir terletak di Bukit Wukir, di Dusun Canggal, Desa Kadiluwih, Kecamatan Salam, Magelang. Candi ini berada di belakang perkampungan warga. Tersembunyi di balik hutan bambu.

Ketika Jawa Pos Radar Magelang datang ke sana pada Rabu (7/4/2021) sekitar pukul 10.00, suasananya sepi. Area sawah yang membentang di bawah Bukit Wukir tampak kosong. Tidak ada warga yang sedang bekerja. Sesekali hanya terdengar kicauan burung dan gemericik air mengalir di sungai kecil di bawah bukit.

Butuh tenaga lebih untuk menuju Candi Gunung Wukir. Pasalnya, kendaraan tidak bisa naik. Sehingga harus berjalan kaki menanjak sejauh kurang lebih setengah kilometer. Melewati jalan kecil yang masih berupa tanah. Becek dan licin karena masih musim penghujan. Wartawan koran ini pun harus berhati-hati melangkah.

Setelah sekitar 10 menit berjalan dari area perkampungan, wartawan koran ini tiba juga. Kesan pertama yang dirasakan, nuansanya asri. Pohon-pohon tinggi mengelilingi area candi dari balik pagar bercat hijau setinggi satu meter. Terbanyak, pohon bambu.

“Masuk saja, Mbak!” seru juru pelihara Candi Wukir Bonar, begitu menyadari kedatangan wartawan koran ini. Saat itu dia tengah sibuk menyikat bebatuan candi.

Bonar menyela aktivitasnya sejenak. Membersamai wartawan koran ini berkeliling candi. Pria asal Desa Gulon, Salam, ini lantas bercerita tentang Candi Gunung Wukir.

Konon, berdasarkan Prasasti Canggal yang ditemukan, Candi Gunung Wukir didirikan pada abad VII. Candi Gunung Wukir terdiri dari satu candi induk dan tiga pewara. Sayang, candi ini sudah tidak utuh.

Candi Gunung Wukir merupakan candi Hindu yang ditandai dengan adanya yoni dan arca nandi. Arca nandi berada di pewara kedua. Persis di depan candi induk. Arca lembu itu sudah tidak utuh. Kata Bonar, tanduknya dicuri.

“Dulu nandi ini juga mau dicuri. Tahun 1995-an kalau tidak salah. Sudah hampir sampai bawah,” ujar pria yang hampir genap dua tahun menjadi juru pelihara Candi Gunung Wukir ini.

Meskipun tidak lagi utuh, kata Bonar, Candi Gunung Wukir sering dikunjungi umat Hindu untuk beribadah. Mulai dari warga Kota Magelang, Klaten, hingga Bali. Sebelum pandemi Covid-19, katanya malah ada rombongan dua bus.

Kemarin, di sana pun masih tertinggal sisa dupa yang menancap di muka candi. Sisa pemakaian untuk ibadah Jumat pekan lalu. Selain beribadah, mereka biasanya mengambil air dari lubang yoni. Konon, air itu bisa untuk menyembuhkan penyakit.

“Pas candi ditutup karena pandemi, mereka beribadah dari luar,” kata Bonar sembari menunjuk pintu masuk. (rhy/lis)

Tinggalkan Balasan

Terbaru

Syekh Jumadil Kubro Generasi Pertama Walisongo

RADARSEMARANG.ID - Makam Syekh Maulana Jumadil Kubro ditemukan pada zaman penjajahan Belanda. Makamnya berlokasi di Jalan Arteri Yos Sudarso...

Lainnya

Menarik

Populer

Taman Pierre Tendean Usung Konsep Smart Park

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Taman Pierre Tendean bakal menjadi taman percontohan di Kota Semarang. Mengusung konsep Smart Park dengan sentuhan...