alexametrics

Sudah 20 Tahun Jadi Perajin Gitar, Karyanya Laku hingga Malaysia, Korea, Belanda dan Australia

Rekomendasi

Menarik

RADARSEMARANG.ID – Banyak orang berusaha mengusir rasa bosan selama dikurung di rumah karena pandemi Covid-19. Salah satunya bermain gitar saat sendiri maupun bareng keluarga. Tentu saja, ini market bagi para perajin gitar untuk tetap eksis.

Didi Guitar yang berlokasi di Jalan Warigalit Raya nomor 221 masih menerima pesanan gitar seperti hari-hari biasa, meski pandemi Covid-19 belum juga mereda. Bahkan, saat ini saja, sang pemilik bernama Didi Suhariyadi, mengerjakan 7 pesanan.

“Banyak juga pelanggan datang untuk memperbaiki gitarnya yang rusak. Pandemi Covid-19 justru membuat orang-orang ingin bermain gitar untuk hiburan selama di rumah,” kata Didi.

Seniman perajin gitar ini sudah 20 tahun menjalankan usahanya. Sejauh ini, dirinya tetap memiliki pelanggan. Bahkan tak jarang pelanggan yang menyukai hasil karyanya, kembali memesan. Kadang untuk koleksi, kadang teman pembeli yang ikutan ingin membeli.”Pernah juga bosnya pelanggan saya pengen ikutan pesen. Terus kalau pesen kedua kalinya, biasanya nggak cuma satu,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dua tahun lalu, Didi menerima pesanan dari mahasiswa pertukaran pelajar asal Korea. Mahasiswa tersebut memiliki komunitas musik dan memesan berbagai alat musik di tempatnya. Mulai dari gitar klasik, akustik, folk, biola dan sebagainya.

Menurutnya pecinta seni sejati sering kali lebih memilih memesan custom gitar. Mereka dapat mendesain sendiri gitar seperti apa yang ingin digunakan untuk bermusik. Lama pengerjaan pun tidak jadi masalah, karena pelanggan paham betul dedikasi waktu yang diperlukan untuk membuat gitar berkualitas.

Meski begitu saat pandemi Didi menerima beberapa pesanan gitar akustik atau ukulele paket hemat atau gitar laminated. Satu tahun terakhir jarang ada konser atau live performance musik. Kebanyakan orang menghabiskan waktu di rumah. Untuk mengobati rasa jenuh mereka bermain gitar. “Karena sebatas untuk hiburan saja, mereka kan nggak nyari gitar yang bagus dan mahal,” jelasnya.

Gitar berbahan triplek tersebut biasanya dibanderol harga Rp 350 – Rp 500 ribu sesuai ukuran. Sedangkan gitar solid berbahan kayu bagus dihargai jutaan rupiah tergantung jenis kayu, ukuran dan tingkat kesulitan.

Terakhir di 2020, beberapa gitarnya laku dijual ke Malaysia. Tak sekali itu saja, Belanda, Australia, dan pelanggan di berbagai negara lainnya pernah membeli hasil karyanya. Ia tak memasarkan langsung keluar negeri. Tapi pelanggan setia atau tour guide yang mengurus pengiriman.

Berawal dengan kesukaannya pada musik, ia mengikuti jejak ayahnya. Sekitar tahun 1980-an saat ia masih tinggal di kawasan Citarum, ia mulai membuat gitar. Permintaan datang dari teman-temannya sendiri.

Kala itu Didi masih punya banyak kesibukan lain, termasuk ngeband. Ia tidak fokus menekuni usaha sebagai perajin gitar. Awal 2000, ia melihat peluang besar pada bisnis gitar, khususnya akustik. Belum banyak perajin gitar lokal. Didi bahkan sempat merekrut pegawai saat dibanjiri pesanan.

Kesukaannya pada musik membuat gitar buatannya memiliki karakter tersendiri. Ia bahkan selalu mencoba gitar sebelum proses finishing. Terkadang, pelanggan ingin mencoba langsung. Bila ada kekurangan, ia langsung menyesuaikan. Garansi seumur hidup juga diberikan untuk pelanggannya. “Saya mendesain gitar yang saya buat, kuat dan tahan lama. Jadi pelanggan nggak perlu servis berkali-kali,” tandasnya. (cr1/ida)

Tinggalkan Balasan

Terbaru

Syekh Jumadil Kubro Generasi Pertama Walisongo

RADARSEMARANG.ID - Makam Syekh Maulana Jumadil Kubro ditemukan pada zaman penjajahan Belanda. Makamnya berlokasi di Jalan Arteri Yos Sudarso...

Lainnya

Menarik

Populer

Taman Pierre Tendean Usung Konsep Smart Park

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Taman Pierre Tendean bakal menjadi taman percontohan di Kota Semarang. Mengusung konsep Smart Park dengan sentuhan...