alexametrics

Diekspor ke Singapura, Sebulan Capai 2 Ton

Khairul Umam, Korban ‘PHK Pandemi’ yang Sukses Jadi Petani Ubi Madu

Artikel Lain

Diberhentikan dari perusahaan karena pandemi Covid-19, Muhammad Khairul Umam banting setir menjadi petani ubi madu. Bahkan, kini produknya telah diekspor ke Singapura.

RADARSEMARANG.ID, TUMPUKAN ubi madu tertata rapi di rumah Muhammad Khairul Umam, warga Desa Ngepanrejo, Bandongan, Kabupaten Magelang. Siang itu ketika wartawan koran ini berkunjung, ia tengah mencoba membuat olahan keripik dan grubi dari bahan ubi madu.

Sudah hampir lima bulan, ia banting setir menjadi petani pengekspor ubi madu. Setelah diberhentikan sementara dari pekerjaannya di perusahaan travel haji dan umrah di Jakarta akibat pandemi Covid-19 pada Maret 2020.

Kepada wartawan koran ini, ia menunjukkan beberapa ubi madu yang biasa diekspor ke Singapura. “Kalau yang masuk ekspor adalah ubi yang strukturnya mulus seperti ini, tidak ada lukanya,” ujar Umam sambil menggenggam ubi madu di tangannya.

Kata Umam, setelah diberhentikan dari pekerjaannya, ia langsung pulang kampung ke Kabupaten Magelang. Awalnya, berjualan buah, namun tidak bertahan lama. Kemudian menjadi petani cabai, hingga akhirnya ia menjadi petani ubi madu yang terbilang sukses.

Baca juga:  Paling Sulit Menyulam Pakaian, Dikerjakan saat Hati Tenang

“Saya prinsipnya tidak boleh berlama-lama terpuruk karena diberhentikan kerja sementara. Tapi harus mencari peluang pekerjaan yang lain. Saya pun memutuskan menjadi petani,” ujar pria berusia 25 tahun ini.

Diakui oleh Umam, ia harus banyak melakukan penyesuaian. Lantaran pekerjaan sebagai petani berbanding terbalik dengan pekerjaan sebelumnya. “Kalau dulu terbiasa kerja di ruangan ber-AC, sekarang harus panas-panasan di kebun hehe,” kelakar Umam

Ia tidak sengaja menjadi petani ubi madu. Awalnya, sekadar iseng menjualnya di Facebook. Ternyata banyak peminatnya. Ia pun kebanjiran pesanan ubi madu dari berbagai daerah. Saat itu, Umam masih menjadi pengepul saja, belum bertani ubi madu sendiri.

Seiring berjalannya waktu, Umam memberanikan diri datang ke perusahaan eksportir. Menawarkan diri untuk menyediakan ubi madu guna diekspor. Umam pun membawa ubi madu guna dijadikan sampel kepada perusahaan. “Di luar dugaan langsung di-ACC. Dan meminta saya untuk mengirim ubi madu ke mereka,” katanya.

Baca juga:  Anisa Rizki Maulida, Siapkan Bisnis Kuliner

Umam pun berpikir untuk tidak hanya menjadi pengepul. Sebab, permintaan ekspor ubi madu cukup tinggi. Sehingga ia mempunyai ide untuk menanam ubi madu secara mandiri. Bekerjasama dengan pemilik lahan di desanya. Gayung pun bersambut. Ide Umam tersebut diterima baik oleh masyarakat.

“Akhirnya saya menanam ubi madu di lahan seluas 2 hektare. Bekerja sama dengan orang di desa saya, sistemnya bagi hasil,” ujarnya.

Permintaan ubi madu pun terus naik. Dalam sebulan, permintaannya mencapai 2 ton. Umam menjual sekilo ubi madu seharga Rp 10 ribu kepada perusahaan eksportir. Dari penjualan ubi madu, ia memperoleh pendapatan yang lumayan besar. Meski ia tidak mau menyebutkan nominal pastinya.

Baca juga:  Berbagi Kuota untuk Belajar

“Kalau pendapatan cukup lumayan, Mas,” tutur Umam.

Ia pun semakin bersemangat memenuhi permintaan eksportir. Termasuk dalam menjaga kualitas ubi madu dari hasil pertaniannya. Agar bisa lolos sortir dan dapat dieskpor.

Menurutnya, menanam ubi madu tidaklah sulit. Perawatannya juga tidak terlalu rumit. Hanya saja, di musim penghujan hasilnya kurang maskimal, bahkan bisa gagal panen. Karena membusuk akibat genangan air. Agar tidak rugi, ia berhenti mengeskpor ubi madu di musim penghujan.

Umam pun tak habis akal. Ia mencoba mengolah ubi madu menjadi makanan ringan. Karena tidak perlu standar peyortiran yang ketat. Selain itu, harganya bisa jauh lebih tinggi. “Saat ini saya sedang mengajukan proposal agar olahan ubi madu saya bisa dijual di mal,” katanya. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya