alexametrics

Miniatur Truk Oleng Banyak Dicari, Harga Capai Rp 400 Ribu

Wahid Isrodin, Perajin Truk Mainan Asal Kota Magelang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Wahid Isrodin menjadi korban PHK di perusahaan karoseri mobil. Berbekal pengelamannya di karoseri, dia merintis usaha pembuatan miniatur truk dari kayu sejak 2002.

Puluhan mainan truk dari kayu di rumah Wahid Isrodin itu pesanan dari warga. Truk-truk mini itu tertata rapi di teras rumah. Selain truk, ada juga miniatur bus. Tampak juga sejumlah pekerja tengah menyelesaikan pembuatan mainan truk. Dengan cekatan, mereka menyelesaikan semua bahan untuk dibuat kerangka miniatur truk.

Wahid Isrodin menyaksikan para pekerjanya dari samping. Sembari mendengarkan lagu melalui radio, tangannya menggunting stiker berpola roda. Wahid paham detail membuat mainan truk dan bus. Sebab, dia pernah bekerja di perusahaan karoseri. Ia paham proses pendempulan, pengecatan, dan pengamplasan pada mobil. Ia mencoba menerapkan hal itu pada mainan kayu.

Baca juga:  Pemasaran sampai Luar Jawa, Omzet Capai Rp 600 Juta

Saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Wahid mengaku pengalamannya pernah di-PHK dari perusahaan karoseri mobil membekas hingga saat ini. Karena itu, ia bertekad merintis usaha yang dapat membuka lapangan bekerjaan bagi orang lain. “Di-PHK itu tidak enak. Apalagi saat kebutuhan keluarga masih tinggi,” katanya.

Berbekal pengalamannya bekerja di karoseri mobil, Wahid pun merintis usaha pembuatan miniatur bus dan truk berbahan baku kayu dan triplek. Ia mengusung nama brand Laser Production. Untuk bahan baku yang digunakan 60 persen dari limbah pabrik, dan 40 persen dari toko. “Untuk kayu dominasi limbah pabrik,” ujarnya.

Sehari-hari Wahid menghabiskan waktunya untuk membuat mainan kayu. Pesanan terus membanjir. Namun bisnisnya sempat drop saat pandemi Covid-19. Jumlah pesanan merosot. Bahkan tidak ada orderan mainan sama sekali. Hal itu membuat Wahid berjualan es degan untuk tetap bertahan.

Baca juga:  Dirikan Rumah RJ Serap Aspirasi Warga dan Penyelesaian Perkara Hukum

“Awal pandemi saya benar-benar mengalami dampaknya, Mas,” ucapnya dengan nada sedikit serak.

Pada November 2020 distributor kembali masuk. Tapi hanya mainan truk saja. Untuk model bus baru sekali. “Alhamdulillah Mas, masih bisa bertahan,” ujarnya.

Apalagi saat viral truk oleng. Banyak sekali orderan yang masuk untuk dibuatkan mainan truk oleng stiker. Untuk satu truk oleng dia mematok harga hingga Rp 400 ribu. “Lumayan, semacam order kaget,” ucapnya sembari mengajak melihat pembuatan truk oleng di rumahnya di Kampung Bojong RT 01 RW 09, Kelurahan Jurangombo Selatan, Kota Magelang.

Wahid mengaku, pemasaran produk mainannya itu sudah tersebar ke mana-mana. Mulai Kota Magelang, Muntilan, Solo, Jogja, Purwodadi, Pekalongan hingga Jakarta dan Bali.

Baca juga:  Agus Triyanto, Kepala SMK Negeri 11 Semarang yang Sukses Kembangkan Urban Farming

Menurutnya, membuat mainan kayu ini tidak sulit. Hanya butuh kesabaran dan ketelitian. Apalagi setelah ada pandemi ini, hanya dengan stiker bisa mempercantik truk tanpa harus mengecatnya. Tapi tetap harus dilapisi terlebih dahulu. Kendati belum dibilang sukses, tetapi dengan kesabaran serta support dari keluarga, Wahid optimistis bisa bangkit dan bertahan di masa pandemi. Sehingga menjadi pengusaha mainan kayu yang sukses. (fik/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya