alexametrics

Bisa Keliling Separo Dunia, Sempat Tak Direstui Orang Tua

Capt Fakhrurrozi, Wakil Direktur Bumi Akpelni yang 13 Tahun Hidup di Tengah Laut

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Capt Fakhrurrozi, Wakil Direktur III Bumi Akpelni Semarang, 13 tahun hidup di tengah lautan sebagai seorang pelaut. Ia menjelajah separo belahan dunia. Setelah pensiun dari pelaut, sekarang ia tertantang melahirkan tenaga maritim untuk mendukung Indonesia sebagai negara poros maritim dunia.

FAKHRURROZI, sudah 13 tahun lamanya ia berkarir dengan dunia kelautan. Mulai dari jabatan yang rendah sampai posisi kapten kapal. Selama itu pula, sudah separo belahan dunia dia jelajahi, dengan suka maupun duka. “Itu pengalaman yang tak mungkin terlupakan,” kata Fakhrurrozi sambil tersenyum saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di ruang kerjanya.
Sejak kecil dia memang sudah memiliki keinginan menjadi seorang pelaut. Apalagi Indonesia merupakan bangsa yang dikelilingi lautan. Ia pun tertarik untuk bisa bekerja dan terjun menjaga kekayaan laut negeri ini.

Pasca lulus Akpelni tahun 1999, ia langsung bertugas di perusahan yang bergerak di laut. Mulai dari kapal kargo, kapal tanker dan kapal lainnya. Ia mulai malang melintang dari satu negara ke negara lain setiap tahunnya. Jauh dari keluarga, dan jauh dari hingar bingar keramaian kota. “Ya awalnya sempat ditolak orang tua. Tapi setelah saya kasih penjelasan, akhirnya direstui untuk bekerja di laut,” ingatnya.

Baca juga:  Perlakukan Bonsai Penuh Rasa, Karyanya Jadi Buruan Kolektor

Fakhrurrozi tidak menampik jika menjadi pelaut bukan urusan mudah. Selain karena medan kerja yang sangat berbahaya, ia harus rela meninggalkan keluarga. Apalagi pekerjaanya mengharuskannya berada di tengah laut sampai hitungan bulan dan bahkan tahun. Untuk sekali kontrak kerja, harus bekerja di laut sampai delapan bulan. ”Jadi kehidupan saya selalu di laut. Kadang pindah dari satu kapal ke kapal lain. Baru setelah kontrak selesai, biasanya cuti satu bulan,” akunya.

Banyak negara di belahan dunia, yang pernah ia singgahi. Mulai Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Jepang, Korea, Afrika, maupun Benua Eropa. Namun yang memikat hatinya adalah Jepang dan Korea. Fakhrurrozi sangat takjub dan mengapresiasi kedisiplinan warganya. “Dua negara itu yang paling berkesan,” ujarnya.

Baca juga:  Tak Ingin Korbankan Salah Satunya, Harus Pintar Atur Waktu

Kehidupan pelaut kerap membuatnya jauh dari keluarga. Tetapi setelah 13 berkarir di laut, Fakhrurrozi memutuskan untuk pensiun di tahun 2012. Padahal, saat itu sedang menempati jabatan sebagai kapten kapal. Tetapi semua dilakukan demi keluarga. Hingga akhirnya ia diminta kembali ke almamaternya dan sekarang menempati posisi sebagai Wakil Direktur III Bumi Akpelni Semarang. “Alhamdulilah, sekarang sudah bisa dekat dengan keluarga. Itu yang terpenting,” tegasnya.

Dengan masuk ke dalam sistem, ia optimistis bisa terus berkontribusi untuk melahirkan tenaga kerja maritim yang handal. Sebab, tuntutan kerja di laut semakin besar dan banyak negara lain yang mulai meliriknya. “Saya kira berbagai pengalaman yang didapatkan selama 13 tahun bekerja, tentu bisa melahirkan tenaga kerja maritim yang handal,” tegasnya.
Sekarang Bumi Akpelni Semarang, menjadi salah satu sekolah vokasi maritim Indonesia. Ada tuntutan untuk bisa melahirkan tenaga kerja maritim handal. Dibekali skill, akhlak, serta wawasan yang luas. Sebab, skill saja tidak cukup untuk bisa menopang program poros maritim dunia. “Skill oke, bahasa asing tidak menguasai ya akan repot sendiri. Karena kita berhadapan dengan dunia internasional,” tegasnya.

Baca juga:  Amir Pernah Ancam Keluarga dengan Golok

Banyak tantangan yang dihadapi Indonesia untuk mewujudkan poros maritim dunia. Di antaranya masih minimnya keinginan generasi muda untuk masuk di sektor maritim. Mereka lebih suka dengan profesi kantoran yang dinilai menjanjikan. Padahal, pelaut juga menjanjikan dan bisa sebagai upaya menjaga kedaulatan bangsa.

“Jika anak muda enggan menjadi pelaut, bisa saja kita akan dijajah lagi oleh pelaut negara lain. Makanya sekarang kita harus mendorong agar generasi muda menjadi pelaut. Agar laut bisa dikuasai dan bisa menjadi negara maritim dunia,” tambahnya. (fth/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya