alexametrics


Saking Jujurnya, sampai Tak Punya Rumah dan Tanah

Dr Sastra Rasa, Mantan Hakim Ad Hock Pengadilan Tipikor Semarang

Rekomendasi

RADARSEMARANG.ID – Di tengah banyaknya aparat penegak hukum yang terjerat korupsi, ternyata kejujuran masih bisa ditemukan di Kota Semarang. Orang tersebut bernama Dr Sastra Rasa SH MH. Terbukti hingga masa purna tugasnya sebagai hakim ad hock Pengadilan Tipikor Semarang, ia tetap berpegang teguh pada pesan almarhum ayahnya untuk tetap antikorupsi dan bekerja secara jujur.

Selama sepuluh tahun (2011-2020), Dr Sastra Rasa SH MH pernah menjadi hakim ad hock. Ia juga pernah menjadi panitera di Mahkamah Agung (MA) pada 1988-1992, menjadi advokat pada 1996 -2010, serta menjadi Pengawas Pasar se-Kabupaten Bogor selama delapan bulan. Namun hingga kini ia tak memiliki rumah tinggal maupun tanah. Sastra tinggal di kontrakan yang selama ini dibiayai negara.

“Orang tua saya, almarhum Abdul Muis, selalu berpesan teruslah jujur, jangan melanggar agama, korupsi, dan aturan hukum. Jadi, kalau kerja harus selalu jujur, itu sudah saya terapkan sejak jadi panitera MA, saat itu tahun 1990-an, saya kalau kuliah naik bus kota,”kenang Sastra Rasa saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di LBH Rupadi Semarang Jalan Kenconowungu III, Karangayu, Semarang Barat.

Sastra sendiri sudah purna tugas sebagai hakim ad hock Pengadilan Tipikor Semarang pada 10 Februari 2020. Tercatat, pria kelahiran Jakarta, 2 April 1965 ini juga pernah menjadi hakim ad hock Tipikor pada Pengadilan Negeri (PN) Pontianak pada 2011 -2015, kemudian diperpanjang di Pengadilan Tipikor Semarang pada 2015- 2020.

“Selama jadi hakim, pernah bebaskan orang selama di Pontianak 4 perkara, kalau di Semarang 7 perkara. Bagi saya, ketika masih jadi hakim dalam memutus perkara melihat fakta hukum. Kalau fakta tidak terbukti, dan terdakwa tidak salah tentu harus dibebaskan, karena sebagai hakim harus pertanggungjawaban dengan Tuhan. Dituangkan secara jelas dalam petikan awal putusan, mengingat demi Ketuhanan Yang Maha Esa,”kata ayah lima anak ini.
Selain tinggal mengontrak, Sastra saat ini hanya memiliki sepeda angin dan dua sepeda motor Yamaha Mio dan N-Max lama. Kejujurannya juga sudah tercermin saat kali pertama menjadi hakim. Karena begitu diterima menjadi hakim, Sastra justru menjual dua rumah dan tanah berukuran 1.600 meter persegi di daerah Bogor, yang pernah dimiliki dan dihuninya saat masih menjadi panitera MA.

“Waktu itu untuk ongkos dan penghidupan awal, saat masih menjadi hakim di PN Pontianak. Sebagian lagi untuk biaya sekolah anak-anak. Bagi saya, pendidikan anak itu nomor satu,”bebernya.

Selama menjadi hakim, kasus yang ditanganinya sekitar 150 perkara saat masih di PN Pontianak, dan seratusan perkara saat sudah di PN Semarang. Mayoritas perkara yang ditanganinya terkait korupsi pengadaan barang jasa, prona, dan lainnya, yang menjerat 80 persen pelakunya kepala desa. Pernah juga menyidangkan perkara korupsi RS Ortopedi Solo, dan perkara korupsi kampus di Purwokerto.

“Kalau memutus mengalami dissenting opinion (pendapat berbeda) antarhakim juga pernah, seperti kasus korupsi kades di Purbalingga, karena hakim beda pendapat, maka putusannya juga beda, kan hakimnya ada tiga,”jelasnya.

Adapun pedoman hidup yang dijalaninya hingga sekarang adalah agama, sehingga selalu berpedoman menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Selain itu, pendidikan yang utama dan terus membaca. Untuk itulah, dirinya selalu konsisten dan takut dengan Tuhan. Selama di persidangan, Sastra juga terkenal sebagai hakim yang galak. Suaranya keras kalau sidang, ditambah sering mengigatkan para pihak di persidangan jangan pernah menemui majelis hakim untuk tujuan tertentu.

“Maka dari itu, selama jadi hakim sampai sekarang ndak pernah didatangi keluarga klien, termasuk kalau ada orang ngomong nanti mau ada orang datang, selalu saya tolak. Alhamdulilahnya ancaman ndak ada, toh kalau mau mengancam saya, saya punya pengalaman tukang jagal selama SMA,”kata Sastra sambil terkekeh.

Namun demikian, Sastra mengaku pernah memiliki pengalaman ditawari mobil, rumah, dan lainnya oleh orang yang berperkara. Akan tetapi, orang yang menawari itu justru dimarahi habis-habisan. Dari pengalaman itulah, ia selalu mengigatkan para pihak ketika di persidangan untuk tidak mendekati majelis hakim. Selama menjadi hakim di PN Semarang, Sastra juga jauh dari desas-desus menerima suap ataupun imbalan dari kasus yang ditangani.

“Saya selalu sampaikan di sidang, dan itu pedoman hidup saya. Karena cita-cita saya memang jadi hakim, cuma awalnya malah jadi panitera,”katanya.

Sastra sendiri lulusan Fakultas Hukum Universitas Islam Djakarta, Magister Ilmu Hukum di Sekolah Tinggi Ilmu Hukum IBLAM, dan Doktor di Universitas Islam Bandung. Usai purna tugas, Sastra, mengabdikan diri kembali menjadi advokat di organisasi profesi Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi), bergabung di kepengurusan Lembaga Bantuan Hukum, dan menjadi dosen di perguruan tinggi yang masih membutuhkan ilmunya.

“Semua kuliah yang saya tempuh dilalui sambil kerja. Ada juga yang saat saya sudah nikah. Saya berprinsip kalau duit halal bisa lulus. Kalau karaoke, zaman masih advokat dulu juga pernah, tapi cuma mendampingi temen, dan saya milih duduk diem, temani saja,”kenangnya. (jks/aro)

Artikel Menarik Lainnya

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya