alexametrics

Paling Cerdas, Pernah Sekolah Penerbangan di New Zealand

Captain Didik Gunardi, Korban Pesawat Sriwijaya Air SJ182 di Mata Keluarga di Pekalongan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Awalnya, kabar jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ182 tak membuat keluarga cemas. Sebab, Captain Didik Gunardi adalah pilot NAM Air, anak perusahaan Sriwijaya Air. Ternyata Captain Didik ada di dalam SJ182 sebagai penumpang.

Rumah asal Captain Didik Gunardi di kampung halamannya Dukuh Besimahan, Desa Srinahan RT 11 RW 04, Kecamatan Kesesi, Kabupaten Pekalongan tengah ramai kunjungan orang. Tiba di sana, Minggu (10/1) siang, Jawa Pos Radar Semarang disambut Riyani, kakak ipar Didik. Katanya, Kepala Desa Srinahan Keswanto baru saja dari sana.

“Kami sedang bersiap-siap akan ke Bekasi. Ke tempat tinggal adik kami Didik Gunardi,” kata Riyani siang itu.

Jawa Pos Radar Semarang kemudian dipertemukan dengan Inda Gunawan, 58, suami Riyani atau kakak kandung Didik. Gunawan yang tengah menjamu tamu, segera menemui koran ini.

Baca juga:  Kendalikan Inflasi-Deflasi, Usulkan Holdingisasi

“Ya, Captain Didik Gunardi adik saya. Kami mendapat kabar, dia jadi korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ182,” jelasnya.

Gunawan menceritakan, keluarga Pekalongan kali pertama mendapat kabar dari istri Didik di Bekasi, Ari Kartini. Captain Didik menjadi salah satu penumpang SJ182 dari Jakarta menuju ke Pontianak untuk mengambil pesawat.

Didik adalah anak bungsu dari empat bersaudara. Sementara Inda Gunawan anak sulung. Mereka lahir dari pasangan Ruslani-Genduk Suherni. Ruslani merupakan mantan Kepala Desa Srinahan dua periode.

“Adik saya Didik Gunardi itu sosok paling cerdas di antara empat saudara kandungnya,” kenang Gunawan.

Masa kecil Didik dihabiskan di Desa Srinahan. Desa ini cukup jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Pekalongan, Kajen. Kurang lebih 12 kilometer ke arah barat dari Kajen.

Baca juga:  Obati Kangen Keluarga, Komunikasi lewat Zoom

Didik pernah bersekolah di SD Negeri 01 Kesesi, SMP Negeri 1 Kesesi, dan SMA Negeri 1 Pemalang. Selepas SMA, Didik sempat mendaftar Akademi Militer (Akmil). Namun tak ia teruskan. Ia memilih kuliah di Institut Sains dan Teknologi Akprind (IST Akprind) Jogjakarta. Namun hanya berjalan satu semester.

“Karena mendapat beasiswa dari Merpati Airlines untuk sekolah penerbangan di New Zealand. Dia memang membanggakan,” sambung Gunawan.

Setelah menyelesaikan pendidikan di New Zealand, Didik ditarik Merpati Airlines sebagai Co-Pilot. Didik kemudian menikah dengan Ari Kartini yang merupakan mantan pramugari Pelita Air.

Didik lama di Merpati Airlines hingga termasuk angkatan senior dan pangkatnya naik menjadi captain pilot.

Menurut Gunawan, Didik orang yang sangat loyal. Ketika banyak rekan-rekannya pindah ke maskapai lain karena Merpati tarancam kolaps dan tak terbang, Didik memilih tetap bertahan. Meskipun hanya bekerja di kantor.

Baca juga:  Anak Penjual Ayam, Raih IPK Nyaris Sempurna

“Pernah cerita kepada saya, alasannya karena dia merasa sudah disekolahkan oleh Merpati,” kata Gunawan.

Selain cerdas, lanjut Gunawan, masa remaja Didik penuh prestasi. Baik akademis maupun non-akademis. “Waktu SMP atau SMA dulu pernah terpilih di kesebelasan tim sepakbola sekolahnya,” ungkapnya.

Hingga sore kemarin, keluarga belum mengetahui kabar terbaru Didik. Namun, kata Gunawan, yang pasti Didik ada di dalam SJ182. “Namanya tercatat di dalam manifes penumpang,” jelasnya.

Didik lahir di Kabupaten Pekalongan pada 9 Mei 1972. Menikah dengan Ari Kartini, Didik dikaruniai lima anak. Yakni, Prisilia, 23, Berilnahda, 18, Meysya (SMP kelas 1), Nafiza Gunardi (SD kelas 2), dan Saka Gunardi, 2. (nra/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya