alexametrics

Bentuknya Unik, Harganya Capai Rp 3,5 Juta

Harmoni, Kolektor Bonsai Kelapa Asal Semarang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Pohon kerdil atau bonsai identik dengan jenis tanaman Serut, Santigi ataupun Sancang. Namun pohon kelapa juga bisa dibuat bonsai. Salah satu kolektor bonsai kelapa adalah Harmoni yang tergabung dalam Bonsai Kelapa Samba Community.

Buah kelapa tak hanya diambilnya santannya ataupun menjadi minuman degan segar. Namun bisa juga menjadi tanaman hias dalam bentuk bonsai. Salah satu kolektor bonsai kelapa adalah Harmoni. Ia memiliki banyak koleksi bonsai kelapa di rumahnya. Pria asal Semarang ini mengaku tertarik merawat bonsai kelapa lantaran menyukai bentuknya yang unik dan berbeda.

Meski belum lama, namun ia sangat tekun mendalami hobinya ini. Menurutnya, karakter bonsai kelapa membuatnya jatuh hati. Selain untuk keindahan, bonsai kelapa juga memiliki filosofi. Yakni, cerminan kehidupan yang harus bermanfaat untuk sesama.

“Semua bagian pohon kelapa kan bermanfaat, mulai batang, daun, hingga buahnya bisa digunakan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Baca juga:  Jatuh Cinta pada Tenis Meja, Bergabung di Klub Vegas dan Simpang Lima

Harmoni menjelaskan, tidak seperti bonsai jenis lain yang harus mencari ke hutan, untuk mendapatkan bonsai kelapa tidaklah sulit. Karena buah kelapa mudah ditemukan di Indonesia. Namun hanya beberapa jenis kelapa yang dapat dijadikan bonsai. Seperti kelapa gading susu dan kelapa gading merah.

Kolektor bonsai kelapa bisa memulai dari pembibitan. Yakni, membuat dari kelapa tua. Tunas akan muncul sekitar dua sampai tiga minggu. Yang perlu diperhatikan, bibit kelapa bukan berasal dari kelapa yang jatuh dari pohon. Akan tetapi kelapa yang dipetik dari pohon secara langsung. Hal tersebut untuk menjaga keutuhan batok. Apabila tak ingin ribet, bisa dengan cara membeli bibit. Tak perlu mengeluarkan biaya yang besar, hanya Rp 20 ribu-Rp 30 ribu per butir.

Baca juga:  Raup Rupiah dari Budidaya Ikan Koi, Harga Mulai Rp 10 Ribu hingga Puluhan Juta Rupiah

Hal penting yang memengaruhi dalam pembuatan bentuk bonsai kelapa adalah posisi bibit. Apabila posisi bibit diletakkan secara vertikal, maka batok akan dikelilingi akar. Sedangkan bibit yang diletakkan secara horizontal akan tumbuh dengan bentuk seperti keong.

Meski tak terlalu sulit, namun perlu dirawat dengan benar agar bonsai kelapa cepat terbentuk. Berbeda dengan bonsai pohon Serut, pada pohon kelapa harus lebih rutin merapikan pelepah agar tidak tumbuh besar. “Kalau tidak, nanti gagal jadi bonsai, karena bonsai kan memang tanaman kerdil,” jelasnya.

Tak hanya itu, pemberian pupuk, air, dan penyemprotan desinfektan untuk mengatasi penyakit dari hama dan jamur juga harus diperhatikan. Ini agar tidak menghambat pertumbuhan dan mati. Bagi Harmoni, kuncinya tetap pada kesabaran dan ketekunan.

Baca juga:  Koleksi 400 Jenis Bambu, Semua Ada Filosofinya

Untuk membuat bonsai kelapa, dibutuhkan waktu antara satu hingga tiga tahun. Barulah bonsai tersebut bisa dipasarkan atau dipamerkan. Sayangnya, ia masih kesulitan memasarkan karena posisi bonsai kelapa belum banyak diketahui masyarakat. Kalah dengan bonsai jenis Serut dan lain-lain. Terutama di Jawa Tengah. Dari segi harga, bonsai kelapa cukup terjangkau. Mulai Rp 100 ribu hingga Rp 3,5 juta tergantung keunikan dan tingkat kesulitan.

Untuk mengembangkan kemampuan berkreasi, Harmoni tergabung dalam Bonsai Kelapa Samba Community. Dinamakan Samba karena anggotanya berasal dari Semarang, Salatiga, Bandungan, dan Ambarawa yang disingkat Samba. Komunitas ini dibentuk pada 2019. Di Semarang, mereka memiliki basecamp di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS). Di komunitas ini mereka saling berbagi informasi dan pengetahuan merawat bonsai kelapa. Juga kerap mengikuti pameran. (ifa/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya