alexametrics

Libatkan para Difabel, Pelanggannya Sampai Lombok

Pandemi, Rujiman Slamet Ciptakan Batik Motif Covid-19

Baca Lainnya

Hilangkan Jenuh, para Relawan Mendongeng

RADARSEMARANG.ID,Relawan di lokasi pengungsian Banyurojo, Mertoyudan, Kabupaten Magelang, mengisi kegiatan trauma healing dengan cara mendongeng. Kegiatan ini dilakukan...

Orang Tua Tak Setuju, Main Bola Sembunyi-Sembunyi

RADARSEMARANG.ID - Gadis ini melalui masa kecil dengan bermain sepak bola. Kenangan bola plastik, sepasang sandal penanda gawang, serta kumandang...

Manfaatkan Bahan Pangan Lokal, Diklaim Bergizi Tinggi

RADARSEMARANG.ID - Dua tim mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga memenangkan kompetisi inovasi di bidang pertanian, Panah Merah Innovation...

RADARSEMARANG.ID – Selama pandemi Covid-19 bukan berarti berhenti berkreasi. Rujiman Slamet, pemilik sanggar Batik Mutiara Hasta menciptakan batik motif Covid-19. Batik ini peminatnya cukup tinggi. Bahkan, pemasarannya hingga luar Jawa.

Sanggar Batik Mutiara Hasta termasuk sanggar batik tertua di Kota Semarang. Sanggar milik Rujiman Slamet ini beralamat di Jalan Rogo Jembangan Timur V, Kelurahan Tandang, Tembalang.

Slamet berasal dari Jogja. Ia pindah ke Semarang pada 2006. “Saat itu saya dipanggil pihak Disperindag Jateng untuk mengajar batik di Semarang. Jadi sampai sekarang saya sudah jadi orang Semarang,”katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (10/11).

Kecintaannya pada batik memang besar. Terbukti, ia memiliki sanggar sendiri. Slamet menceritakan awal mula berkiprah di Semarang. Pada 2006, masyarakat Kota Semarang belum familiar dengan batik. Hingga setahun berlalu, pada 2007 ia diberi kepercayaan untuk memberi pelatihan membatik di Kampung Batik Rejomulyo.

“Alhamdulillah sampai sekarang diberi kepercayaan. Mengajar di Balai Latihan Kerja di Kota Semarang,”imbuh Pak Slamet, sapaan akrabnya.

Sampailah ketika pandemi datang, penjualan batik menurun dan perajin terdampak. Akhirnya, ia mulai memikirkan cara bagaimana untuk bertahan.

Slamet mengaku, dirinya termasuk orang lapangan. Sudah pekerjaannya untuk mengajari untuk membuat batik. Rumah pribadinya disulap menjadi sanggar batik.

“Saat pandemi, saya justru merekrut teman-teman difabel tunarungu. Memikirkan kira-kira cara apa yang bisa membuat batik kembali laris. Akhirnya tercetuslah batik motif Covid-19,”ungkapnya.

Awalnya, ide yang keluar datang secara tiba-tiba. Namun idenya langsung dieksekusi. Ia memiliki banyak teman difabel tunarungu yang tergabung dalam Paguyuban Katun Ungu (Kawula Tunarungu). Mereka dikumpulkan. Mereka sepakat untuk membuat motif batik korona. “Ide awal dari saya (Slamet) sendiri. Karena, bagi saya virus ini memiliki filosofi,”paparnya.

Tujuan awal pembuatan motif, Slamet ingin menghilangkan imej korona yang menakutkan. Momok menakutkan virus Covid-19, ia tuangkan dalam sebuah karya. Bagi Slamet, korona hanyalah sebagai suatu sapaan dari Sang Pencipta. Bahwa adanya kejadian pandemi, hanya sapaan bagi umat.

“Ke depannya harus berpikir lebih hati-hati, mawas diri, introspeksi diri. Kebanyakan imejnya nular. Ya memang kita tetap harus waspada,”kata Slamet.

Kabar dirinya membuat motif korona sampai ke telinga para pemimpin instansi di Kota Semarang. Mereka yang menyukai batik, otomatis memesan. Slamet berujar, tak hanya kain batik yang ia produksi. Namun juga lukisan bertema batik Covid-19. Mereka berujar, ingin memiliki kenang-kenangan untuk dipajang di ruang tamunya. Slamet dibantu oleh 5-7 difabel untuk melayani orderan.

“Pak Kepala Dinas Perindustrian Mustohar memesan dua lukisan. Katanya kepengin punya momen di tengah pandemi. Kalau untuk teman-teman difabel, mereka hanya membantu pewarnaan, dan menggambar pola kecil,”jelas Slamet.

Untuk satu kain batik, produksinya tidak bisa diperkirakan. Namun, tentunya kain batik tulis pengerjaannya pasti memakan waktu. Sebab, produksi batik tidak bisa sehari jadi. Batik dibuat handmade, bukan printing. Namun, jika ada orderan mendesak, pembeli bisa bebas memberi batas waktu.

Hingga saat ini, produksi di sanggar miliknya terbilang banyak. Untuk lukisan dengan motif Covid-19, sudah menghasilkan 10 lukisan. Untuk batik kain sekitar 150 lebih. Produksi kain batiknya ada dua jenis, yakni batik cap dan tulis.

“Ukurannya sama, dua meter untuk batik tulis dan cap. Kalau lukisan menyesuaikan pesanan. Pernah ada orderan dari Nunukan, Kalimantan Utara. Instansi sana order 75 batik cap korona,”ungkapnya.
Selain itu, kain batik korona produksinya dikirim sampai Bali dan Lombok.

Slamet sadar betul, pandemi Covid-19 jadi pukulan berat bagi para perajin batik. Namun tak serta merta membuatnya menyerah. Justru harus berani bertahan dan berusaha. Jika tidak, maka perajin batik bisa jatuh terpuruk. “Yang terpenting berdoa dan berusaha, jangan putus-putus,”kata Slamet. (avi/aro)

Tinggalkan Balasan

Lainnya

Hilangkan Jenuh, para Relawan Mendongeng

RADARSEMARANG.ID,Relawan di lokasi pengungsian Banyurojo, Mertoyudan, Kabupaten Magelang, mengisi kegiatan trauma healing dengan cara mendongeng. Kegiatan ini dilakukan...

Orang Tua Tak Setuju, Main Bola Sembunyi-Sembunyi

RADARSEMARANG.ID - Gadis ini melalui masa kecil dengan bermain sepak bola. Kenangan bola plastik, sepasang sandal penanda gawang, serta kumandang...

Manfaatkan Bahan Pangan Lokal, Diklaim Bergizi Tinggi

RADARSEMARANG.ID - Dua tim mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga memenangkan kompetisi inovasi di bidang pertanian, Panah Merah Innovation...

Usung Konsep Mural Simbolik Keluarga, Hasilnya Dipamerkan Virtual

RADARSEMARANG.ID - Kolektif Hysteria membuat mural setinggi lebih dari lima meter di tembok Rumah Susun Sewa (Rusunawa) Bandarharjo. Tak hanya...

Baik untuk Kesehatan, Bisa Jadi Sumber Pendapatan Warga

RADARSEMARANG.ID - Belimbing Wuluh ternyata kaya manfaat. Di tangan dosen Universitas PGRI Semarang (Upgris), buah berasa asam ini mampu disulap...

Setelah Terapi Plasma Darah, Alhamdulillah Saya Bisa Njenggelek

RADARSEMARANG.ID - Calon Wali Kota Semarang petahana Hendrar Prihadi sempat dinyatakan positif Covid-19. Kabar tersebut tentu mengagetkan. Pasalnya, pria yang...

Terbaru

Pasar Bulu dan Pasar Banjardowo Jadi Tempat Tinggal

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Puluhan lapak di dua pasar, yakni Pasar Bulu dan Pasar Banjardowo Kota Semarang ditertibkan oleh petugas...

Terkendala Regulasi, Tak Bisa Serta Merta Jatuhkan Sanksi

RADARSEMARANG.ID, Penyebaran Covid-19 di Kota Magelang terus mengalami peningkatan. Berbagai langkah pencegahan dan tindakan sudah dipersiapkan untuk mencegah penyebaran Covid-19 semakin meninggi. Berikut bincang-bincang...

Nissa Alamadina, Rintis Usaha saat Pandemi

RADARSEMARANG.ID, Merintis usaha di tengah pandemi Covid-19 tentu bukan hal yang mudah. Apalagi banyak usaha yang gulung tikar di saat pagebluk ini. Namun hal...

Hilangkan Jenuh, para Relawan Mendongeng

RADARSEMARANG.ID,Relawan di lokasi pengungsian Banyurojo, Mertoyudan, Kabupaten Magelang, mengisi kegiatan trauma healing dengan cara mendongeng. Kegiatan ini dilakukan agar anak-anak kembali ceria serta...

Suami Kedanan Burung, Istri Dilupakan

RADARSEMARANG.ID, Tak selamanya hobi membawa kesenangan. Nyatanya Lady Sandi dan John Dori berpisah. Penyebabnya, karena John sibuk dengan hobinya memelihara burung hingga lupa diri....

Populer

Sabar atas Cobaan, Tafsir Surah Al-Baqoroh 153-157

“YĀ ayyuhallażīna āmanusta'īnụ biṣ-ṣabri waṣ-ṣalāh, innallāha ma'aṣ-ṣābirīn (Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar) (QS Al...

Bangga Menjadi Agen Koran

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Saat didatangi, Nuriyanto tengah sibuk menyiapkan laporan akhir bulan penjualan koran. Rumahnya di Jalan Gaharu Utara 74 A, Kelurahan Srondol Wetan...

Wanita Perlu Berkarir

RADARSEMARANG.ID, Wanita perlu berkarir. Itu bukan tabu. Setidaknya itu yang dijalani Anis Setyaningrum saat ini. Anis - sapaan akrabnya—mengatakan, jika era emansipasi wanita haruslah...

Tersangka Sempat Bermesraan di Kamar Kos

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Motif pembunuhan Emy Listiyani (EL), 26, warga Ngabean, Kelurahan/Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang akhirnya terungkap. Emy dibunuh hanya gara-gara menagih utang Rp...

Pemerintah Buka Lowongan Sejuta Guru PPPK, Gaji Rp 4,06 Juta

RADARSEMARANG.ID, JAKARTA  – Pemerintah akan menambah jumlah guru di sekolah-sekolah negeri. Caranya, membuka rekrutmen guru kontrak berstatus pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK). Kuota...

Random

Model Group Investigation Tingkatkan Hasil Belajar Siswa

RADARSEMARANG.ID, BERDASARKAN hasil observasi yang telah dilakukan di kelas IIIb MI WS Kebonrowopucang bahwa hasil belajar pada mata pelajaran tematik masih rendah . Dalam...

Kreasikan Sabun Cair Higienis di Tengah Pandemi

RADARSEMARANG.ID, DI tengah pandemi Covid-19 yang belum diketahui kapan berakhir, dunia pendidikan mengalami banyak tantangan dan hambatan. Kegiatan pembelajaran untuk sementara dilaksanakan secara online....

Karate Wali Kota Cup 2019 jadi Ajang Cetak Bibit Unggul

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG, - Ratusan karateka Kota Semarang turun di ajang kejuaraan Karate Wali Kota Cup Tahun 2019. Mereka saling beradu untuk memperebutkan 65 medali...

Seminggu Hanya Mampu Produksi 200 Kilogram

RADARSEMARANG.ID, Sampah dedaunan dan kotoran ternak kerap dianggap sampah yang harus dibuang. Namun oleh Prastyoko, warga Kelurahan Karangayu Semarang Barat, disulap menjadi penyubur tumbuhan dan...

Puntung Rokok Hanguskan Hutan

RADARSEMARANG.ID, TEMANGGUNG- Kebakaran hutan tak hanya terjadi di lereng Gunung Merbabu. Api juga melalap lokasi wisata Goa Sigrowong Resor Pemangkuan Hutan (RPH) Tlogopucang Bagian...
%d blogger menyukai ini: