alexametrics

Dari Kaki Gunung Prau, Pernah Pentas hingga Jakarta

Lebih Dekat dengan Grup Kesenian Calung Ngudi Laras Temanggung

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Musik calung kini hampir punah. Hanya segelintir orang yang masih melestarikan. Salah satunya adalah Grup Kesenian Calung Ngudi Laras, Desa Campurejo. Kecamatan Tretep, Kabupaten Temanggung. Mereka hingga kini masih konsisten mengenalkan musik calung hingga ke ibu kota.

Calung adalah alat musik yang terbuat dari bambu. Biasanya ditampilkan menjadi pemanis dalam sebuah acara. Sebut saja dalam resepsi pernikahan, sunatan, pengajian, hingga seremonial pembukaan pada aksi krusial. Seperti beberapa waktu lalu, grup calung Ngudi Laras tampil di Kantor DPRD Jawa Tengah. Grup calung ini diundang untuk mengiringi aksi damai yang digagas oleh Forum Guyub Rukun Jawa Tengah.

“Kami diundang sebagai simbol perdamaian dan kebersamaan. Sekaligus memperkenalkan musik calung masih ada dan terus hidup,” kata Pendiri Grup Calung Ngudi Laras Tuji Ahmad kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dijelaskan pria yang akrab disapa Tomat ini, grup calung Ngudi Laras resmi berdiri pada 2015. Kala itu, warga Desa Campurejo sudah terbiasa dengan kesenian. Namun sudah banyak kesenian yang ada, sebut saja jaran kepang. Singkat cerita, Tuji sengaja membuat grup calung sebagai pembeda. Sepakat membuat kesenian calung, alat musik yang ramah lingkungan terbuat dari bambu.

Baca juga:  Kesenian Tak Boleh Berhenti

“Untuk kesenian jaran kepang sudah banyak. Karenanya, saya cari yang simpel yang gunanya menghibur banyak orang,”imbuh Tuji

Kesenian calung adalah kesenian tradisional yang peralatannya hanya terbuat dari batang bambu. Tapi, bisa mengeluarkan nada suara yang merdu. Sehingga nikmat untuk didengarkan dan dinikmati. Selama lima tahun, grup calung miliknya sudah malang melintang ke berbagai penjuru daerah. Pernah tampil hingga ke Jakarta, Banjarnegara, Wonosobo, Batang, Temanggung, Semarang hingga Kendal.

“Ke Jakarta dua kali. Alhamdulillah kami sering terlibat dalam aksi damai ketika ada demonstrasi. Pernah juga diundang Pak Ganjar. Sewaktu beliau dahulu mengambil nomor urut di Pilgub Jateng,”ceritanya.

Serangkaian undangan di atas juga berlaku pada undangan pementasan biasa. Mereka sering diminta mengisi resepsi pernikahan, sunatan, dan pengajian. Penuturan Tuji, selama lima tahun mereka masih konsisten melestarikan musik calung. Meski lahir dari lereng Gunung Prau, tidak menciutkan semangat mereka. Ada sekitar 40 anggota yang ada di grup musik calungnya.

Baca juga:  Sejak Masih TK Sudah Dikenalkan Gulat oleh Sang Kakek

“Untuk anggotanya berjumlah 40 orang. Didominasi oleh laki-laki berjumlah 30 dan 10 perempuan. Anggotanya warga satu kampung. Namanya Dusun Pringlegi,”tambahnya.

Ibarat simbol, Calung Ngudi Laras sudah menjadi ciri khas warna Campurejo. Mereka menikmati musik sederhana. Kata Tuji, anak gunung turun gunung bawa calung. Dari kaki gunung dengan tinggi 1.600 mdpl, Ngudi Laras melebarkan sayapnya. Medan terjal sudah biasa mereka tempuh. “Sukanya ya kita menghibur orang. Pada suka dangdut dan campursari. Kalau dukanya kadang karena kita dari lereng gunung, jadi lama perjalanannya. Tapi kita tetap menikmati,”kata Tuji.

Ketika tampil, mereka memiliki waktu pementasan yang berbeda. Saat diundang di acara resepsi, biasanya berdurasi enam jam. Jika tampil dalam acara pengajian, mereka bisa tampil dengan durasi empat jam. Alat dan bahannya mayoritas dari bambu. Hanya saja ditambah drum dan bass. Drum dan bass digunakan untuk menyeimbangkan laras nada.

Baca juga:  Seminggu Hanya Mampu Produksi 200 Kilogram

“Di Ngudi Laras ada dua angklung. Gambangnya ada dua, gendang satu, drum satu, bass hanya satu. Ada eret-eret dan satu kecrek-an, dan satu suling. Butuh 1,5 jam untuk persiapan merias dan segala macamnya,”jelas Tuji.

Tuji tak menampik, perkembangan musik modern sangat cepat. Ada kekhawatiran jika musik calung punah. Namun, dengan adanya grup calung Ngudi Laras, ia akan tetap konsisten. Adanya calung, sebagai simbol kesenian khas asli Indonesia. Meski hanya dari lereng gunung, ia dan grup binaannya akan terus melestarikan musik calung.

“Kami dari anak-anak lereng Gunung Prau, tidak mau menghilangkan kesenian khas Indonesia. Kami berharap, generasi sekarang jangan melupakan budaya apapun bentuknya. Jangan pernah terobsesi oleh budaya luar,”harapnya. (avi/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya