alexametrics

Ada Kegiatan Mayeng dan Sarasehan Barang Antik

Lebih Dekat dengan Komunitas Asem Kawak Semarang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Barang antik kini menjadi salah satu benda yang menarik untuk dikoleksi. Bahkan sudah banyak kolektor yang menjadikannya sebagai profesi untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah. Seperti yang dilakukan Komunitas Asem Kawak Semarang.

Kuno, antik, dan jadul, menjadi kata yang akrab bagi anggota pecinta barang antik. Sehari-hari komunitas Asem Kawak atau Antikane Semarang Kawasan Kota Lama memajang seluruh koleksi barang antik yang mereka punya di pelataran Galeri Industri Kreatif Kota Lama. Mulai dari perangko, uang kuno, hingga perabot rumah tangga jadul lengkap tersedia.

Komunitas yang berdiri sejak April 2019 ini menjadi tempat berkumpulnya pedagang, pecinta, dan penghobi barang antik di Kota Semarang. Awalnya, mereka hanya mendapat kesempatan untuk membuka sebuah pameran yang berada di sekitar lingkungan Taman Srigunting Kota Lama. Pameran tersebut digelar setiap sebulan sekali pada minggu kedua selama tiga hari.

Baca juga:  Bersepeda Cara Ampuh Usir Stres

“Dari pameran, ternyata masyarakat peminat barang antik itu banyak. Akhirnya kami mengusulkan ke pemerintah untuk disediakan tempat untuk dijadikan pasar antik. Kalau di Jakarta ada sentra barang antik di Jalan Surabaya, Jogja ada Pasar Pakuncen, Solo punya Pasar Triwindu, sedangkan di Semarang belum ada,” ujar Ketua Komunitas Asem Kawak Achmad Arifin kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Hingga akhirnya, lanjut dia, permintaan tersebut dikabulkan. Bekas gudang milik PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) disulap menjadi Galeri Industri Kreatif. Saat ini, tempat tersebut menjadi satu-satunya sentra pasar antik di Kota Semarang, dan telah dikenal hingga luar negeri, seperti Malaysia.

Komunitas yang memiliki jumlah anggota sebanyak 36 orang ini juga kerap mengadakan kegiatan rutin. Seperti kegiatan mayeng, setiap satu bulan sekali seluruh anggota berkumpul kemudian bersama-sama hunting barang antik di berbagai pasar.

Baca juga:  Sekarang mulai Jengkel, Alur Ceritanya Bertele-tele

“Kita kalau mayeng bisa sampai luar kota bisa Solo, Jogja, bahkan ke Jakarta. Selain itu, setiap tiga bulan sekali kita adakan sarasehan. Di situ kita saling sharing info tentang barang antik,” jelasnya.

Arifin -sapaan akrabnya- mengatakan, sebelumnya setiap anggota hanya fokus pada satu jenis barang antik saja. Namun dari kegiatan sarasehan tersebut membuat mereka tertarik untuk mengetahui lebih dalam tentang barang antik lainnya.

“Karena dasarnya dari hobi, jadi mereka punya satu barang andalan. Misalnya, yang hanya uang koin sama kertas atau perangko ya cuma perangko. Akhirnya, ikut tertarik koleksi barang antik lainnya. Tapi ada juga yang dari awal udah koleksi campuran,” tuturnya.

Menurut Arifin, barang antik terbagi menjadi tiga kriteria. Antik, kuno, dan jadulan. Dikatakan antik bila berupa furnitur lama seperti rumah lama. Kuno jika barang tersebut berasal dari zaman kerajaan atau dinasti, contohnya keramik. Sedangkan jadulan berupa perabotan di era 60-an seperti setrika arang.

Baca juga:  Dari Berbagi Sarapan hingga Berbagi Darah

Selain itu, lanjut dia, komunitas ini tidak hanya selalu membahas mengenai barang antik. Hubungan kekeluargaan antar anggotanya pun ikut terbangun. “Kita berjuangnya bareng-bareng mulai dari ngemper (berjualan di teras) sampai sekarang sudah ada fasilitas tempat yang memadai. Kita saling peduli bahkan kita juga sudah seperti keluarga. Kalau ada yang kesulitan kita bantu bareng,” ungkapnya.

Harapan ke depan, tambahnya, komunitas ini bisa diakui keberadaannya di Indonesia, bahkan hingga luar negeri. Kepada pemerintah mereka berharap agar pasar antik ini dipermanenkan, tidak hanya dalam jangka waktu beberapa tahun. “Nantinya juga bisa berkembang besar dan tertata rapi seperti Pasar Triwindu Solo,” katanya. (mg1/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya