alexametrics

Melakukan Edukasi hingga Rescue Satwa Liar

Lebih Dekat dengan Komunitas Satwa Eksotis (KSE) Semarang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Satwa reptil masih dinilai menakutkan bagi sebagian kalangan. Reptil bak satwa aneh. Tidak lazim dipelihara. Stigma semacam ini pun menjadi pelecut Komunitas Satwa Eksotis (KSE) Semarang untuk terus mengedukasi masyarakat.

Komunitas Satwa Eksotis Semarang berdiri pada 2013. Komunitas ini menjadi salah satu dari KSE di Indonesia. KSE Semarang bermula dari keinginan pecinta satwa di Semarang untuk bikin komunitas. Kini, KSE Semarang memiliki 200 anggota. Anggotanya menyebar di berbagai wilayah di Kota Semarang.

“Anggota kami ada yang pecinta sugar glider, musang, biawak, dan ular. Macem-macem. Tapi, lebih ke satwa peliharaan yang mungkin aneh menurut orang lain,” kata Ketua KSE Semarang Satria Yodha kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (23/10).

Baca juga:  Durian J-PINK, Kurang Kalau hanya Makan Sebutir

Agenda KSE Semarang dibagi menjadi tiga. Pertama, gathering anggota. Biasanya dilakukan saat car free day (CFD). Kedua, sosialisasi. Target sasaran sosialisasi adalah orang awam. Orang yang masih asing dengan satwa-satwa yang belum umum dipelihara. Misalnya, ular, biawak, atau musang.

Sosialisasi biasanya dimulai dengan mengajak orang lain, terutama anak-anak, untuk memegang satwa. Khususnya reptil. Tujuannya untuk mengenalkan satwa, melatih mental, serta menghilangkan image menakutkan dari satwa tersebut.

Selain sosialisasi di CFD, KSE Semarang melakukan sosialiasi di panti asuhan dan sekolah. Ada yang melalui undangan, ada yang melalui pengajuan proposal. Namun, sejak pandemi, agenda ini sementara terpaksa berhenti.

Ketiga, edukasi. Edukasi merupakan agenda lanjutan sekaligus bagian dari sosialisasi. Edukasi ditujukan untuk memberi pengetahuan tentang satwa. Mulai dari jenis, cara berkembang biak, cara perawatan, cara menghadapi satwa, dan sebagainya. Selain dengan aksi di lapangan, KSE Semarang melakukan edukasi dengan memanfaatkan media sosial Instagram.

Baca juga:  Tempel Menempel Rajut Imajinasi ala Seniman Kolase

“Misalnya orang awam ketemu ular liar. Cara menghadapinya, yang penting jangan menggunakan tangan kosong. Gunakan kayu atau tongkat. Siapkan karung buat mengamankan. Setelah itu, baru cari tempat buat rilis. Jangan buru-buru bunuh, sebelum terpaksa,” ujar Satria menerangkan.

Tidak berhenti di sosialisasi dan edukasi, KSE Semarang punya peran lebih untuk masyarakat. KSE turut membantu rescue. Biasanya, Satria dan kawan-kawan laris di musim penghujan.

“Sering banget kasus ular masuk rumah,” kata Satria.

“Kami merespons dari media sosial. Biasanya kalau ada apa-apa kan orang bikin postingan. Dari situ nanti kami beri tugas ke anggota yang paling dekat dengan lokasi untuk ngasih bantuan,” imbuhnya.

Baca juga:  Tak Boleh Main Voli, Rumah Tangga Hancur

Lebih lanjut, ada semangat konservasi dalam KSE Semarang. Agenda ini sesederhana merawat binatang liar temuan sebelum merilisnya ke alam bebas.

Kini, setelah tujuh tahun berdiri, KSE masih terus berusaha mengedukasi masyarakat. Mereka ingin menciptakan kesan baru ihwal satwa-satwa tidak biasa. Terutama reptil. Kata Satria, reptil sebenarnya sama dengan satwa lain. “Orang tak perlu takut berlebihan,” katanya. (cr3/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya