alexametrics

Transaksi Pakai Kirat, Pedagang Kenakan Pakaian Jawa

Mengunjungi Destinasi Wisata Pasar Slumpring di Bumijawa, Tegal

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Pasar Slumpring didirikan di bekas kebun bambu. Uniknya, di pasar ini uang konvensional tak digunakan sebagai alat tukar. Pedagang pria mengenakan baju lurik. Pedagang perempuan mengenakan kebaya.

Pasar Slumpring tampak penuh pengunjung pada Minggu (18/10/2020) kemarin. Puluhan mobil bernomor polisi dalam maupun luar provinsi terparkir di area parkir pasar ini. Sepeda motor juga banyak. Lebih dari seratus unit. Tapi rata-rata dari dalam kota. Pasar yang buka tiap hari Minggu itu memang menjadi andalan pariwisata Desa Cempaka, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal.

Pasar ini bukan di dalam gedung. Tetapi di alam terbuka. Suasananya sejuk dan rindang. Sebab, pasar ini didirikan di atas bekas kebun bambu. Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) desa setempat menyulap kebun bambu itu jadi pasar jajan unik.

Baca juga:  Rukayah, Lurah Bulusan, Kota Semarang, Mantan Atlet Angkat Besi

Prinsipnya seperti pasar jajan pada umumnya. Namun, Pasar Slumpring memiliki konsep tempo dulu. Menawarkan kesan dan suasana zaman kerajaan. Uang konvensional tak laku di pasar ini. Alat tukar menggunakan koin khusus. Terbuat dari bambu. Berukuran kira-kira 6×2,5 sentimeter. Tebalnya kira-kira 5 milimeter. Pengelola menamai koin bambu itu “Kirat”.

“Satu keping Kirat bernilai Rp 2.500. Kalau mau berbelanja, pengunjung harus menukarkan uang dengan Kirat itu terlebih dahulu,” kata Ketua Pokdarwis Desa Cempaka Abdul Hayi kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Alas pasar juga masih berupa tanah. Bilik dan meja pedagang dari bambu. Semua makanan tak boleh menggunakan bungkus berbahan plastik. Semua menggunakan daun pisang. Kecuali untuk minuman.

Baca juga:  Lembah Sikembang Dongkrak Ekonomi Lokal

“Kami selektif memilih pedagang. Prioritas kami jajanan kuno atau khas Tegal. Tidak sembarang jajanan yang dijual di sini,” jelas Hayi.

Kata Hayi, kurang lebih ada 50 pedagang. Semuanya warga setempat. Dari luar desa hanya boleh berjualan di dekat area parkir. Sebab, lanjut Hayi, pasar ini didirikan juga untuk menghidupkan UMKM warga.”Ya, untuk ekonomi kerakyatan,” imbuhnya.

Untuk menambah kesan tempo dulu, semua pedagang diwajibkan berpakaian khas Jawa. Pedagang pria mengenakan pakaian lurik dan memakai iket (ikat kepala). Sementara pedagang perempuan mengenakan kebaya dan jarik.”Ada penari dan live musik juga yang membawakan tarian dan tembang-tembang Jawa,” tururnya.

Pasar Slumpring mulai dibuka sejak tiga tahun lalu. Pasar ini buka tiap hari Minggu mulai pukul 09.00 hingga 12.00. Harga makanan ringan kisaran 1-3 Kirat. Makanan berat 3-5 Kirat, dan minuman 2-4 Kirat.

Baca juga:  Optimistis Tiga Juta Wisatawan

“Makanan khas Desa Cempaka, yakni sukit. Itu sejenis kue, terbuat dari tepung beras dan dinikmati dengan gula jawa cair,” beber Hayi.

Salah satu pengunjung asal Cirebon, Jawa Barat, Ade Setiabudi, mengaku sangat terkesan. Menurutnya, Pasar Slumpring sangat unik dan etnik. Sebagai anggota Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) Jawa Barat, Ade akan memasukkan Pasar Slumpring dalam daftar destinasi wisata prioritas.

“Sebagai penyedia biro perjalanan wisata, saya tentu akan bawa wisatawan ke sini. Tempat ini sangat recommended dikunjungi sebagai wisata kuliner dan edukasi,” akunya. (nra/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya