alexametrics

Pandemi, Pesanan Tetap Tinggi, Diekspor ke Jepang

Saryono, Mantan Dosen yang Sukses Jadi Petani Alpukat Wina di Bandungan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Di Dusun Ngasem, Desa Jetis, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang terdapat budidaya pembibitan alpukat wina. Pencetusnya Saryono. Alpukat berukuran raksasa ini bahkan sudah diekspor ke Jepang.

Di ruang tamu rumah Saryono terpajang sejumlah penghargaan. Juga terpasang foto-foto Suryono saat menerima penghargaan dan mengikuti pameran alpukat wina yang dikembangkan. Salah satunya, foto Suryono bersama Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Saryono dulunya merupakan dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Kabupaten Semarang. Selain menjadi dosen, ia juga menjadi petani buah kelengkeng. Namun setelah banyak kelengkeng impor masuk Indonesia, akhirnya kelengkeng lokal kalah. Ia pun banting stir menjadi petani alpukat.
Saryono berinisiatif untuk membudidayakan alpukat yang sebelumnya tidak pernah dilirik oleh masyarakat. Namanya alpukat wina. Nama ini berasal dari nama salah satu hotel yang dekat dengan tumbuhnya alpukat wina generasi pertama.

Menurut Ketua Asosiasi Petani Alpukat Wina Berkah Jaya ini, alpukat wina berbeda dengan alpukat lokal. Ciri-ciri dari alpukat wina ini bentuknya bulat, daging berwarna kuning, tanpa serat, kulitnya lebih tebal dan lebih tahan lama dibanding dengan alpukat lokal.
“Alpukat wina ini bisa tahan sampai dua minggu, berbeda dengan alpukat lokal yang hanya tahan tiga sampai empat hari saja,” jelasnya.

Baca juga:  Mbak Ita Apresiasi Keguyuban Warga Kelurahan Barusari

Alpukat wina ini dapat menjadi bisnis yang menjanjikan. Berat satu buahnya saja rata-rata 800 gram sampai 1,1 kg. Alpukat ini tidak mudah busuk, jika dibiarkan menggantung di pohon, maka beratnya pun akan bertambah. Untuk buah yang berukuran paling besar ia mengaku pernah mencatat angka sampai 2 kg. Rekor lain adalah buah dengan berat 1,8 kg dengan ketebalan buahnya mencapai tiga sentimeter. Buah yang dihargai Rp 40 ribu per kilo ini sudah dikirim sampai luar negeri.

“Banyak peminatnya, selain dikirim ke luar daerah, alpukat wina ini bahkan sampai dikirim ke luar negeri, biasanya ke Jepang,” ujarnya.

Saat ini, Saryono menjadi percontohan untuk petani lainnya. Bibit alpukat miliknya banyak dicari oleh petani lainnya. Banyak apresiasi yang diberikan kepadanya. Selain itu, ia pernah meraih juara III Kontes Calon Varietas Buah Alpukat 2016.

Baca juga:  Setiap Hari Waswas, 18 KK Terpaksa Mengungsi

Dikatakan, budidaya alpukat wina sudah sampai di luar Kabupaten Semarang. Banyak tawaran yang masuk untuk menyuplai bibit serta buah alpukat wina ke berbagai daerah dan negara. Sudah lebih dari 25 ribu pohon alpukat wina dibudidayakan di Kabupaten Semarang. Namun saking banyaknya permintaan pasar, petani masih kewalahan.

“Setiap hari ada pesanan satu ton alpukat wina dari Surabaya. Ada juga pesanan yang lain, akan tetapi tidak saya terima karena stok buah yang tidak ada,” jelas Saryono.

Pria 53 tahun ini telah mendapat sertifikat mengenai pembibitan alpukatnya dari Dinas Pertanian. Setiap ada pesanan pembibitan alpukat dari dalam maupun luar daerah, pasti akan lewat dirinya. Selain itu, Saryono juga kerap melakukan pelatihan tentang pembibitan alpukat wina atau sekadar sosialisasi kepada petani lain yang masih pemula.

Baca juga:  Pemerintah Pusat Harus Perhatikan Nasib Petani

Ia mengaku, perhatian pemerintah mengenai alpukat wina sangat baik. Pemerintah sering melakukan kerja sama dengan Asosiasi Petani Alpukat Wina Berkah Jaya miliknya. Beberapa kali pemerintah membeli bibit alpukat wina darinya dan disumbangkan ke petani lain.

“Saat ini saya lebih fokus ke pembibitan, tapi juga tetap menangani apabila ada permintaan buah alpukat wina,” ujarnya.

Saryono mengaku, selama pandemi pesanan alpukat tidak terpengaruh. Namun untuk ekspor barang agak tersendat. Untuk bibit alpukat wina sampai dapat dipanen kurang lebih selama empat tahun. Saat disambung maupun dicangkok terkadang juga diserang hama, yaitu jamur. Sehingga menyebabkan penyambungan gagal dan harus mengulang dari awal. Akan tetapi, ia tidak pantang menyerah. Karena alpukat wina dapat memberikan hasil yang menjanjikan.

“Satu pohon alpukat wina dapat ditebas (dibeli) sampai lima orang saking banyaknya buah. Untuk itu, saya berharap petani tetap mempertahankan kualitas dari alpukat ini,” harapnya. (mg10/mg12/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya