alexametrics

Hamil dengan Warga Tegal, Anak Nyaris Dijual Mertua

Kisah Pilu Chen Shih Tsuan, WNA Taiwan Asal Medan Penghuni Rudenim Semarang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Semarang saat ini masih menampung 12 deteni atau orang asing penghuni Rudenim. Dua di antaranya Chen Shih Tsuan dan anaknya Ijal. Dia warga asli Medan yang berkewarganegaraan Taiwan. Sedangkan Ijal adalah buah hatinya dengan warga Tegal yang hingga kini belum pernah bertemu ayahnya.

Ijal, begitulah sapaan bocah empat tahun itu. Ia sangat aktif, berlari ke sana ke mari, tertawa girang, dan gampang bersosial. Ia sekolah di salah satu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) tak jauh dari Rudenim Semarang. Bocah ini tak punya identitas, baik akta kelahiran maupun status penduduk. Hanya punya nama. Sejak berusia tujuh bulan, Ijal bersama ibunya Magdalena alias Chen Shih Tsuan dikirim oleh Kantor Imigrasi Pemalang ke Rudenim Semarang. Ibu dan anak itu resmi menjadi penghuni Rudenim sejak empat tahun lalu, tepatnya 22 Agustus 2016.

Chen-chen –panggilan akrab Chen Shih Tsuan baru selesai memasak saat Jawa Pos Radar Semarang mengunjungi kamarnya di Rudenim Semarang. Ia mengenakan baju hitam bermotif bunga dengan setelan celana garis-garis. Rambutnya sebahu. Ubannya sudah tampak meski belum banyak. Ia pakai asesoris penjepit rambut. Badannya cukup berisi alias gendut. Tingginya tak lebih dari 150 meter. Kulitnya putih, namun kusam. Tak segar, karena kurang terawat.

Wanita 36 tahun ini seperti membuka luka lama saat bercerita tentang kisah hidupnya terdampar di Rudenim Semarang. Kala itu, Chen-chen asal Medan ini menikah dengan orang Taiwan. Kewarganegaraannya berubah mengikuti suaminya. Namanya juga berubah, dari Magdalena menjadi Chen Shih Tsuan. Setelah 15 tahun menikah, suaminya meninggal. Selang beberapa waktu, ia kembali menjalin hubungan dengan pria asal Tegal yang bekerja di Taiwan. Keduanya berpacaran hingga Chen-chen hamil. Ia meminta untuk dinikahi.

Baca juga:  Juragan Tebang Tewas Tertimpa Pohon

“Saat itu, saya diminta untuk datang ke Tegal lebih dulu, katanya dia mau menyusul gitu,” kisahnya.

Ia manut. Di usia kehamilannya yang menginjak lima bulan, ia mendatangi rumah orang tua kekasihnya. Tentu saja, orang tua kekasihnya itu bingung karena tak ada status pernikahan, namun mengaku sebagai anak mantu. Meski begitu, Chen-chen tinggal di sana hingga melahirkan. Sampai saat itu kekasihnya tak juga kembali. Orang tuanya memaksa pulang, namun kekasihnya tak mau pulang. Karena tak punya uang, ia kemudian bekerja di warung makan. Ia titipkan Ijal, anaknya itu, ke mertuanya.

Chen-chen berhenti sejenak dalam bercerita. Matanya mulai berkaca-kaca. Bibirnya bergetar. Ia terbata-bata. Chen-chen tak sanggup melanjutkan ceritanya. Lukanya terlalu dalam, dan terlalu sakit untuk diingat. Si Ijal yang tengah bermain motor-motoran berhenti melihat ibunya menangis.

“Mama jangan nangis, Ijal sayang mama,” ucapnya sambil mengusap linangan air mata.

Anak semata wayangnya itu kemudian mencium ibunya. Setelah menghela nafas, Chen-chen kembali berusaha membuka mulut untuk bercerita. “Teganya!” kata Chen-chen meninggi.

Ia mengatakan, kalau mertuanya di Tegal sempat menjual Ijal seharga Rp 10 juta. Ijal sudah dibawa pembeli. Chen-Chen bingung. Ia tak mau tahu, pokoknya anaknya harus kembali. “Saya yang susah, mereka mau enaknya saja. Akhirnya anak saya dikembalikan,” katanya sambil sesekali mengusap air mata.

Baca juga:  Cuaca Buruk di Semarang Mulai Telan Korban

Karena keadaan itu tadi, ia ingin kembali ke Taiwan. Ia mengajukan dokumen untuk membuat paspor ke kelurahan. Karena yang ia punya hanya paspor, maka pihak kelurahan menolak, karena statusnya WNA. Ia kemudian dikirim ke Kantor Imigrasi Pemalang.

Chen-Chen mengaku, kedua mertuanya jahat. Baik yang di Taiwan maupun di Tegal. Sama-sama tak mau menerima kehadirannya. Ketika Chen-chen menanyakan keberadaan kekasihnya untuk dimintai pertanggungjawaban, mertuanya tak memberi tahu. Justru mengatakan bahwa dia sudah menikah dengan orang Tegal.

Keinginan terbesarnya adalah ingin bebas untuk mencari ayahnya Ijal. Paling tidak Ijal diakui, agar anaknya punya status kewarganegaraan. “Kasihan anak ini tak bisa tinggal di Indonesia, juga tak bisa tinggal di Taiwan,” tuturnya.

Saat ingin kembali ke keluarganya di Medan pun Chen-chen sudah tak punya kontak lagi. Nomor teleponnya tak aktif. Sudah lama mereka tak berhubungan. Alamat rumahnya pun juga tak ingat. Meski tak mau berlama-lama di Rudenim, namun ia pasrah. Ia tak bisa berbuat banyak selain menjaga anaknya agar selalu sehat.

Kepala Rudenim Semarang Retno Mumpuni berjanji akan memperjuangkan kewarganegaraan Ijal. Ia akan mengajukan ke Direktorat Jenderal Administrasi Hukum (Dijten AHU) agar anak kecil ini punya identitas.

Baca juga:  Disambar Petir, Empat Petani Tewas, Empat Luka

Retno menjelaskan, keberadaan Ijal dikarenakan ibunya melanggar peraturan keimigrasian, yakni masa berlaku Visa habis. Akibatnya, ia overstay selama satu tahun. Mereka pun menjadi penghuni terlama. Selain itu, masalah yang dialami dua deteni ini sangat kompleks. Ketika berada di Taiwan, Ijal tak akan bisa tinggal, dan tak diakui sebagai warga negara. Sebab, tak punya identitas dan tak punya marga Taiwan. Begitupun ketika tinggal di Indonesia. Bocah tak berdosa ini terhalang identitas yang sampai saat ini belum jelas.

“Tapi sesuai UU Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian, dua deteni bisa menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) ketika mereka sudah tinggal di Rudenim selama sepuluh tahun,” tuturnya.

Dikatakan, ada perlakuan khusus terhadap Ijal selama di Rudenim. Karena masih kecil, pihaknya tak mengurung Ijal.

Retno menjelaskan, ia tak mau anak kecil ini merasa diperlakukan seperti tahanan. Jangan sampai membekas di pikirannya bahwa dia berada di tahanan. “Karena dia masih anak-anak, tidak saya kurung, dia bebas di wilayah Rudenim,” ujarnya.

Sehari-hari, Ijal bermain dengan pegawai Rudenim. Masuk ke ruangan, makan bareng, bahkan saking dekatnya Ijal memanggil mereka dengan sebutan mama, ibu, dan bapak. Retno pun sudah menganggap Ijal seperti anaknya sendiri. “Anak ini sangat pintar. Jika jam pulang kerja, ia akan kembali bersama ibunya. Begitupun ketika pegawai sedang rapat, ia tidak akan menganggu,” katanya. (ifa/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya