alexametrics

Hamil dengan Warga Tegal, Anak Nyaris Dijual Mertua

Kisah Pilu Chen Shih Tsuan, WNA Taiwan Asal Medan Penghuni Rudenim Semarang

Menarik

Melakukan Edukasi hingga Rescue Satwa Liar

RADARSEMARANG.ID, Satwa reptil masih dinilai menakutkan bagi sebagian kalangan. Reptil bak satwa aneh. Tidak lazim dipelihara. Stigma semacam ini...

Cover Koreografi Blackpink, Pernah Tampil di Depan Dubes Korsel

RADARSEMARANG.ID, Musik K-Pop semakin ramai diminati generasi milenial Indonesia, tak terkecuali di Kota Semarang. Komunitas Dance Cover K-Pop pun...

Dianggap Ikan Anak SD, Ada yang Laku Rp 1,2 Juta

RADARSEMARANG.ID - Berlokasi di gang sempit, Arul Firmansyah, 21, membudidayakan ratusan ekor ikan cupang. Berbekal botol air mineral, ember es...

RADARSEMARANG.ID – Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Semarang saat ini masih menampung 12 deteni atau orang asing penghuni Rudenim. Dua di antaranya Chen Shih Tsuan dan anaknya Ijal. Dia warga asli Medan yang berkewarganegaraan Taiwan. Sedangkan Ijal adalah buah hatinya dengan warga Tegal yang hingga kini belum pernah bertemu ayahnya.

Ijal, begitulah sapaan bocah empat tahun itu. Ia sangat aktif, berlari ke sana ke mari, tertawa girang, dan gampang bersosial. Ia sekolah di salah satu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) tak jauh dari Rudenim Semarang. Bocah ini tak punya identitas, baik akta kelahiran maupun status penduduk. Hanya punya nama. Sejak berusia tujuh bulan, Ijal bersama ibunya Magdalena alias Chen Shih Tsuan dikirim oleh Kantor Imigrasi Pemalang ke Rudenim Semarang. Ibu dan anak itu resmi menjadi penghuni Rudenim sejak empat tahun lalu, tepatnya 22 Agustus 2016.

Chen-chen –panggilan akrab Chen Shih Tsuan baru selesai memasak saat Jawa Pos Radar Semarang mengunjungi kamarnya di Rudenim Semarang. Ia mengenakan baju hitam bermotif bunga dengan setelan celana garis-garis. Rambutnya sebahu. Ubannya sudah tampak meski belum banyak. Ia pakai asesoris penjepit rambut. Badannya cukup berisi alias gendut. Tingginya tak lebih dari 150 meter. Kulitnya putih, namun kusam. Tak segar, karena kurang terawat.

Wanita 36 tahun ini seperti membuka luka lama saat bercerita tentang kisah hidupnya terdampar di Rudenim Semarang. Kala itu, Chen-chen asal Medan ini menikah dengan orang Taiwan. Kewarganegaraannya berubah mengikuti suaminya. Namanya juga berubah, dari Magdalena menjadi Chen Shih Tsuan. Setelah 15 tahun menikah, suaminya meninggal. Selang beberapa waktu, ia kembali menjalin hubungan dengan pria asal Tegal yang bekerja di Taiwan. Keduanya berpacaran hingga Chen-chen hamil. Ia meminta untuk dinikahi.

“Saat itu, saya diminta untuk datang ke Tegal lebih dulu, katanya dia mau menyusul gitu,” kisahnya.

Ia manut. Di usia kehamilannya yang menginjak lima bulan, ia mendatangi rumah orang tua kekasihnya. Tentu saja, orang tua kekasihnya itu bingung karena tak ada status pernikahan, namun mengaku sebagai anak mantu. Meski begitu, Chen-chen tinggal di sana hingga melahirkan. Sampai saat itu kekasihnya tak juga kembali. Orang tuanya memaksa pulang, namun kekasihnya tak mau pulang. Karena tak punya uang, ia kemudian bekerja di warung makan. Ia titipkan Ijal, anaknya itu, ke mertuanya.

Chen-chen berhenti sejenak dalam bercerita. Matanya mulai berkaca-kaca. Bibirnya bergetar. Ia terbata-bata. Chen-chen tak sanggup melanjutkan ceritanya. Lukanya terlalu dalam, dan terlalu sakit untuk diingat. Si Ijal yang tengah bermain motor-motoran berhenti melihat ibunya menangis.

“Mama jangan nangis, Ijal sayang mama,” ucapnya sambil mengusap linangan air mata.

Anak semata wayangnya itu kemudian mencium ibunya. Setelah menghela nafas, Chen-chen kembali berusaha membuka mulut untuk bercerita. “Teganya!” kata Chen-chen meninggi.

Ia mengatakan, kalau mertuanya di Tegal sempat menjual Ijal seharga Rp 10 juta. Ijal sudah dibawa pembeli. Chen-Chen bingung. Ia tak mau tahu, pokoknya anaknya harus kembali. “Saya yang susah, mereka mau enaknya saja. Akhirnya anak saya dikembalikan,” katanya sambil sesekali mengusap air mata.

Karena keadaan itu tadi, ia ingin kembali ke Taiwan. Ia mengajukan dokumen untuk membuat paspor ke kelurahan. Karena yang ia punya hanya paspor, maka pihak kelurahan menolak, karena statusnya WNA. Ia kemudian dikirim ke Kantor Imigrasi Pemalang.

Chen-Chen mengaku, kedua mertuanya jahat. Baik yang di Taiwan maupun di Tegal. Sama-sama tak mau menerima kehadirannya. Ketika Chen-chen menanyakan keberadaan kekasihnya untuk dimintai pertanggungjawaban, mertuanya tak memberi tahu. Justru mengatakan bahwa dia sudah menikah dengan orang Tegal.

Keinginan terbesarnya adalah ingin bebas untuk mencari ayahnya Ijal. Paling tidak Ijal diakui, agar anaknya punya status kewarganegaraan. “Kasihan anak ini tak bisa tinggal di Indonesia, juga tak bisa tinggal di Taiwan,” tuturnya.

Saat ingin kembali ke keluarganya di Medan pun Chen-chen sudah tak punya kontak lagi. Nomor teleponnya tak aktif. Sudah lama mereka tak berhubungan. Alamat rumahnya pun juga tak ingat. Meski tak mau berlama-lama di Rudenim, namun ia pasrah. Ia tak bisa berbuat banyak selain menjaga anaknya agar selalu sehat.

Kepala Rudenim Semarang Retno Mumpuni berjanji akan memperjuangkan kewarganegaraan Ijal. Ia akan mengajukan ke Direktorat Jenderal Administrasi Hukum (Dijten AHU) agar anak kecil ini punya identitas.

Retno menjelaskan, keberadaan Ijal dikarenakan ibunya melanggar peraturan keimigrasian, yakni masa berlaku Visa habis. Akibatnya, ia overstay selama satu tahun. Mereka pun menjadi penghuni terlama. Selain itu, masalah yang dialami dua deteni ini sangat kompleks. Ketika berada di Taiwan, Ijal tak akan bisa tinggal, dan tak diakui sebagai warga negara. Sebab, tak punya identitas dan tak punya marga Taiwan. Begitupun ketika tinggal di Indonesia. Bocah tak berdosa ini terhalang identitas yang sampai saat ini belum jelas.

“Tapi sesuai UU Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian, dua deteni bisa menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) ketika mereka sudah tinggal di Rudenim selama sepuluh tahun,” tuturnya.

Dikatakan, ada perlakuan khusus terhadap Ijal selama di Rudenim. Karena masih kecil, pihaknya tak mengurung Ijal.

Retno menjelaskan, ia tak mau anak kecil ini merasa diperlakukan seperti tahanan. Jangan sampai membekas di pikirannya bahwa dia berada di tahanan. “Karena dia masih anak-anak, tidak saya kurung, dia bebas di wilayah Rudenim,” ujarnya.

Sehari-hari, Ijal bermain dengan pegawai Rudenim. Masuk ke ruangan, makan bareng, bahkan saking dekatnya Ijal memanggil mereka dengan sebutan mama, ibu, dan bapak. Retno pun sudah menganggap Ijal seperti anaknya sendiri. “Anak ini sangat pintar. Jika jam pulang kerja, ia akan kembali bersama ibunya. Begitupun ketika pegawai sedang rapat, ia tidak akan menganggu,” katanya. (ifa/aro)

Terbaru

DPR: Penangkapan Gus Nur Sudah Berdasarkan Bukti-Bukti Jelas‎

RADARSEMARANG.ID, Jakarta - Polemik penangkapan Sugi Nur Rahardja ‎(Gus Nur) yang diduga melecehkan kaum Nahdlatul Ulama (NU), menuai sorotan banyak...

Latih Kemandirian dengan Bisnis Makanan

RADARSEMARANG.ID, SALATIGA - Bisnis makanan merupakan salah satu tiang perekonomian. Bahkan 31 persen usaha di Kota Salatiga adalah olahan makanan. Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Perindustrian...

Tantang Kreativitas Pelajar lewat Kompetisi Video Belajar

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG– PT Astra Honda Motor (AHM) mengajak seluruh pelajar di 682 SMK mitra binaan untuk berkreasi membuat konten video yang menarik melalui Vacational Video Challenge 2020....

Perkuat Penjualan, Citra Grand Gandeng IKEA

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Perumahan premium, Citra Grand Semarang kini menggandeng IKEA untuk mendongkrak penjualan. Furniture kenamaan tersebut dipilih sebagai jawaban model hunian berkelas. Marketing Manager Citra...

Sekolah Vokasi Undip Genjot SDM melalui Pusat Pelatihan Otomasi Industri

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Masih rendahnya jumlah Sumber Daya Manusia (SDM) yang terampil, dalam menguasai teknologi otomasi industri, khususnya aplikasi praktis Programmable Logic Controller (PLC),...

Populer

Sabar atas Cobaan, Tafsir Surah Al-Baqoroh 153-157

“YĀ ayyuhallażīna āmanusta'īnụ biṣ-ṣabri waṣ-ṣalāh, innallāha ma'aṣ-ṣābirīn (Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar) (QS Al...

Pendaftaran Banpres UMKM Diperpanjang

RADARSEMARANG.ID, Pekalongan – Pemerintah memperpanjang waktu pendaftaran Bantuan Presiden (Banpres) Program Bantuan Produktif Usaha Mikro (BPUM). Pendaftaran  tahap II dibuka hingga akhir November 2020....

Wanita Perlu Berkarir

RADARSEMARANG.ID, Wanita perlu berkarir. Itu bukan tabu. Setidaknya itu yang dijalani Anis Setyaningrum saat ini. Anis - sapaan akrabnya—mengatakan, jika era emansipasi wanita haruslah...

Bangga Menjadi Agen Koran

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Saat didatangi, Nuriyanto tengah sibuk menyiapkan laporan akhir bulan penjualan koran. Rumahnya di Jalan Gaharu Utara 74 A, Kelurahan Srondol Wetan...

Masa Depan Pesantren

RADARSEMARANG.ID - Jika semua yang berasrama mendefinisikan dirinya sebagai pesantren, maka akan datang suatu masa di mana pesantren akan dianggap sama dengan lembaga pendidikan...

Random

Sepuluh Roller Lolos ke PON 2020

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Tim sepatu roda Jateng meloloskan 10 atlet andalannya ke PON tahun 2020 setelah menyabet 2 emas, 2 perak dan 4 perunggu, di...

Prajurit TNI Gagalkan Penyelundupan Minyak

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG—Sebanyak 400 prajurit Satgas Yonif Raider 408/Sbh tiba di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang dengan menggunakan kapal KRI Manado, Selasa (17/9). Mereka kembali ke...

Juru Masaknya Chef Hotel, Warga bisa Makan Gratis

RADARSEMARANG.ID, Sejak sepekan ini, warga RW 03 Kelurahan Jomblang, Kecamatan Candisari, Kota Semarang membuka dapur umum. Di tempat ini, warga menyediakan menu makan gratis...

IKLAN BARIS 12 MEI 2020

SEMARANG KEHILANGAN HLG BPKB dan faktur pembelian suzuki ertiga tahun 2014, H-8794-FL atas nama Anang Setyo U, Jl.Panjaitan Raya No.65 Ungaran hub. 081228563456 4-12.05/RS HLG Bpkb K...

PNS Kemenkumham Jateng Ditemukan Meninggal di Rumah Dinas

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Muhamad Ridwan, 44, salah satu Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kemenkumham Jateng yang baru dua minggu dirotasi dari Jakarta ke Jateng,...

Lainnya