alexametrics

Akhiri Perang Tarif, Temukan Mobil Anggota yang Hilang

Lebih Dekat dengan Magelang Rent Car Community

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Persaingan bisnis tidak menyurutkan niat para pemilik rental mobil di Magelang bersatu. Malahan jadi anggota keluarga baru, sampai saling membantu di saat kesulitan. Seperti apa?

Sebelumnya, suhu persaingan bisnis rental mobil di Magelang memanas. Perang tarif terjadi. Pemilik usaha, banting harga. Tidak berpikir masih harus mengeluarkan biaya operasional untuk perawatan mobil dan pajak kendaraan. Kala itu, yang penting laku. Mobil-mobil tidak ada yang “upacara”.

Tiga tahun belakangan, beberapa pemilik usaha rental mobil yang punya hobi nongkrong, iseng membahas polemik ini. Keinginan menyudahi perang dingin antarpengusaha rental mobil sangat kuat. Supaya menjalankan bisnis tidak berat. Kalau ketemu, saling sapa. Jika susah, saling bantu. Tercetuslah Magelang Rent Car Community (MRC) pada 17 Maret 2017.

Ketua MRC Hidayat Akhirudin menjelaskan, dua tahun Ketua MRC dijabat oleh Yunus Makarta. Menurutnya, Yunus adalah pendiri MRC bersama Yatno Bowo dan beberapa pengusaha rental lainnya. Baru tahun ini, ia menggantikan Yunus menahkodai MRC.

“Kita ada 42 anggota aktif dengan jumlah mobil terdaftar sekitar 400 unit,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Masih banyak pengusaha rental mobil yang belum bergabung di MRC. Di sisi lain, ada satu lagi komunitas rental mobil yang juga aktif di Magelang.
Ia akui, keberadaan MRC mampu mencairkan tensi bisnis rental mobil di Magelang. Perang tarif, berakhir. “Karena kami ada kesepakatan harga jual ke pelanggan, dan harga rent to rent. Ini istilah kami kalau kehabisan unit, terus kami order ke teman MRC,” ucap pria 30 tahun ini.

Warga Secang, Kabupaten Magelang ini mengakui, persaingan harga di daerah perbatasan dengan Jogjakarta sangat kompetitif. Sekarang tidak lagi disoal. Ia mengaku, anggota MRC tetap solid dari terjangan manapun.

Baca juga:  Dua Tahun Bekerja di Malaysia, Juga Biayai Adik Kuliah

Saat sepi seperti ini, sesama anggota saling memberi dukungan. Pandemi Covid-19, diakui, memukul bisnis rental mobil. Beberapa momen tahunan yang dinanti, lewat begitu saja. Bisnis sedang tidak menggembirakan.

“Biasanya kita panen saat Lebaran, dan liburan sekolah, tahun ini sepi sekali. Hampir 98 persen, tidak ada pergerakan untuk sewa mobil,” keluhnya.
Terpaksa, sisa keuntungan yang ditabung, dibobol untuk pertahanan. Meski kondisi buruk ini masih berlangsung, kata dia, anggota MRC sepakat tidak menurunkan tarif. Pertimbangannya sangat banyak.

Tidak semua anggota MRC mobilnya dibeli cash. Ada yang masih nyicil. Lalu, harga suku cadang tidak murah. Biaya perawatan mobil juga butuh ongkos yang tidak sedikit.
“Situasi pandemi Covid-19 ini harus lebih hati-hati dan waspada menerima pesanan. Kejahatan di sekitar kita. Jangan terlalu mengejar nominal, tanpa didasari standar operasional prosedur (SOP) yang kita sepakati,” imbaunya.

Beberapa kegiatan kopi darat (kopdar) juga dibatasi, sampai dibatalkan. Normalnya, MRC melakukan rutinitas ngumpul untuk bermusyawarah dan merekatkan hubungan antaranggota. Tapi, tidak dengan komunikasi melalui grup WhatsApp. Ini masih jalan.

“Kita saling jaga komunikasi, tukar pikiran, antisipasi hal-hal rawan, cari peluang bisnis lain yang bisa menambah penghasilan,” sebutnya.

MRC juga menempuh jalan negosiasi kepada pihak leasing. Agar memaklumi kondisi pengusaha rental, dan memberikan kelonggaran untuk pembayaran angsuran mobil. “Hasilnya, ada yang menguntungkan buat kita, tapi ada juga yang memberatkan,” keluhnya.

Dirinya berharap, semangat MRC terus bergelora. Rasa kepedulian yang selama ini terbentuk, tidak luntur “dimakan” situasi sulit. Baik dengan internal MRC, maupun dengan komunitas-komunitas lain di dalam kota maupun di luar kota.

Baca juga:  Having Fun, Eksplor Kota ala Gowes Penax Semarang

“Kami punya banyak teman dan saudara di luar kota, karena MRC juga bergabung dengan komunitas-komunitas besar lainnya, baik sekala regional maupun nasional,” ucapnya.

Menjalin relasi dengan pihak luar sangat bermanfaat. Jika ada anggota yang mengalami kendala di luar kota, sudah banyak pahlawan yang datang membantu menuntaskan masalah itu. Pun sebaliknya.
“Kadang ada kendala teknis, mobil kita digadaikan oleh konsumen atau mengalami kecelakaan di luar kota, kita pasti dibantu oleh komunitas lain di daerah itu,” sebutnya.

Hidayat mengakui, bisnis rental mobil memang menggiurkan. Jika sukses, bisa mengoleksi mobil sangat banyak dengan berbagai merek dan tipe. “Asyiknya bisa gonta-ganti mobil sesuka kita, hehehe,” ujarnya.

Apesnya, ditipu sendiri oleh konsumen. Paling sering kasus dicuri suku cadangnya, mobil digadai, sampai kehilangan kendaraan. Juga konsumen yang ngutang. “Sebagian besar kasus itu bisa tertangani oleh anggota MRC, eksekusi kita sendiri. Kalau kesulitan baru kami lapor Polisi,” ungkapnya.

Maksud eksekusi sendiri, kata Hidayat, anggota MRC-lah yang mengatasi permasalahan itu. Begitu ada informasi mobil anggota digelapkan konsumen, MRC langsung bergerak. “Kita kerja tim.”
Ia bercerita, pernah sukses mengambil kembali unit mobil yang sudah tidak terlacak keberadaannya. Tiga minggu dalam pencarian, belum menemukan titik terang. “Kita tetap mengelilingi Magelang, sampai akhirnya ketemu, dan pelaku itu kita serahkan ke polisi,” ujarnya.

Cerita berkesan lainnya, satu unit mobil anggota MRC dibawa kabur konsumen selama satu bulan. Keberadaan mobil itu sudah sulit terlacak. Siapa sangka, kepekaan anggota MRC menghafalkan ciri-ciri mobil temannya mampu membuat kendaraan roda empat itu kembali ke tangan si pemilik sebenarnya.

Baca juga:  Di Pantai Baruna, Banyak Sampah Celana, Kaos, hingga Sepatu dan Sandal

“Tiba-tiba kita lihat mobil itu masuk Magelang. Sudah berubah total, sampai sulit dikenali. Tapi ada ciri khas mobil itu masih nempel, akhirnya mobil itu kita kejar dan kita ambil alih. Dan bisa dibawa pulang anggota, itu sangat mengesankan,” kenangnya.

Ditanya dari mana anggota MRC bisa memiliki kemampuan seperti itu ? Hidayat menyebut atas bantuan dari Sang Pencipta dan kekompakan anggota MRC. “Kita perkuat informasi. Dan kadang memang nggak masuk akal, kok bisa kita menemukan mobil yang sudah hilang. Tapi semua ini lantaran dari Yang Kuasa,” ucapnya bersyukur.

Pencarian mobil seperti ini dilakukan anggota secara sukarela. Tidak minta dibayar. Menurutnya, ini yang dinamakan solidaritas, bukan cari keuntungan diatas penderitaan temannya.
“Ya ini manfaat kalau bergabung di komunitas. Tiap ada masalah, nggak dipikir sendiri. Kita pikir bareng-bareng, cari solusi. Kita saling ngasih informasi, saling menjaga usaha agar tetap awet dan berkembang.”

Tiap anggota diharamkan pelit informasi. Jika mengalami kejanggalan atau mencurigai ada konsumen yang tidak beres, langsung diteruskan ke grup. Jangan sampai anggota lain terjerat masalah. “Kita antisipasi kejadian yang nggak kita inginkan. Kita saling melindungi,” akunya.

Ke depan, MRC punya konsep bisnis legal. Yakni, mengajak seluruh anggota untuk mengantongi surat izin usaha perdagangan (SIUP). “Ada anggota yang sebagian sudah punya, ada yang belum. Target kita semua usaha anggota MRC legal,” katanya.

Anggota MRC asal Muntilan Dariyoto merasakan, manfaat setelah dirinya gabung di komunitas. Ia tidak lagi kebingungan memasang tarif sewa mobil dan mendapat banyak pengalaman menarik, khususnya dalam manajemen usaha. (put/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya