alexametrics

Selama Tiga Bulan Tidak Laku, Terpaksa Dijadikan Pupuk

Petani Bunga Krisan di Bandungan, Kabupaten Semarang selama Pandemi Covid-19

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Pandemi Covid-19 menjadi pukulan berat bagi para petani budidaya bunga krisan di Bandungan, Kabupaten Semarang. Selama tiga bulan, tidak ada penjualan sama sekali. Bahkan, bunga krisan yang tidak laku terpaksa dijadikan pupuk.

Udara dingin mulai menyelimuti kawasan Bandungan, tepatnya di Dusun Ngasem, Desa Jetis, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Selasa (29/9/2020). Terlihat seorang pria paro baya sedang menyiramkan bunga krisan di kebun miliknya dengan alat semprot. Dialah Wahyudi, petani bunga krisan. Dusun Ngasem sendiri merupakan salah satu sentra bunga krisan terbesar di wilayah Bandungan. Petani bunga krisan atau Chrysanthemum ini tergabung dalam Kelompok Tani Sri Rejeki.

Wahyudi mengaku pernah disekolahkan oleh Dinas Pertanian ke Lembang, Bandung untuk belajar cara budidaya bunga krisan. Saat itu, ia berangkat bersama dua petani lainnya, yakni Mulyanto dan Mardiman. Pria 60 tahun ini belajar budidaya bunga krisan selama sehari semalam. Begitu kembali dari Lembang, ia dan dua temannya mengajari warga yang tergabung dalam kelompok tani Sri Rejeki cara budidaya krisan dengan bermodal bibit dari dinas.

“Sekarang petani perintis bunga krisan tinggal saya. Mulyanto berdomisili di luar kota, sedangkan Mardiman sudah meninggal,” kata bapak dua anak ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Diakui, sebelum menanam bunga krisan, dulunya ia menanam bunga gladiol. Karena mendapat bantuan dari dinas untuk belajar ke Lembang, akhirnya ia beralih menanam krisan.

Baca juga:  David Charindra, ASN Ciptakan Lagu Sendiri, Rilis Single Keempat

Pria yang mengaku tidak tamat SD ini kemarin sempat mempraktikkan cara menanam bunga krisan kepada koran ini. Dimulai dari indukan dipetik kemudian sebagian daunnya dipotong. Selanjutnya bibit yang sudah dipotong dicelupkan dalam obat perangsang akar dan disemai selama 15 hari. Setelah tumbuh akar baru bibit siap ditanam. “ Ada yang dijadikan benih dan ada juga yang ditanam,” jelasnya didampingi sang istri, Karsini.

Pria yang menekuni krisan sejak 2005 ini mengaku, antara membudidayakan bunga krisan dan gladiol perawatannya sama saja. Namun lebih mudah membudidayakan bunga krisan, karena bunga gladiol membutuhkan lahan yang luas.

“Selain itu, setelah dipanen, tanah bekas bunga gladiol tidak dapat ditanami langsung, tapi harus diselingi tanaman lain terlebih dahulu. Karena hasilnya tidak akan bagus. Berbeda dengan krisan, yang sehabis panen langsung bisa ditanami lagi. Cukup dibajak, tanah sudah siap ditanami lagi,” katanya bersahutan dengan suara nyaring serangga jenis tonggeret.

Di antara petani di Dusun Ngasem, Wahyudi cukup disegani. Karena panen bunga krisan miliknya selalu di atas rata-rata yang masuk grade A. Hasil panen bunga krisan miliknya biasanya disetorkan ke pengepul yang masuk grade A. Ciri-ciri bunga krisan grade A, yakni tinggi batang minimal satu meter serta bunga cerah dan daun utuh. Di bawah kualitas itu, ada bunga krisan grade B dan grade C. Bunga krisan grade B memiliki tinggi kurang dari 50 cm, bunga cerah dan daun utuh. Sedangkan grade C memiliki daun rusak, warna bunga kurang cerah, dan batang kurang kaku. Bunga krisan grade B dan C ini biasanya dibawa ke Pasar Bandungan.

Baca juga:  Ciptakan Cairan Enzim untuk Meningkatkan Produksi Sayur

Wahyudi mengaku, ketika petani lain kekurangan bibit, ia sering memberikan bibit miliknya jika kebutuhannya sudah tercukupi. Di pasaran, satu bibit krisan siap tanam dihargai Rp 150. “Saat awal menanam krisan, benih didapat dari kelompok tani. Tapi, seiring berjalannya waktu, banyak warga yang juga menjadi petani bunga. Dari situ, saya berinisiatif untuk membuat benih krisan sendiri. Sisa bibit biasanya saya diberikan kepada teman sesama petani yang masih kekurangan,” paparnya.

Untuk perawatan bunga krisan, menurut Wahyudi, relatif lebih mudah. Setiap seminggu sekali dilakukan penyemprotan obat khusus dan diselingi penyemprotan obat untuk hama. Hama yang biasanya menyerang, di antaranya ulat dan tengu. “Sebenarnya tidak ada perawatan khusus, tapi saya membuat bibit dan obat perangsang sendiri. Berbeda dengan petani lain yang kebanyakan membeli obat perangsang dari toko,” katanya.

Ditambahkan, dua bulan pertama, bunga krisan harus diberikan cahaya lampu selama 4 jam di malam hari. Hal ini karena bunga krisan membutuhkan cahaya selama 16 jam. Sedangkan di Indonesia, matahari bersinar kurang lebih selama 12 jam saja.

Baca juga:  Miniatur Truk Oleng Banyak Dicari, Harga Capai Rp 400 Ribu

Ayah dua anak ini hanya menanam bunga krisan warna putih, ungu, dan kuning. “Yang paling laku di pasaran bunga krisan warna kuning dan putih. Kebanyaan saya menanam dua warna itu untuk menghindari turunnya harga,” jelasnya.

Ia menjelaskan, harga bunga krisan saat ini kisaran Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu per ikat. Untuk harga normal kisaran Rp 7.500 per ikat. Saat langka, harga bisa melambung hingga Rp 30 ribu per ikatnya. Itu pernah terjadi pada Desember 2019 silam. Namun saat pandemi Covid-19 kali ini, hampir tiga bulan tidak ada yang membeli bunga krisan miliknya. “Seikat dihargai seribu pun tidak ada yang mau beli,” ujarnya sedih.

Diakui selama 20 tahun menggeluti bunga krisan, ia mengalami kerugian besar baru saat wabah pandemi Covid-19 ini. Karena selama tiga bulan sama sekali tidak ada pembeli. “Alhamdulillah sekarang harga sudah mulai kembali stabil. Pengiriman bunga keluar kota pun sudah mulai ramai,” katanya.

Saat bunga krisan miliknya tidak laku, Wahyudi tidak menyerah dengan keadaan. Ia pun memanfaatkan bunga krisan yang tidak laku itu untuk dijadikan pupuk. “Terpaksa bunga krisan yang membusuk dibuat pupuk kompos,” ujarnya.

Selain itu, kebun krisan miliknya juga dijadikan objek wisata dengan nama Setiya Aji Flower Farm yang diresmikan Bupati Semarang Mundjirin. (mg12/mg10/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya