alexametrics

Membina Sekolah Tertinggal, Membuka Perpustakaan Desa

Lebih Dekat dengan Komunitas Laskar Peduli Anak Negeri (Laspan) Salatiga

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Sejumlah mahasiswa IAIN Salatiga tergabung dalam Komunitas Laskar Peduli Anak Negeri (Laspan). Mereka mencari sekolah di daerah tertinggal untuk dijadikan sebagai sekolah binaan.

Siang itu matahari begitu terik. Terlihat anak-anak sedang bermain di depan rumah baca Griyo Pinter Laskar Peduli Anak Negri (Laspan). Rumah yang berada di Singojayan, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga ini digunakan sebagai markas sekaligus rumah baca oleh Laspan. Ketika Jawa Pos Radar Semarang masuk ke dalam rumah berwarna putih itu, terlihat rak berisi buku tertata rapi di sudut ruangan. Ya, ini adalah hasil dari kerja keras komunitas Laspan. Laspan merupakan komunitas yang berdiri pada 11 November 2016. Komunitas ini bergerak di bidang sosial dan pendidikan.

Berawal dari keresahan tiga mahasiswa IAIN Salatiga, yaitu Muhammad Darojat Bayu Adi Nugroho, Angga Saputra, dan Amrin Asrui. Mereka merasa ada kesenjangan pendidikan di perkotaan dengan pedesaan. Pendidikan di pedesaan jauh dari kata layak. Seperti sarana prasaraan yang kurang memadai, kurangnya tenaga pendidikan dan lain sebagainya. Sehingga komunitas ini melakukan gerakan untuk kemajuan pendidikan di daerah tertinggal.

Baca juga:  Asyiknya Belajar Bahasa Inggris di Perpustakaan

Dari tiga pemuda tersebut bertambah menjadi tujuh orang, yakni Ninik Eri Yunita, Eka Wahyu Budiyati, Arum Faida dan Nur Khamidah. Maka terbentuklah nama Lapan. Namun karena nama Lapan sudah ada lebih dulu, lalu diubah menjadi Laspan. Dengan bertambahnya anggota tersebut, mereka melakukan survei untuk mencari sekolah yang memiliki keterbatasan. Awalnya, hanya MI Darussalam Lembu, Bancak, Kabupaten Semarang.

Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya anggota, maka bertambah pula sekolah binaannya, yaitu MI Pitoro Jambu, dan MI Miftakhul Huda Banjari. Selain membina sekolah, Laspan juga membantu siswa yang kurang mampu seperti halnya membelikan perlengkapan sekolah dan uang jajan.

“Saat ini, ada dua siswa yang kami bantu, satu siswa SMA dan satunya masih SMP,” ujar Jarkominfo Laspan, Ridwan Maulana, kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Sebelum mempunyai markas, komunitas ini biasa berkumpul di kantin kampus ataupun taman-taman terdekat. Namun, karena banyak anggota baru dari luar kampus IAIN Salatiga, seperti Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) dan lainnya. Akhirnya ada salah satu anggota bernama Muhammad Lutfi Ansori yang meminjamkan rumah kosong miliknya sebagai markas sekaligus sebagai tempat untuk rumah baca yang diberi nama Griyo Pinter Laspan pada 2017. Rumah ini diresmikan pada 2018 oleh anggota Komunitas Laspan dan warga sekitar.

Baca juga:  Pengelola Perpustakaan Desa Juga Harus Melek Teknologi

Komunitas yang berdiri sejak 2016 ini mendapatkan buku dari anggota dan donasi orang di luar komunitas. Laspan lalu membuka perpustakaan di desa. Berjalan selama kurang lebih empat tahun, banyak proker yang sudah terorganisasi dan terlaksana dengan baik.

“Setiap Sabtu, kami selalu pergi ke sekolah untuk memberikan materi kepada anak-anak,” tuturnya.

Selain itu, mahasiswa semester tujuh IAIN Salatiga tersebut juga mengaku ada proker moco sambil dodolan. Kemudian mereka juga melakukan kerja sama dengan Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) Salatiga, komunitas lain, dan juga Perpustakaan dan Arsip Daerah (Persipda) Salatiga. Dengan Persipda Salatiga dilakukan kerja sama, yaitu dipinjami 200 buku yang setiap tiga bulan sekali akan di-rolling. Namun, karena adanya pandemi Covid-19, hal itu belum terlaksana.

Ridwan mengaku, banyak kendala yang dialami oleh Laspan seperti jam kuliah yang sering berbentrokan dengan proker Laspan. Ketika akan pengabdian ke sekolah terkendala tidak adanya kendaraan. Selama pandemi Covid-19, proker banyak yang tidak terlaksana. Anggota banyak yang pulang kampung. Sehingga terkendala jarak untuk berkumpul dan melakukan kegiatan sepert biasa.

Baca juga:  Desain Baju Batik Disesuaikan Daya Beli Masyarakat

“Selama Covid-19 ini, kami membuka Griyo Pinter Laspan seminggu hanya tiga kali, itupun dari jam 9 sampai 12,” tuturnya.

Warga sekitar merasa senang dan terbantu dengan adanya Griyo Pinter Laspan ini. Sejak ditetapkannya pembelajaran daring, orang tua tidak perlu susah-susah untuk mengajari anak mereka belajar, karena anak-anak sudah belajar di Griyo Pinter Laspan.

“Saya sangat terbantu semenjak adanya Griyo Pinter Laspan di sini, tugas rumah anak-anak bisa mereka kerjakan barsama teman-teman mereka di sini, orang tuapun dapat fokus dengan pekerjaan mereka sendiri,” ujar Romi Yulianto, warga sekitar.

Harapan ke depan setelah Covid-19, Laspan akan menambah sekolah binaan, adanya bantuan dari pemerintah untuk penambahan koleksi buku ataupun mobil pintar, sehingga mereka juga bisa mengadakan perpustakaan keliling. “Menambah komunitas di daerah lain agar Laspan dapat menyeluruh ada di daerah-daerah tertinggal,” harapnya. (mg12/mg13/mg14/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya