alexametrics

Dikira Gersang dan Panas, Ternyata Banyak Pohon Rimbun

Bripka Muhammad Nur Arifin, Anggota Pasukan Perdamaian PBB di Afrika Tengah

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Pandemi Covid-19 tak menyurutkan niat Bripka Muhammad Nur Arifin, 35, mengawal perdamaian dunia. Ia terpilih bersama dua anggota Polres Batang lainnya bergabung dalam pasukan perdamaian PBB di Republik Afrika Tengah.

Proses tidak membohongi hasil. Begitu kiranya perjuangan keras yang telah dilalui Bripka Muhammad Nur Arifin. Adanya pandemi Covid-19 tak menghalangi niat tulus pria religius tersebut bergabung dalam pasukan perdamaian PBB.

Kepada Jawa Pos Radar Semarang, Muhammad Nur Arifin mengaku mengikuti seleksi jauh-jauh hari sebelum pandemi. Perjuangannya dimulai saat pembukaan pendaftaran pada Februari 2019. Saat itu terbit surat telegram tentang seleksi anggota peacekeeper PBB. Ia mendaftar bersama dua rekannya, yakni Briptu Gondomono, 26, anggota Unit Propam Polres Batang, dan Bripka Dodi Handoko, 34, anggota Bhabinkamtibmas Polsek Limpung.

Pada April 2019, turunlah panggilan seleksi. Seleksi berjalan sangat ketat dan keras. Mulai dari fisik, menembak, mengemudi, kesehatan, kesamaptaan, psikologi dan kompetensi bidang. Tak ketinggalan penilaian kemampuan bahasa asing, yakni bahasa Inggris dan Perancis.

Baca juga:  Sekarang mulai Jengkel, Alur Ceritanya Bertele-tele

Sekitar empat bulan kemudian atau Agustus 2019, hasil seleksi diumumkan, dan ia dan dua temannya dinyatakan lolos. Staf Bag Ops Polres Batang ini pun berhak mengikuti latihan pra penugasan atau Lat Pra Gas.

“Alhamdulillah saya bersama kedua rekan saya diterima. Tapi, kami menjalani misi di negara yang berbeda. Saya di Minusca, sedangkan dua rekan saya di Unamid,” katanya saat dihubungi Jawa Pos Radar Semarang via pesan WhatsApp, Senin (21/9).

Arifin –sapaan akrabnya– tergabung dalam Peleton Charlie bersama 140 personel dari berbagai daerah. Warga Dracik, Kelurahan Proyonanggan, Kecamatan Batang ini bertugas sebagai Staf Food and Beverage. Ia berangkat pada 4 September 2020 lalu. Beruntung, pandemi Covid-19 di Minusca tidak berdampak banyak terhadap tugasnya.

Menurutnya, penyebaran Covid-19 di Indonesia jauh lebih banyak. Ia pun paham konsekuensi yang akan dihadapi selama menjadi peacekeeper di tengah pandemi. “Kesan tiba di sini (Minusca) kali pertama, saya sangat senang sekaligus agak heran ternyata tidak seperti yang saya bayangkan, saya lihat iklimnya sama persis seperti di Indonesia, iklim tropis,” ujarnya.

Baca juga:  Masih Optimistis Media Cetak Tetap Dibutuhkan Masyarakat

Bayangannya dulu, kata dia, Afrika itu panas, dipenuhi dataran gersang dengan bentangan padang pasirnya. Namun kenyataannya berbalik 180 derajat. Pepohonan ternyata tumbuh rimbun. Arifin sudah dua minggu meninggalkan istri dan ketiga anaknya bertugas menjaga perdamaian.

Kelompoknya bertanggungjawab atas perlindungan warga sipil dari konflik yang terjadi. Membantu otoritas Republik Afrika Tengah untuk mempersiapkan dan mengelola pemilihan presiden, legislatif, dan pemilihan kepala daerah pada 2020 dan 2021. Tugas yang diembannya akan dilakukan selama satu tahun. Pasukan perdamaian PBB ini memfasilitasi terciptanya lingkungan aman, guna pendistribusian bantuan kemanusiaan.

“Masyarakat sini sangat senang dengan keberadaan peacekeeper dari Formed Police Unit (FPU) Indonesia, menurut mereka orang Indonesia ramah-ramah,” ujarnya.

Baca juga:  Pemkot Semarang Target Pendapatan PBB Rp 577 Miliar

Selain membawa nama Indonesia, ia juga memperkenalkan budaya-budaya lokal. Bersamaan dengan tugas berat perlindungan personel dan aset-aset PBB. Tentunya menjadi kebanggaan tersendiri bisa bergabung dengan pasukan PBB. Menjalankan misi internasional membawa nama baik bangsa Indonesia.

Di tengah kepungan pandemi, ia berharap bisa menjalankan misi dengan lancar. Covid-19 tidak menjadi halangan, melainkan sebagai tantangan yang harus dihadapi sampai akhir misi dan kembali lagi ke Indonesia.

Suami dari Fatimah itu termotivasi rekan-rekannya yang telah sukses. Menjalani misi PPB di area konflik. Suatu kebanggaan tersendiri bisa bergabung dengan peacekeeper dan bertugas di kancah internasional. “Alhamdulillah keluarga mendukung pelaksanaan tugas di sini, terutama doa kedua orang tua, juga istri dan anak-anak sangat penting bagi setiap personel peacekeeper yang bertugas di sini,” katanya. (yan/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya