Gedung Jadi Kantor BKM, Buku Ada yang Dijual Loakan

Apa Kabar Rumah Baca “Pelangi” Rusunawa Bandarharjo, Semarang Utara?

208
TINGGAL KENANGAN: Rumah Baca Pelangi di Rusunawa Bandarharjo, Semarang Utara yang kini beralih menjadi sekretariat BKM. (KHAFIFAH ARINI PUTRI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TINGGAL KENANGAN: Rumah Baca Pelangi di Rusunawa Bandarharjo, Semarang Utara yang kini beralih menjadi sekretariat BKM. (KHAFIFAH ARINI PUTRI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, Dulu rumah baca Pelangi Rusunawa Bandarharjo menjadi percontohan rumah pintar di Kota Semarang. Bahkan banyak yang studi banding dalam pengelolaan ke rumah baca ini. Bagaimana kondisinya sekarang?

KHAFIFAH ARINI PUTRI-MAFTU KHATULLAILA, Radar Semarang

SIANG itu Rusunawa Bandarharjo tampak ramai. Suara warga bersahutan. Berpadu dengan suara mesin kendaraan yang lalu lalang di tengah permukiman padat penduduk tersebut. Di samping rumah susun sewa (rusunawa), berdiri bangunan bercat krem kombinasi hijau. Di luar tampak sejumlah sepeda motor terparkir.

Ya, bangunan itu dulunya adalah rumah baca Pelangi. Rumah baca itu diresmikan Pj Wali Kota Semarang Saman Kadarisman pada 15 Maret 2005. Jejaknya terlihat di prasasti batu marmer yang menempel di dinding bangunan. Tertulis rumah baca Pelangi yang dibangun oleh PT Jamsostek.

Saat koran ini masuk, ternyata aktivitas rumah baca sudah berganti. Sekarang bangunan itu menjadi sekretariat Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM). Sisa-sisa rumah baca hanya tampak dari dua rak buku di sisi kanan dan kiri tempat kerja pengelola BKM. Itu pun hanya terdapat puluhan buku yang tertata kurang rapi. Sepertinya buku-buku itu pun kurang terurus.

“Gedung ini sekarang sudah ditempati oleh BKM,” ujar Puji Hastuti, 51, bendahara BKM kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ya, rumah baca saat ini sekarang tinggal kenangan. Bahkan di dalam gedung itu juga terlihat material bangunan berserakan. Material itu rencananya akan dipakai membuat papan nama BKM, namun hingga kemarin belum selesai. Koran ini tidak bisa leluasa masuk ke dalam gedung. Karena tak mendapat izin dari pengelola BKM.

Menurut Eni Husnayati, 44, Ketua PKK Bandarharjo, sebagian bangunan eks rumah baca itu sekarang juga disekat pakai triplek dan dijadikan sebagai kontrakan.
“Ya, jadi kontrakan. Tapi tidak tahu aliran dananya masuk ke mana? Karena rumah baca pun tidak menerima uang tersebut,” kata wanita yang dulu menjadi sekretaris rumah baca Pelangi saat ditemui di rumahnya.

Mantan ketua rumah baca Pelangi Sumiyati mengaku, dulu dirinya yang mengurus rumah baca dan Pos PAUD yang menempati di satu gedung. Saat itu, suaminya, M Imron, masih menjabat Lurah Bandarharjo. Tapi, sejak suaminya diangkat menjadi Camat Tugu, praktis dirinya sudah tidak mengurusi rumah baca dan Pos PAUD di Bandarharjo tersebut. “Di Tugu, saya sekarang juga mengelola pos PAUD. Kebetulan kami mendapat bantuan,” ujarnya.

Sejak kepindahannya itu, rumah baca Pelangi mulai vakum hingga dua tahun terakhir. Gedungnya pun beralih menjadi sekretariat BKM.

Eni menambahkan, saat rapat, gedung tersebut awalnya akan digunakan sebagai kantor bersama. Yakni, sebagai kantor BKM, rumah baca, karang taruna dan PKBM atau Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat. Namun kenyataannya hanya dipakai kantor BKM dan sebagian dikontrakkan. Sedangkan rumah baca mengalami kevakuman. Bahkan, terkesan tak terurus. “Ke depan, rencana kami rumah baca akan kembali dibuka. Tempatnya menjadi satu dengan gedung PKBM,” katanya.

Wanita yang sehari-hari menjadi guru SMK 17 Agustus Semarang ini mengakui, saat ini banyak koleksi buku di rumah baca Pelangi yang hilang. Informasi yang didapat Eni, buku-buku itu banyak yang diloakkan oleh salah satu oknum pengurus BKM.

“Bukunya sekarang tinggal sedikit. Karena banyak yang dijual loakan oleh orang BKM. Sebenarnya eman, tapi bagaimana lagi, karena sekarang memang tidak ada yang fokus mengurusi,” ujarnya sedih.

Eni menambahkan, pemindahan rumah baca ke gedung PKBM ini juga agar memudahkan dalam pengelolaannya. Namun sejauh ini, lanjut dia, pemindahan rumah baca ini masih menunggu respon dari Lurah Bandarharjo. Selain itu, gedung PKBM itu juga masih belum jelas kepemilikannya. Pasalnya, hingga kini belum ada sertifikatnya sebagai aset pemkot. Hal ini membuat pengguna gedung itu tidak bisa mengurus perizinan maupun surat domisili. Termasuk jika rumah baca dipindah di gedung ini, akan kesulitan saat mengurus bantuan.

“Tapi, harapan kami dan juga warga sini rumah baca segera dipindahkan agar dapat beroperasi lagi. Karena dulu rumah baca ini ramai dikunjungi anak-anak yang ingin baca-baca buku. Kadang-kadang juga ada pelatihan menari, pranatacara, bimbingan belajar ataupun pelatihan keterampilan lainnya,” bebernya.

Tak hanya itu, kata Eni, rumah baca Pelangi dulu juga pernah mendapat bantuan mobil pintar. Namun kini aset mobil pintar itu mangkrak setelah dipinjam oleh LPMK Bandarharjo untuk kegiatan sosialisasi pemilu.

“Sekarang mobilnya ndongkrok lama dan tidak diperbaiki. Padahal itu dulu menjadi mobil pintar,” katanya menyayangkan. (*/aro)