Patung Didi Kempot Laku hingga Australia, Jepang, dan Amerika

Muhamad Zain Luthfi, Perajin Action Figure di Tengaran, Kabupaten Semarang

229
KREATIF : Muhamad Zain Luthfi menunjukkan berbagai macam patung action figure karyanya. (MAFTU KHATULLAILA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KREATIF : Muhamad Zain Luthfi menunjukkan berbagai macam patung action figure karyanya. (MAFTU KHATULLAILA/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, Berawal dari tantangan membuat wajah temannya, kini Muhamad Zain Luthfi memproduksi berbagai macam patung action figure. Bahkan, karyanya sudah laku terjual hingga mancanegara.

MAFTU KHATULLAILA
Radar Semarang

CUACA terasa begitu panas di Perumahan Tugu Asri, Tengaran, Kabupaten Semarang, siang itu (13/9). Wartawan Jawa Pos Radar Semarang langsung menuju rumah dua lantai berukuran 5×7 meter2 yang bangunannya belum sepenuhnya sempurna. Meski begitu, bangunan tersebut dipenuhi beragam action figure.

Ya, itulah bangunan yang akan disulap menjadi galeri action figure Zenth Luvy- sapaan akrab Muhamad Zain Luthfi. Masuk ke dalam ruang tamu, sudah disambut etalase kaca dua pintu setinggi 2 meter berisi ragam koleksi action figure. Begitupun, di depan pintu kamar, terdapat etalase berisi beragam anggota kartun marvel. “Ini beberapa contoh hasil dari pekerjaan saya,“ tutur lelaki 31 tahun itu.

Zenth duduk di kursi biru kecil milik anaknya yang masih semata wayang. Sambil menggengam handphone ia melakukan kilas balik hingga kini bisa menekuni action figure. Semua berawal dari tantangan teman karibnya. Yakni, membuat patung serupa temannya itu.

Bapak satu anak yang bekerja di pabrik patung ini, langsung membuktikan kemampuannya. Begitu kelar, ia tunjukkan hasil karyanya. Ternyata sang teman sangat menyukainya. “Itu apresiasi yang luar biasa yang memotivasi saya untuk terus membuat dan membuat karya yang lebih bagus lagi,” kata suami Alfi Fauzi ini.

Mulai dari situlah, ia berniat memulai usaha barunya. Awal Februari 2020, menjadi tonggak sejarah bisnis action figure Zenth. Jualan perdananya adalah miniatur wajah sang teman yang ia banderol Rp 600 ribu. Padahal, sekarang ini nilainya mencapai Rp 2 juta. “Harga perdana, harga promosi, saya sengaja jual murah,” katanya jujur.

Sejak itu, Zhent mulai mengikuti banyak grup di media sosial (medsos). Mulai dari Facebook, Twitter, Instagram maupun Youtube. Ia banyak bertukar pikiran dengan sesama pecinta action figure. Dari situ, ia menemukan teman sevisi yang bisa diajak kerja sama lebih jauh. Mulai dari menjahit miniatur baju, hingga saling membantu dalam pembuatan action figure.

Tak hanya itu, melalui medsos ia juga memasarkan hasil karyanya. Menariknya, para pembelinya justru 80 persen dari luar negeri. Konsumen dalam negeri kurang tertarik, karena merasa keberatan di harga. Dianggapnya terlalu mahal. “Konsumen mancanegara tidak terlalu riweh (mempersoalkan, Red) tentang harga maupun dalam proses jual beli,” tuturnya.

Cukup melihat foto hasil dari karya, konsumen luar negeri tanpa ba bi bu, jika merasa cocok langsung membeli dan mengirimkan uang. Meski harga yang dibanderol untuk satu action figure full satu badan Rp 5 juta-Rp 7 juta. Kalau hanya bagian wajah saja, Rp 2 juta. “Pembeli dari luar negeri lebih santai tidak terburu-buru, jadi enak ngerjain-nya,” katanya.

Saat ini, salah satu action figure cukup laris adalah sosok penyanyi campursari Didi Kempot. Patung penyanyi ambyar ini laku hingga Australia, Jepang, dan Amerika Serikat. “Saya membuat 20 patung Didi Kempot, dan sudah laku 17 buah sampai saat ini oleh pembeli dalam maupun luar negeri,”akunya.

Ia mengaku ngefans dengan almarhum Didi Kempot. Patung Didi Kempot buatannya dibanderol mulai Rp 2 juta. “Kalau dikirim ke luar negeri, biayanya sampai nyaris dua kali lipat,” paparnya.
Untuk pengerjaan action figure, diakuinya, bisa satu sampai tiga bulan, tergantung tingkat kesulitannya. Jika mengerjakan hanya bagian kepala, bisa satu bulan. Namun jika full satu badan, bisa menghabiskan waktu hingga tiga bulan. Ukuran yang biasanya dipakai pemesan memakai sekala 1:6 dan 1:12. Bahan yang digunakan berupa lilin, resin, cat dan cetakan. “Butuh lilin khusus membuat patung. Bahannya harus impor. Kalau pakai lilin biasa, susah. Begitu terkena panas, gampang meleleh,” tuturnya.

Selain itu, Zenth juga harus mengimpor aksesoris action figure. Kalau menjahit baju, bisa dilakukan oleh temannya di Jakarta. Meski begitu, ke depannya ia ingin bekerja sama dengan penjahit lokal di lingkungannya. Lebih untuk memudahkan mengontrol hasilnya. “Kalau pesannya jauh, susah kalau mau revisi. Kalau di daerah sini, lebih enak koordinasinya,“ ujar ayah Kaeiden Ziva ini.
Zenth berharap bisa mengembangkan bisnisnya, membangun galeri action figure sendiri. Ia sudah menyediakan bangunan 2 lantai yang masih dalam proses pembangunan. Ia juga sudah mendaftarkan alamat rumahnya di Google Maps dengan nama KAIZEN Custom Toys, nama brand yang ia pakai. (*/ida)