Nafisa Adelia, “Spiderman Cilik” Asal Kabupaten Pekalongan

Suka Panjat Pohon dan Merayap di Dinding Rumah

355
MERAYAP: Nafisa Adelia merayap di dinding rumahnya tanpa pengaman apapun. (NANANG RENDI AHMAD/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MERAYAP: Nafisa Adelia merayap di dinding rumahnya tanpa pengaman apapun. (NANANG RENDI AHMAD/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, Nafisa Adelia suka merayap dinding. Bocah 8 tahun ini beraksi dengan tangan kosong. Aksi bak Spiderman itu pun membikin geleng-geleng kepala orang yang melihatnya.

NANANG RENDI AHMAD, Pekalongan, Radar Semarang

Nafisa Adelia sedang bermain ketapel di kebun belakang rumahnya. Rumiyati, ibunya, memanggil dia ketika Jawa Pos Radar Semarang datang. Adelia berlari masuk ke rumah. Ia langsung beraksi. Sambil senyum-senyum.

“Ya, begitulah tingkah anak saya. Mirip anak laki-laki. Padahal di sekolah terkenal pendiam,” kata Rumiyati kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (8/9) siang.

Dinding yang Adelia panjat memang belum berlapis semen. Tingginya kira-kira tiga meter. Bocah kelas II SD ini merayap dengan cara mencengkeram sela-sela tumpukan batu bata dinding itu. Jari-jari kakinya juga bertumpu di sana. Mirip olahraga panjat tebing.

“Saya heran, cengkeraman jari-jari tangan dan kakinya kuat. Padahal sela-sela batu bata dinding itu sangat sempit,” ucap heran wanita 45 tahun itu sambil tergeleng-geleng.

Rumiyati menceritakan, sejak usia dua tahun, anak semata wayangnya itu sudah suka memanjat lemari dan saka (tiang) rumah. Sementara merayap di dinding, baru Adelia lakukan sebulan terakhir. Bocah ini juga suka memanjat pohon sekitar rumahnya.

Ia sebenarnya khawatir Adelia terjatuh atau cedera. Tetapi jika ia larang, Adelia makin nekat. “Sekarang saya sudah terbiasa dengan aksinya. Saya biarkan, tapi saya awasi,” ujarnya.

Adelia mengulangi aksinya hingga beberapa kali selama Jawa Pos Radar Semarang di rumahnya, Dusun Rembundukuh, Desa Tengeng Kulon, Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan. Setiap beraksi, Adelia mengakhiri dengan bergelantung di kayu kerangka atap rumah lalu terjun. Rumiyati dan suaminya, Rozikin, 35, sengaja memindah kasur ke ruang tengah sebagai tempat mendaratnya Adelia.

“Tidak langsung turun. Dia selalu bergelantung di kayu itu terlebih dahulu lalu terjun ke bawah,” ungkap Rozikin.

Keluarga ini sebenarnya masih tercatat sebagai warga Desa Tengeng Wetan. Mereka pindah ke Tengeng Kulon.

Kepala Desa Tengeng Wetan Rokhmat penasaran dengan Adelia. Awalnya ia tak percaya. Begitu melihat, Rokhmat tergeleng-geleng. Ia merekam aksi Adelia menggunakan ponsel.

“Saya baru kali ini melihat. Tak ada yang memberi kabar ada mantan warga saya yang punya kemampuan begini,” katanya.

Kepala Dusun Rembundukuh Budiyanto lebih terheran-heran. Pasalnya, ia tak mengetahui Adelia bisa merayap dinding bak Spiderman. Padahal rumah Budiyanto tepat di depan rumah Adelia.

“Saya tak pernah mendapati dia bisa merayap di dinding seperti itu. Kalau dia suka berlari-lari dan memanjat pohon saya sering melihat. Yang ini saya baru tahu,” ucapnya sambil mendokumentasikan aksi Adelia.

Sementara Adelia mengaku tak pernah takut saat beraksi. Ia juga tak pernah merasakan sakit di jari-jari kaki dan tangannya.

“Aku suka naik dinding. Enak. Nggak sakit. Tapi dulu sering dimarahi Mamak (ibu),” kata Adelia polos.

Pemerintah Desa Tengeng Kulon dan Tengeng Wetan berencana mengajukan fasilitas pembinaan untuk Adelia ke Pemerintah Kabupaten Pekalongan.

Menurut dia, Adelia berpotensi menjadi atlet panjat tebing profesional. Namun mereka juga mengimbau Rumiyati dan Rozikin terus mengawasi Adelia. Meski sudah menjadi hal biasa, merayap dinding tetap tergolong berbahaya untuk anak seusia Adelia.

Alih-alih mengiyakan niat baik Pemerintah Desa Tengeng Kulon dan Tengeng Wetan, Adelia dengan tegas menjawab tak mau menjadi atlet panjat tebing. Ia justru bercita-cita menjadi polisi, koki, atau penari.

“Mau jadi polisi biar bisa menangkap penjahat. Mau jadi koki biar masak yang enak-enak, dan mau jadi penari balet,” sahut Adelia. (*/aro)