Tampil Open Mic di Kafe hingga Berkolaborasi dengan Musik Keroncong

Lebih Dekat dengan Komunitas Stand Up Comedy Demak

297
LATIH MENTAL: Raden Giovannie Faisal Pratama saat tampil di Komunitas Stand Up Comedy Demak. (DOKUMEN PRIBADI)
LATIH MENTAL: Raden Giovannie Faisal Pratama saat tampil di Komunitas Stand Up Comedy Demak. (DOKUMEN PRIBADI)

RADARSEMARANG.ID, Lawakan tunggal atau komedi tunggal ternyata juga berkembang di Kota Demak. Mereka tergabung dalam Komunitas Stand Up Comedy Demak. Seperti apa?

RIFQI HINDAMI, Demak, Radar Semarang

Komunitas Stand Up Comedy Demak terbentuk secara tak sengaja. Berawal dari keisengan Raden Giovannie Faisal Pratama membuat jokes di Twitter. Saat itu, Gentong -sapaan akrabnya- bersama adik kelasnya, Gaceng – sapaan akrabnya- kerap saling lempar guyonan di Twitter. Dari situ, keduanya memberanikan diri untuk membawa nama Demak ke cakupan yang lebih luas melalui sebuah komunitas. Dengan bantuan beberapa anggota komunitas lain, seperti Stand Up Comedy Kudus, Semarang, Ungaran dan lainnya, akhirnya terbentuk Komunitas Stand Up Comedy Demak.

“Resminya, Komunitas Stand Up Comedy berdiri pada 15 Oktober 2015,” kata Raden Giovannie Faisal Pratama kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dikatakan, pada awal berdiri, Komunitas Stand Up Comedy Demak beranggotakan 20 sampai 30 orang. Dibentuknya komunitas ini, kata dia, sebagai wadah bagi warga Demak yang memiliki kesukaan terhadap stand up comedy, sekaligus sebuah terobosan baru dunia hiburan di di Kota Wali.

“Dulu sebenarnya bosan sama suguhan-suguhan hiburan selama ini, kayak dangdut muluk. Akhirnya, pengin tuh sama temen-temen bikin hiburan baru dengan stand up ini,” ujar pria yang juga menjadi Ketua Komunitas Stand Up Comedy Demak ini.

Sejak ada komunitas ini, para anggota mendapatkan banyak pengalaman pada saat pelatihan atau bedah materi stand up yang diagendakan rutin. Tidak hanya itu, ada juga pelatihan open mic sebagai pelatihan mental dan pembawaan materi stand up ketika bicara di depan banyak orang.

“Aku sedikit terbantu dengan adanya komunitas ini, apalagi aku kuliah jurusan ilmu komunikasi. Stand up ini membantu aku buat latihan public speaking,” ujar anggota Komunitas Stand Up Comedy Demak, Tama.

Menurut Raden Giovannie, Komunitas Stand Up Comedy Demak juga sering mengadakan gathering dengan komunitas-komunitas lain yang ada di Kota Demak. Seperti Komunitas Musik Keroncong Demak. Mereka bahkan pernah berkolaborasi untuk menjadi bintang tamu di salah satu coffe shop di Kota Wali.

“Kami sih sering srawung-srawung sama komunitas seni lain, kayak keroncong atau Guyub Musisi Demak dan lainnya. Kolaborasi enak aja gitu, soalnya menurutku sama-sama seni sih, stand up kan juga seni berbicara,” tutur mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang ini.

Dari pemikiran itulah, pada akhirnya Komunitas Stand Up Comedy Demak ini lebih dekat dengan komunitas-komunitas seni lainnya. Tak jarang anggota komunitas ini juga tampil di acara-acara yang digelar di kampus dan instansi pemerintahan.

“Saat Hari Literasi Internasional, saya diundang Dinas Pendidikan buat tampil di Pendopo Kabupaten. Seneng banget sih soalnya yang nonton jajaran pemerintah Kabupaten Demak,” akunya.

Saat ini, lanjut dia, Komunitas Stand Up Comedy Demak fokus ke agenda project show untuk menambah solidaritas antaranggota. Mereka bertekad untuk bisa mendatangkan komika nasional dan bisa sepanggung untuk stand up bersama. (*/aro)